Gen Neanderthal Bisa Tingkatkan Risiko Gejala Parah COVID-19
Elshinta
Kamis, 15 Oktober 2020 - 13:55 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Gen Neanderthal Bisa Tingkatkan Risiko Gejala Parah COVID-19
DW.com - Gen Neanderthal Bisa Tingkatkan Risiko Gejala Parah COVID-19

Faktor risiko besar untuk mengalami gejala sakit parah COVID-19 adalah klaster gen yang diwarisi dari manusia purba Neanderthal. Demikian laporan ilmuwan dari lembaga penelitian Jerman, Max Planck Institute di Leipzig.

“Probabilitas bagi orang yang mewarisi variasi gen tersebut harus menjalani diterapi dengan alat bantu pernafasan ventilator, jika mereka terinfeksi virus corona Sars-CoV-2, tiga kali lipat lebih tinggi“, kata Hugo Zeberg, pakar antropologi evolusi di institut penelitian Jerman itu.

Risiko sakit parah dan perlu perawatan intensif terkait klaster gen manusia purba Neanderthal, mirip dengan faktor risiko lain seperti usia lanjut atau orang dengan riwayat penyakit kronis.

Diwariskan ribuan generasi

Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature itu, membandingkan klaster gen manusia purba Neanderthal dengan klaster gen manusia purba Denisovans. Peneliti menandai, bahwa sekuens DNA yang memicu parahnya Covid-19 tersebut, sangat mirip dengan sekuens gen Neanderthal dari Kroasia yang berumur 50.000 tahun.

Manusia purba Neanderthal musnah sekitar 30.000 tahun lalu. Sementara manusia purba Denisovans musnah sekitar 10.000 tahun silam. Saat masih eksis, ras manusia purba itu sempat berbagi habitat dengan manusia modern di kawasan luas di Eropa dan Asia.

“Ras manusia modern mewarisi variasi genetika Neanderthal tersebut, ketika terjadi kawin silang antara kedua ras manusia itu mulai sekitar 60.000 ribu tahun lalu“, kata Zeberg.

Kawin silang antara ras manusia modern dan Neanderthal terjadi pada berbagai poin sejarah, yang memicu pertukaran material genetika. Para ilmuwan masih bisa melihat dan melacak jejak pertukaran material DNA ini pada manusia modern saat ini.

Faktor pemicu komplikasi belum diketahui

Sejauh ini Hugo Zeberg dan ilmuwan mitranya pakar paleogenetika Swedia, Svante Pääbo, belum berhasil mengidentifikasi mengapa klaster gen yang khas ini menyebabkan komplikasi pada pasien Covid-19.

“Sangat mencemaskan karena warisan genetika dari Neanderthal bisa menyebabkan konsekuensi tragis dalam pandemi saat ini“, ujar Pääbo. Pakar paleogentik itu juga menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut terkait hal ini.

Penelitian menujukkan, sebaran klaster gen Neanderthal itu juga sangat beragam tergantung dari kawasan geografisnya. Sekitar separuh populasi di Asia Selatan, terutama di Bangladesh mewarisi variasi genetika ini. Di Eropa, ada sekitar 16% yang mewarisi klaster gen Neanderthal. Sementara orang di Afrika dan Asia Timur nyaris tidak ada yang mewarisi variasi gennya.
as/gtp (AP, dpa,afp,Reuters)



Pewaris gen Neanderthal hadapi risiko gejala parah COVID-19. Orang yang punya klaster genetik ini, punya risiko tiga kali lipat untuk perlu dibantu ventilator. Sebuah riset terbaru di Jerman menunjukkan hal tersebut.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
Phillis Wheatley Merdeka dari Perbudakan Berkat Kepiawaian Berpuisi
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Anak perempuan berkulit hitam itu usianya diperkirakan baru sekitar tujuh atau delapan tahun ketika ...
Cuci Tangan Sebagai Ritual Keagamaan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Dalam masa pandemi Covid-19, mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh merupakan salah satu langk...
Ilmuwan: Hutan Yang Asri Adalah Solusi Atasi Kemiskinan 
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Satu dari sepuluh orang di dunia hidup di dalam kemiskinan ekstrim. Nasib mereka kian runyam selama ...
Purnawirawan dan Candu Kekuasaan: Catatan Atas Manuver Gatot Nurmantyo
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Gatot Nurmantyo (Akmil 1982) terus berikhtiar mencari jalan menuju kekuasaan. Segala cara dia tempuh...
Tajuk: Dialog Antaragama Semakin Relevan
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:19 WIB
Ironisnya justru Arab Saudi, negeri yang mengabaikan hak sipil, membatasi kebebasan beragama dan ber...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV