Greenpeace: Penggunaan BBM oktan tinggi kurangi emisi gas rumah kaca 
Elshinta
Kamis, 22 Oktober 2020 - 11:26 WIB |
Greenpeace: Penggunaan BBM oktan tinggi kurangi emisi gas rumah kaca 
Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta.com - Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan angka oktan tinggi dinilai sangat berperan dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).

Menurut organisasi lingkungan Greenpeace Indonesia, hal itu harus simultan dilakukan dengan pembenahan sistem transportasi yang ramah lingkungan.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Hindun Mulaika dalam keterangannya kepada media, Kamis, mengatakan BBM yang lebih bersih tersebut, yaitu dengan oktan lebih tinggi, juga harus diperhatikan.

"Jadi uji emisi kendaraan itu penting sekali, karena salah satu sumber polusi utama dari sana,” katanya.

Pemakaian BBM dengan angka oktan tinggi tersebut, menurut dia, merupakan cara terdekat yang bisa dilakukan. Dengan beralih menggunakan BBM oktan tinggi, pencemaran udara akibat pemakaian BBM RON rendah bisa dikurangi.

Begitupun, lanjut Hindun, penggunaan BBM oktan tinggi juga harus dilakukan secara paralel melalui pembenahan sistem transportasi. Misal, peralihan dari kendaraan pribadi menjadi transportasi cepat massal seperti MRT dan Transjakarta.

Selain itu, juga dengan memberikan fasilitas yang lebih nyaman dan aman bagi pesepeda. Pembenahan secara paralel itulah, yang juga dilakukan di berbagai kota besar di dunia.

Misalnya saja, Bogota. Pada saat pandemi, berbagai kota besar dunia memperbaiki sistem transprotasi.

“Mereka membangun jalur pesepeda yang terproteksi sampai puluhan kilometer. Pesepeda menjadi aman tanpa takut tertabrak kendaraan lain,” ujarnya.

Menurut dia, berbagai perbaikan tersebut, termasuk pembenahan infrastrurktur transportasi dan pemakaian BBM oktan tinggi menjadi penting. Pasalnya, sektor energi, dimana di dalamnya termasuk kelistrikan dan transportasi, merupakan salah satu kontributor utama peningkatan emisi.

Memang, jelasnya, saat ini penyumbang emisi terbesar adalah sektor kehutanan. Tetapi diingatkan, kalau tidak dilakukan pembenahan, bukan tidak mungkin sektor energi akan melampaui kehutanan.

Selain penggunaan BBM oktan tinggi yang dibarengi perbaikan sistem transportasi, shifting energi yang tak kalah penting adalah mengurangi dominasi penggunaan batubara pada berbagai PLTU.

“Makanya kalau tidak dilakukan pembenahan, sektor energi akan menjadi tertinggi dalam penyumbang emisi, akan melewati sektor kehutanan. Apalagi, sektor kehutanan sudah memiliki progres yang lebih baik,” lanjutnya.

Saat pandemi COVID-19 inilah, tambahnya, seharusnya bisa menjadi titik awal untuk melakukan pembenahan. Kalau tidak, komitmen Indonesia pada Paris Agreement yang tertuang dalam Dokumen Nationally Determined Contribution (NDC), akan sulit tercapai.

Dalam NDC disebutkan target penurunan emisi Indonesia hingga tahun 2030 sebesar 29 persen dari Bussiness as Usual (BAU) dengan upaya sendiri dan sampai dengan 41 persen dengan bantuan internasional.(Sik)


 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Luhut: Aturan SWF rampung bulan depan, Januari 2021 mulai beroperasi
Senin, 30 November 2020 - 21:27 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan aturan menge...
Pemkot Surakarta tutup Pasar Gede terkait COVID-19
Senin, 30 November 2020 - 18:25 WIB
Pemerintah Kota Surakarta menutup Pasar Gede Solo untuk sementara waktu menyusul sejumlah pedagang y...
Bangun perekonomian rakyat masa pandemi, Baznas Lumajang berikan pelatihan ODGJ dan IRT
Senin, 30 November 2020 - 18:10 WIB
Baznas Kabupaten Lumajang Jawa Timur memberikan pendidikan ketrampilan menjahit kepada 60 Orang Den...
IHSG melorot 2,96% ke 5.612 pada akhir perdagangan hari ini, asing net sell Rp3,27 Triliun 
Senin, 30 November 2020 - 17:25 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 170,92 poin atau 2,96% ke 5.612,41 pada akhir per...
Menkeu pastikan sisa dana penanganan pandemi bisa dimanfaatkan di 2021
Senin, 30 November 2020 - 16:55 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memastikan sisa dana yang masih ada dalam rekening k...
Rupiah melemah 0,21% ke Rp14.120 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini 
Senin, 30 November 2020 - 16:47 WIB
Rupiah spot ditutup pada level Rp14.120 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin ...
IHSG terkoreksi 0,60% pada sesi I, net sell asing Rp965,313 miliar 
Senin, 30 November 2020 - 13:55 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memerah pada perdagangan sesi pertama, Senin (30/11). Mengutip RT...
Dolar jatuh ke level terendah dua tahun ketika Fed menjadi fokus
Senin, 30 November 2020 - 08:55 WIB
Dolar jatuh ke level terendah lebih dari dua tahun pada Senin pagi, dan akan mencatat penurunan bula...
Tiket kereta jarak jauh dari Jakarta untuk H+30 sudah bisa dipesan
Minggu, 29 November 2020 - 21:36 WIB
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 1 Jakarta telah membuka pemesanan tiket untuk 43 kereta api( ...
Nelayan Lebak selatan panen udang lobster raup keuntungan
Minggu, 29 November 2020 - 13:10 WIB
Nelayan Lebak Selatan Provinsi Banten sejak sepekan terakhir ini panen udang lobster sehingga meraup...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV