Senin, 24 September 2018 | 05:57 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames kuping kanan paragames
emajels

Dalam Negeri / Megapolitan

LPAI tegaskan anak dilibatkan terorisme adalah korban

Rabu, 16 Mei 2018 - 18:25 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan menunjukkan foto keluarga Dita Upriyanto saat penggerebekan rumah terduga teroris di kawasan Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Sumber foto: https://bit.ly/2Ilkhze
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan menunjukkan foto keluarga Dita Upriyanto saat penggerebekan rumah terduga teroris di kawasan Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Sumber foto: https://bit.ly/2Ilkhze

Elshinta.com - Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menegaskan anak-anak yang dilibatkan pelaku teror pada serangkaian aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo beberapa hari terakhir adalah korban.

Ketua Umum LPAI Seto Mulyadi mengatakan ada tujuh anak pelaku teror yang saat ini masih hidup dan ada yang diajak melakukan aksi teror. Kak Seto sapaan akrabnya mengatakan berdasar catatan lembaganya, rentetan aksi teror yang melibatkan anak-anak itu adalah yang pertama kali di Indonesia. "Kami dapat kabar bahwa anak-anak ini mendapat stimulasi negatif. Mereka sangat mudah dipengaruhi," ujarnya saat mendatangi Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur di Surabaya, Rabu (16/5).

Menurutnya, anak-anak tersebut perlu mendapatkan perlindungan ke depannya. Untuk itu, LPAI yang punya cabang di 28 provinsi, akan berusaha meluruskan informasi bahwa anak-anak tersebut bukanlah pelaku. "Di dalam Undang-undang Perlindungan Anak, anak tidak bisa disalahkan. Mereka tidak bisa disebut sebagai pelaku. Anak adalah korban. Mereka korban dari lingkungan," kata dia, dikutip dari Antara.

Kak Seto menjelaskan, ada dua amanat Undang-undang Perlindungan Anak. Pertama adalah tidak melakukan kekerasan terhadap anak. Dan yang kedua tidak menyuruh anak melakukan kekerasan. Pada kasus teror ini, poin kedua akan menjadi perhatian LPAI. Selain itu, Kak Seto mendesak negara harus hadir untuk melakukan terapi psikologis dengan cara mengubah lingkungan anak-anak tersebut. "Sesuatu yang negatif itu bisa bisa cepat dihilangkan, diganti dengan yang positif. Harus diciptakan lingkungan yang kondusif," tuturnya.

Bersama kepolisian, LPAI siap bekerja sama untuk memulihkan trauma pada anak-anak tersebut. Untuk menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif itu, harus dilihat kembali bagaimana pola asuh orang tua. "Kami akan melihat keluarganya apakah mereka menyebarkan paham-paham negatif. Kalau iya harus dipindah ke lingkungan baru," tuturnya.

Untuk mendekati dan berbicara dengan anak-anak tersebut, LPAI punya trik khusus. Salah satunya pendekatan dengan kategori usia. "Kalau remaja ten berbeda dengan anak-anak. Mungkin tidak dengan dongeng-dongeng," ujar Kak Seto.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Arestasi | 23 September 2018 - 21:52 WIB

Polres Bojonegoro amankan pemilik sabu di SPBU

Arestasi | 23 September 2018 - 21:27 WIB

Polsek Pangkalan Brandan ringkus pemulung pemerkosa IRT

Kesehatan | 23 September 2018 - 21:15 WIB

Ini manfaat lari maraton untuk kesehatan

Aktual Dalam Negeri | 23 September 2018 - 20:38 WIB

Dishub tetapkan tarif Damri Sukabumi-Soetta

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Minggu, 23 September 2018 - 20:38 WIB

Dishub tetapkan tarif Damri Sukabumi-Soetta

Minggu, 23 September 2018 - 18:37 WIB

Menteri PPPA: Korban perdagangan orang Banten tinggi

Minggu, 23 September 2018 - 18:15 WIB

KRL kembali normal usai alami gangguan listrik

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com