INTIM
Seksolog Zoya Amirin: Seks edukasi itu bukan tutorial hubungan intim
“Saya semakin mendapatkan pencerahan, ternyata di bidang ini peluang kariernya juga keren. Tapi yang pertama saya lihat bukan itu, melainkan saya melihat ada banyak keterbukaan soal seksualitas.”

Cucun Hendriana
Jumat, 29 November 2019 - 21:43 WIB

Elshinta.com - Zoya Dianaesthika Amirin nama lengkapnya. Wanita kelahiran Jakarta, 07 September 1975 ini merupakan psikolog wanita yang mendalami ilmu seksologi. Jebolan Psikologi Klinis Dewasa UI ini sejak awal memang memiliki ketertarikan dengan bidang psikologi seksual.

Zoya yang ditemui redaksi Elshinta.com di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Kamis (21/11) blak-blakan ihwal ketertarikannya dengan dunia seksologi. “Jadi rencana saya dari awal ingin jadi psikolog. Nah, di pertengahan kuliah saya ikut mata kuliah perilaku seksual. Di situ semua pertanyaan kecil saya terkait seks dan cinta relatif banyak terjawab. Soal seks edukasi, info yang didapat kan hanya dari ibu. Tapi ternyata banyak orang tua yang sama sekali tidak pernah bicarakan seks edukasi ke anak-anaknya,” ungkap Zoya.

Atas saran Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Zoya pun masuk Psikologis Klinis Dewasa UI. Hal itu seiring dengan skripsinya mengenai Konsep Kesetiaan dan Perilaku Seksual. “Ternyata perilaku seksual itu banyak banget. Bikin sakit kepala. Yang saya tahu mengenai seksual itu kecil sekali, sebab kenyataannya sangat banyak.”

Dalam perjalanannya sebagai psikolog seksual, ia berkenalan dengan Prof. Wimpie Pangkahila, seorang Guru Besar dari Departemen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali.

“Saya semakin mendapatkan pencerahan, ternyata di bidang ini peluang kariernya juga keren. Tapi yang pertama saya lihat bukan itu, melainkan saya melihat ada banyak keterbukaan soal seksualitas.”

Termasuk di keluarga, Zoya terlahir dari keluarga yang terbuka. Dirinya dan keluarga besarnya  terbiasa ngobrol soal percintaan dengan sang ibu. Ia juga melihat jika rumah tangga ibu dan ayahnya penuh dengan cinta.

“Ayah saya Jawa, ibu Belanda-Manado. Ada berantemnya sih, tapi kembali akur. Yang satu senangnya sosialisasi, yang satunya senang di rumah saja. Semua ini saya pelajari tahap demi tahap saat saya jadi seksolog,” ucap Zoya yang studi seksologi di Universitas Udayana. “Saya ambil advance untuk jadi seksolog. Lalu praktik di RSAL Mintohardjo dibawah bimbingan Dr Pram, yang membantu proses saya jadi seksolog,” sambungnya.

Zoya Amirin pun tercatat menjadi salah satu perempuan seksolog klinis pertama di Indonesia. “Saya terus konsisten di bidang ini hingga hari ini. Ternyata seksologi itu bukan hanya soal seks tapi kita juga harus memahami tentang cinta. Saya pernah jatuh cinta, pernah patah hati juga.”

Cara Zoya untuk mengobati patah hatinya adalah dengan studi tentang cinta. “Jatuh cinta, patah hati itu bagian dari relationship yang sehat. Dengan patah hati yang dialami, saya semakin peka dalam proses saya jadi seksolog,” sahutnya.

Diakuinya, ada banyak faktor yang memengaruhi sebuah pernikahan bisa gagal dan berhasil. Dia membaginya pada dua faktor: dinamis dan statis. Yang dinamis, misalnya, bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang turut memengaruhi keawetan berumah tangga. Faktor dinamis lainnya, jauhnya kapasitas intelektual dan penghasilan istri lebih besar dari suami. Sementara faktor statis seperti perbedaan usia yang terlalu jauh dan perbedaan agama.

Sebagai seksolog, dirinya banyak menerima keluhan dari para kliennya. Masalah rumah tangga dengan peringkat tertinggi umumnya soal perselingkuhan dan seks.

Zoya juga mengingatkan pentingnya seks edukasi bagi anak-anak. Mengenai edukasi ini malah harusnya diberikan sejak usia 3 tahun, saat anak sudah memahami perbedaan gender. “Seks edukasi itu bukanlah tutorial hubungan intim. Tapi anak harus dikasih tahu, jika sudah baligh yang ditandai dengan mimpi basah (laki-laki) dan menstruasi (perempuan), artinya mereka sudah bisa hamil dan menghamili. Itu basic yang harus diketahui.”

Seks edukasi gunanya memberitahu mengenai tugas perkembangan psikoseksual sesuai usia biologisnya. Masing-masing usia memiliki peran psikoseksual sendiri.

Dia menceritakan sebuah kasus yang pernah ditanganinya. “Ini sungguh miris. Saya pernah tangani kasus, ada anak usia 12 tahun yang tidak tahu kenapa dirinya bisa hamil. Ternyata, dia diperkosa oleh seseorang berusia 60 tahun, tapi dia tak tahu bahwa itu perkosaan. Peristiwa ini seharusnya menyadarkan kita kalau seks edukasi itu sangat penting.”

Zoya juga menyoroti soal banyaknya kelainan seksual (paraphilia) yang terjadi di kalangan masyarakat. Pedofilia salah satunya, dimana para pelaku memiliki fantasi, ketertarikan dengan anak di bawah usia 13 tahun.  

Lalu ada froteurisme, yakni pelaku mendapat kepuasan seksual dengan menggesekkan kelamin pada tubuh orang yang tak dikenal. Dalam kebanyakan kasus, pelaku terdorong untuk melakukannya di tempat umum yang penuh sesak seperti bus atau kereta.

Ada pula voyeurism, dimana pelaku mendapat kepuasan seksual dengan mengintip orang lain yang sedang mandi, ganti pakaian, tanpa busana, atau beraktivitas seksual.

Yang menghebohkan baru-baru ini seperti kasus pelemparan sperma di Tasikmalaya yang masuk dalam kategori ekshibisionisme. “Ekshibisionisme itu akan merasa terangsang ketika memamerkan kelaminnya. Rasa terangsang itu didapatkan dari jeritan targetnya.”

Kepada para remaja dan pasutri, Zoya menyarankan untuk memiliki seks positif. Artinya, jangan langsung menghakimi bahwa bicara seks adalah sesuatu yang negatif. “Dengarkan dulu, ambil mana yang paling sesuai. Budayakan seks positif, sebab itu jadi bagian dari diri kita. Sebagai manusia normal kita pun akan jatuh cinta,” demikian Zoya.