Film Mulan Mendapat Seruan Boikot Terkait Perlakuan Muslim Uyghur di China
Elshinta
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Film Mulan Mendapat Seruan Boikot Terkait Perlakuan Muslim Uyghur di China
ABC.net.au - Film Mulan Mendapat Seruan Boikot Terkait Perlakuan Muslim Uyghur di China

Film Mulan yang diproduksi ulang dalam bentuk live-action mendapat seruan boikot karena adanya "ucapan terima kasih khusus" kepada lembaga Pemerintah China yang dituding sebagai pelanggar HAM.

  • Pemerintah China mendapat kecaman luas karena tindakan mereka terhadap warga Uyghur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang
  • Film Mulan yang diproduksi ulang memberikan "ucapan terima kasih khusus" kepada Komite Wilayah Otonomi Uyghur Xinjiang dan Biro Keamanan Pemkot Turpan
  • Biro Keamanan Pemerintah Kota Turpan masuk dalam daftar pelanggar HAM oleh Pemerintah Amerika Serikat

Film Mulan semula diproduksi Disney dalam bentuk animasi pada tahun 1998 dan sangat digemari penonton, yang kini dibuat dalam versi adaptasi animasi dan dibintangi oleh Liu Yifei.

Namun film adaptasi ini langsung menuai seruan boikot gara-gara salah satu pemainnya secara terbuka mendukung tindakan polisi dalam memberangus aksi pro-demokrasi di Hong Kong.

Mulan mulai ditayangkan dalam layanan streaming berbayar pada awal September ini dengan mengambil lokasi syuting di Selandia Baru dan China, termasuk di salah satu gurun yang dalam film ini disebut sebagai "China barat laut".

Sutradara film yang menghabiskan biaya 200 juta dolar AS ini, Niki Caro, pernah mengunggah postingan ke akun medsosnya sebuah foto padang pasir yang menunjuk wilayah di Urumqi, ibukota Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang.

Pemerintah China telah mendapat kecaman luas karena tindakan mereka menahan dan menerapkan pengawasan ketat terhadap warga Uyghur dan kelompok minoritas Muslim lainnya di Xinjiang.

Ada dugaan Pemerintah China melakukan sterilisasi paksa terhadap perempuan Uighur, kerja paksa di pabrik, dan tindakan lain yang disebut sebagai genosida budaya.

Pemerintah China menyangkal bahwa pusat pelatihan kejuruan yang mereka dirikan bukanlah kamp konsentrasi, namun sebuah tindakan yang diperlukan untuk melawan "ekstremisme dan terorisme".

Di akhir film Mulan, di bagian ucapan terima kasih untuk China, tercantum nama Departemen Publisikasi Komite Wilayah Otonomi Uygher Xinjiang serta Biro Keamanan Publik Kota Turpan, yang terletak di timur laut Urumqi.

Pemerintah Amerika Serikat pada Oktober tahun lalu telah mencantumkan Biro Keamanan Publik Kota Turpan ke dalam daftar lembaga di China yang "bertindak menentang kepentingan luar negeri Amerika Serikat".

"Secara khusus, entitas ini telah terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam kampanye penindasan yang dilakukan China, penahanan massal, dan pengawasan berteknologi tinggi terhadap orang Uighur, Kazakh, dan kelompok minoritas Muslim lainnya di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang," kata Departemen Perdagangan AS dalam sebuah pernyataan.

Direktur Human Rights Watch China, Sophie Richardson yang dihubungi ABC menjelaskan ucapan terima kasih khusus tersebut menimbulkan pertanyaan bagaimana Disney bisa terlibat dengan pihak berwenang di Xinjiang.

Sophie mempertanyakan apakah Disney telah mempertimbangkan keterlibatan ini ketika pembicaraan tentang Xinjiang umumnya menyangkut penahanan massal tanpa proses hukum hanya karena etnis dan agama mereka, tentang kerja paksa, penyiksaan dan hilangnya kebebasan beragama.

"Hal terpenting bagi perusahaan mana pun yang memiliki keterlibatan semacam ini yaitu melakukan uji tuntas HAM, sebagaimana dipersyaratkan dalam panduan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang bisnis dan HAM," kata Sophie.

"Pada titik ini segala jenis kerjasama dengan pihak berwenang di Xinjiang harus menjadi peringatan bagi perusahaan internasional mana pun," katanya.

"Disney berkewajiban menjelaskan uji tuntas HAM seperti apa yang mereka lakukan sebelum terlibat dengan pihak berwenang tersebut," tambahnya.

Tahun lalu, tagar #BoycottMulan sempat menjadi trending di platform media sosial Twitter setelah aktris China-Amerika Liu Yifei, pemeran utama perempuan di film ini mengemukakan dukungannya terhadap tindakan polisi memberangus aksi pro-demokrasi di Hong Kong.

Liu Yifei memiliki 66 juta pengikut di platform media sosial China, Weibo.

Dia menambahkan tagar "IAlsoSupportTheHongKongPolice" disertai dengan simbol hati.

Di bulan Februari, Yifei tampak melunak dalam menyatakan opininya terkait isu ini saat diwawancarai oleh media Hollywood Reporter.

"Saya pikir situasinya jelas sangat rumit dan saya bukan pakar," katanya. "Saya hanya berharap hal ini bisa segera diselesaikan."

Sementara film Mulan hanya ditayangkan secara online di AS dan Australia, namun di negara lain mulai ditayangkan di bioskop seperti di Thailand, Taiwan, Timur Tengah, Singapura dan Malaysia.

Di China sendiri, film garapan sutradara asal Selandia Baru ini akan tayang di bioskop mulai minggu depan.

Disney tidak menanggapi pertanyaan dari ABC.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kapan COVID-19 Berakhir? Mungkin Jawabannya Bisa Ditemukan dari Sejarah Pandemi
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Sekitar 100 tahun lalu, satu jenis baru influenza menulari hampir sepertiga penduduk dunia. Namun da...
Film Mulan Mendapat Seruan Boikot Terkait Perlakuan Muslim Uyghur di China
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Film Mulan yang diproduksi ulang dalam bentuk live-action mendapat seruan boikot karena adanya "ucap...
Tidak Bisa Diburu-buru: Tahap Akhir Vaksin Inggris Terpaksa Ditangguhkan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Tahap akhir uji coba untuk vaksin virus corona di Inggris ditangguhkan setelah seorang peserta yang ...
Melayani Makan Siang, 103 Tertular Corona, Kini Restoran di Sydney Nyaris Bangkrut
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Pandemi COVID-19 tidak hanya merengut korban jiwa, tapi juga merugikan banyak bisnis di dunia, terma...
Khawatir Kesehatan Saya: Kondisi Petugas dan Lahan Pemakaman di Jakarta Saat Ini
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Nadi bin Eji sudah bekerja di taman pemakaman umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur sejak tahun 1...
Pengkhianat dan Saling Tuding: Ada Apa Lagi Antara Australia dan China?
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Ketegangan hubungan Australia dan China kian memanas pekan ini setelah kedua pihak saling melontarka...
Tigerair Australia yang Pernah Bermasalah di Bali Berhenti Terbang Selamanya
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Maskpai penerbangan asal Australia, yang dikenal dengan tiket murahnya, menghentikan operasinya sete...
Pejabat Australia Juga Menghadapi Kepentingan Politik Saat Menangani COVID-19
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Para pemimpin di seluruh dunia saat ini sedang mengatasi pandemi COVID-19 dengan pilihan sulit antar...
Agar Harga Makanan Tak Naik, Warga Australia Diserukan Bekerja di Perkebunan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Warga Australia didesak untuk bekerja sebagai backpacker di negara mereka sendiri untuk mencegah bua...
Jakarta Tarik Rem Darurat, Warga Jerman Lebih Takut Trump Ketimbang Virus
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Angka penularan virus corona di Indonesia, termasuk di ibukota Jakarta terus meningkat yang membuat ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV