Kiri Kanan
Staf khusus Presiden Jokowi dari usia milenial: Cerminkan politik akomodatif dan membuat lembaga kepresidenan semakin tambun
Elshinta
Rabu, 27 November 2019 - 08:44 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Staf khusus Presiden Jokowi dari usia milenial: Cerminkan politik akomodatif dan membuat lembaga kepresidenan semakin tambun
BBC Indonesia - Staf khusus Presiden Jokowi dari usia milenial: Cerminkan politik akomodatif dan membuat lembaga kepresidenan semakin tambun

Keputusan Presiden Joko Widodo untuk menambah jumlah staf khusus menjadi 13 dengan memasukkan tujuh milenial merupakan cermin langkah politik akomodatif, menurut pengamat politik Universitas Indonesia Cecep Hidayat.

Cecep mengatakan, dalam proses pembuatan kabinet, Jokowi relatif tidak otonom dan terlihat mengakomodir semua kepentingan dari partai koalisi pendukung, para relawan, hingga mantan lawan politiknya.

Semua kepentingan itu, lanjut Cecep tercermin dalam penunjukan posisi menteri, wakil menteri, staf khusus di Kantor Staf Presiden hingga staf khusus presiden, termasuk penunjukkan terbaru staf khusus milenial yang terdiri dari tujuh orang.

"Jokowi ini sudah mengakomodasi banyak kelompok. Akhirnya lembaga kepresidenan yang ada gemuk, tambun bahkan obesitas. Akhirnya corong atau artikulasi saluran untuk memberikan input ke presiden terlalu banyak yang harus diperhatikan presiden," kata Cecep saat dihubungi BBC News Indonesia, Jumat (22/11).

Di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (21/11), Jokowi mengumumkan tujuh staf khusus baru dari kalangan milenial. Mereka adalah pendiri Creativepreneur Putri Tanjung, pendiri Ruangguru Adamas Belva Syah Devara, perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewa, pendiri ThisAble Enterprise Angki Yudistia, direktur PT Papua Muda Inspiratif Billy Mambrasar, mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Indonesia Aminuddin Maruf dan pemimpin PT Amartha Mikro Fintech Andi Taufan Garuda Putra.

Di antara staf khusus milenial, Putri Indahsari Tanjung, putri pengusaha Chairul Tanjung, tercatat sebagai anggota termuda dengan usia 23 tahun dan Ayu Kartika Dewa berusia 36 tahun.

Hak atas foto WAHYU PUTRO A/ANTARA
Image caption Presiden Jokowi (keempat dari kiri) memperkenalkan tujuh staf khusus milenial yang baru di di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11).

Selain mereka, Jokowi juga telah memiliki enam staf khusus, yaitu Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, Sukardi Rinakit, Arif Budimanta, Diaz Hendropriyono, Dini Shanti Purwono dan Fadjroel Rahman, ditambah satu asisten pribadi presiden Anggit Nugroho.

Cecep melanjutkan implikasi dari banyak staf juga melambungkan penganggaran untuk mengaji mereka padahal di sisi lain Jokowi tengah melakukan perampingan dengan memangkas eselon III dan IV di jajaran birokrasi.

Bidang-bidang kritikal

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 144 tahun 2015 tentang besaran hak keuangan bagi staf khusus presiden, staf khusus wakil presiden, Wakil Sekretaris Pribadi Presiden, Asisten dan Pembantu Asisten, staf khusus presiden mendapat gaji Rp51 juta per bulan, sudah termasuk di dalamnya gaji dasar, tunjangan kinerja dan pajak penghasilan.

"Lalu efektifitas mereka (tujuh staf khusus milenial), Jokowi bilang mereka tidak perlu berkantor, kerja bisa harian, mingguan dan bulanan. jadi ini seperti Dewan Pertimbangan atau apa yang memberikan masukan ke Jokowi, padahal ini harus optimal ketika diberikan jabatan, tupoksi mereka harus jelas," katanya.

Salah seorang staf khusus dari kalangan milenial, Billy Mambrasar, mengatakan ia yakin akan dapat berkontribusi. Menurutnya, pengangkatan staf khusus dari kalangan milenial untuk melengkapi para pembantu Jokowi yang bekerja secara birokrasi di dalam kementerian.

"Kami bertujuh itu bekerja lintas bidang akan tetapi kami fokus ke bidang-bidang kritikal sesuai dengan latar belakang kami. Dan cara kerjanya adalah, kami akan melihat area-area yang tidak dilihat oleh kementerian atau lembaga yang lain yang beroperasi sesuai dengan proses prosedur pemerintahan," ujar Billy.

Pendiri pusat belajar Kitong Bisa itu juga membantah jika jumlah staf khusus membengkak. Periode sebelumnya, lanjut dia, staf khusus ada 11 orang dan sekarang berjumlah 13 orang.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan keputusan Jokowi bukan sebagai upaya akomodatif akibat desakan politik.

"Tapi betul-betul ingin mencapai atas apa yang sudah digariskan presiden, yang diinginkan presiden," katanya.

Moeldoko juga menambakan penambahan staf khusus sudah melalui proses analisis atas efisiensi dan efektifitas.

"Umpamanya, kita mengeluarkan 1000 tapi hasil sedikit, kita lebih baik mengeluarkan 2000 tapi hasilnya banyak, itu teori efisiensi. Berikutnya efektifitas, pencapaian atas sasaran yang ditentukan oleh presiden itu perlu waktu yang cepat. Ciri-ciri kepemipinan presiden adalah waktu yang cepat dan itu perlu sumber daya," katanya.

Selain staf khusus, presiden juga dibantu oleh 34 menteri, dua pejabat setingkat menteri dan 12 wakil menteri.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Upaya Selamatkan Berang-Berang Laut Penjaga Keseimbangan Ekologis
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Berang-berang laut di India berperan penting menjaga keseimbangan ekologis di habitatnya. Namun perb...
8 Manfaat Sentuhan Fisik
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Di dunia yang kian penuh digitalisasi, di mana orang lebih sering kirim pesan daripada bertemu, pent...
WHO: Empat dari Lima Remaja di Seluruh Dunia Kurang Gerak dan Olahraga
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Studi yang dilakukan oleh WHO ini menemukan bahwa 81 persen remaja berusia antara 11 dan 17 tidak me...
Kenapa Timor Leste Mendadak Dirundung Serangan Buaya Liar?
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Mario Da Cruz tertegun melihat sekelompok buaya memangsa seorang bocah kecil di tepi pantai. Ia send...
Dari Meja, Kursi Hingga Ponsel, Milenial India Gemar Sewa Berbagai Perabot
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Di usianya yang menginjak 29 tahun, Spandan Sharma tidak memiliki apartemen, mobil, bahkan kursi. Pe...
Bagaimana Ulama Wahabi Terbelah Soal Penawaran Saham Aramco
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Modernisasi Arab Saudi yang dipacu oleh Pangeran Muhammad bin Salman dengan mengikis doktrin Wahabis...
Erick Thohir Ingin 20% Pegawai Bandara di Abu Dhabi Diisi Orang RI
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB
Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir tengah menjajaki kerja sama dengan Ab...
Bagaimana Seorang Perempuan Rusia Menjadi Bintang Tari Perut di Mesir
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB
Johara jarang tampil sederhana. Setiap kali diundang, penari perut berusia 31 tahun itu mengenakan k...
Negara-negara Dengan Kualitas Murid Paling Rendah di Dunia
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB
Laporan OECD yang mengukur kemampuan anak 15 tahun di bidang membaca, matematika dan pengetahuan ilm...
Peringkat 6 Terbawah, Indonesia Diminta Tinggalkan Sistem Pendidikan Feodalistik
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB
Survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pa...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 157
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once