Slamet Pribadi diisolasi 8 hari hingga negatif
Damai bersama Covid-19, diisolasi sampai negatif
Elshinta
Kamis, 12 November 2020 - 14:02 WIB | Penulis : | Editor : Administrator
Damai bersama Covid-19, diisolasi sampai negatif
Slamet Pribadi bersama para tenaga medis rumah sakit Polri Sukanto

Elshinta.com - Diawali dengan rasa sakit layaknya flu biasa, di akhir Oktober 2020, agak pilek, batuk dan diikuti rasa demam, kemudian saya minum obat flu berikut pereda demamnya, demam tersebut mulai mereda. Namun beberapa saat kemudian keluarga saya juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami. Kecurigaan terhadap penularan Covid-19 mulai melanda pikiran saya dan keluarga, jangan-jangan kita terpapar Covid-19.

Berawal dari kecurigaan tersebut maka pada hari minggu siang tanggal 1 November 2020, saya dan keluarga memutuskan untuk melakukan tes swab mandiri di RS Polri Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur. Selama perjalanan menuju rumah sakit, sama sekali tidak ada ketegangan antara saya, istri dan anak, kami bertiga tetap tenang, bersenda gurau di dalam mobil seperti keseharian, biasa meski sempat terfikir jika kami terpapar Covid-19.

Sesampainya di RS Polri Sukanto, kami disambut oleh hujan deras di lingkungan sekitar rumah sakit.  Suasana hari minggu, sepi, tanpa antrian, dan tibalah waktunya kami bertiga menjalani tes swab, tes berjalan lancar dan pasca pengambilan sampel kami bergegas kembali menuju mobil seraya berdoa semoga hasilnya menunjukan negatif, namun jika takdir berkata lain alias kami dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 maka tentunya akan kami hadapi dengan ikhlas dan berfikir jernih demi menjaga pikiran bawah sadar tetap terkendali.

Pada tanggal 2 November 2020, sekitar menjelang subuh, telepon selular saya berdering, rupanya sebuah pesan teks dari RS Polri Sukanto tempat kami melakukan tes swab, pihak rumah sakit mengabarkan bahwa kami bertiga terkonfirmasi positif Covid-19, namun baru saya baca sekitar pukul 05.00 WIB sesaat sebelum saya menjalankan sholat subuh, sontak saja saya segera memberitahukan kabar tersebut kepada istri dan anak saya, bahwa kita mendapatkan karunia Covid-19.

Mengetahui hal tersebut, kita bertiga tenang, tidak ada kepanikan sama sekali, saat itu entah apa yang terjadi di dalam diri kita, sepertinya masing-masing sudah menyiapkan diri baik secara fisik maupun mental akan apapun yang dihadapi nantinya. Hari berjalan seperti biasa, kami sarapan pagi dan menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan jika harus menjalani isolasi di rumah sakit, baik berupa pakaian, vitamin, minyak kayu putih, dan kebutuhan lainnya.

Menjelang siang setelah mempersiapkan segala keperluan kami bergegas menuju RS Polri Sukanto untuk melakukan prosedur Isolasi. Sesampainya di RS Polri Sukanto kami diarahkan menuju gedung perawatan Promoter 2, sesampainya di gedung tersebut saya bersama istri dan anak  melaksanakan prosedur pemeriksaan awal dengan melakukan rongent pada bagian paru-paru dan wawancara ringan bersama dokter RS untuk melacak kontak terakhir kami agar diketahui riwayat penyebarannya, hal ini merupakan salah satu prosedur pemeriksaan penderita Covid-19.

Setelah dilakukan pemeriksaa awal, akhirnya kami mendapatkan ruang isloasi yang berada di lantai 5 gedung Promoter 2, diantar dua petugas rumah sakit berpakaian APD lengkap kami berjalan menuju ruang isolasi, hidup seperti ada sesuatu yang lain dalam tubuh saya,  saat itu saya membayangkan ruangan yang akan kami tempati merupakan tempat khusus yang jauh dari kata layak dan menakutkan, namun setelah saya memasuki ruangan isolasi yang akan kami tempati, saya seperti memasuki ruang perawatan penderita sakit biasa/ruang inap rumah sakit pada umumnya.

Ketika memasuki ruang perawatan kami seperti memasuki dunia baru bersama Covid-19 yang selama ini banyak diperbincangkan manusia seantero jagad raya, bahwa Covid-19 bagaikan monster yang siap menerkam siapa saja manusia yang tidak mentaati protokol kesehatan atau manusia yang tidak bisa menjaga dirinya, atau manusia yang egois bahwa diri adalah manusia paling sakti dari paparan Covid-19, tapi ternyata Covid-19 bisa menerkam siapa saja, tidak pandang bulu. Karena satu-satunya pilihan saat ini adalah kita harus berdamai dengan Covid-19 ini, agar kita dapat menghadapi virus ini dengan tenang sehingga imun manusia dapat terkelola dengan baik.

Menurut saya, keluarga kami termasuk orang yang beruntung karena kami dinyatakan OTG (Orang Tanpa Gejala) oleh dokter, hanya terasa demam di awal dan tidak ada rasa sesak napas, saya selalu mencoba menarik nafas dalam-dalam selama beberapa detik dan saya merasa normal karena saya terbiasa latihan napas dengan cara sepuluh detik menarik, sepuluh detik menyimpan dan sepuluh detik mengeluarkan napas, rasanya seperti biasa seperti saya berlatih napas dalam kondisi normal, tidak ada gejala apapun.

Hari I, tanggal 2 November 2020,  saya berada di ruang perawatan, istilah yang ingin saya gunakan, saya seperti dirawat biasa, berhadapan dengan perawat medis dan dokter yang berpakaian APD lengkap,  bak astronot, mereka bersikap ramah dan banyak memberikan penjelasan maupun tips untuk menghadapi Covid-19 ini agar tenang dan tidak perlu panik. Tibalah waktunya untuk saya dipasangkan selang penyambung cairan infus di tangan kiri, sebagai langkah awal dari proses perawatan atau isolasi ini.

Beberapa hari ke depan rasa-rasanya siang malam saya berhadapan dengan perawat-perawat ramah itu, tak merasakan bahwa saya sejatinya diisolasi, mereka menenangkan kita bertiga, yang kebetulan saya dan anak saya dalam satu ruangan, sedangkan istri saya dalam ruangan lain. Keluarga juga tidak ada keluhan apapun dengan perawatan di ruang isolasi ini. Ukur tekanan darah, suhu badan, pemberian obat-obatan adalah hal yang rutin yang diberikan kepada pasien sakit tertentu, kita terima ikhlas.

Sesekali ditanya oleh perawat, ada keluhan apa? Saya jawab tidak ada keluhan apa-apa, penciuman hidung dan perasa di lidah, serta napas normal-normal saja. Ketika saat kunjungan dokter pertanyaan juga sama, yang mengejutkan adalah pak dokternya adalah pernah menjadi tetangga saat sama-sama dinas di Surabaya, DR Yahya, sehingga saat ketemu terasa cair, dokter dan saya menggunakan komunikasi ala Surabaya, terbuka, cengengesan (ketawa-ketawa kecil ), sesekali cerita masa lalu. Mungkin hal itu sengaja didesain sedemikian rupa oleh Manajemen RS POLRI RS Soekanto, untuk mengurangi perasaan takut para penderita Covid-19.

Beberapa perawat juga sempat saya tanya nama, asal kampungnya atau rumahnya, karena saya sulit mengidentifikasi mereka, meskipun mereka ramah, saya tidak bisa mengenali mukanya, karena mengunakan APD (alat pelindung diri) seperti robot. Mereka cukup disiplin berpakaian robot itu, meskipun saya melihat, ada yang khas cara mereka berjalan, ketika berpakaian APD itu sementara bagian bawah menggunakan sepatu boot, sehingga berjalan mereka memang benar-benar kaku, megal-megol seperti bebek atau menthok (bahasa Jawa, enthok bahasa Betawi)

Hari ke II, 3 November 2020, suasana dan aktifitas di ruang perawatan, masih berjalan seperti biasa, melaksanakan dan menerima hal-hal yang rutin dari dokter dan perawat, saya semakin memahami bahwa hidup ini penuh dengan kejutan, rintangan, tantangan, saling membutuhkan, adakalanya tantangan itu berat, tapi ada kalanya ringan, bergantung bagaimana manusia mengelolanya,  namun saya menyadari apapun itu tantangannya, selama kita masih bernapas tantangan selalu ada, cara menghadapinya harus tetap sabar dan tetap bersyukur.

Pada hari kedua ini saya dan keluarga dilakukan swab kedua, sebagai kelanjutan dari swab pertama, lagi-lagi saya berharap ada mu’zizat dari langit, bahwa hasilnya menjadi negatip. Namun dalam hati saya yang paling dalam, saya harus ikhlas menerima apapun hasilnya, tidak perlu emosional pengharapannya,  seperti saat saya menerima hasil swab yang pertama. Hiburan yang bisa saya nikmati dengan sempurna adalah, nonton televisi chanel-chanel nasional. Apalagi pada hari kedua saya diisolasi atau di ruangan perawatan ini, bersamaan dengan jadwal kampanye terakhir calon Presiden Amerika Serikat, yang disiarkan langsung oleh televisi-televisi berita di Indonesia. Sebagai orang yang pernah bergelut di bidang media, saya menikmati tayangan-tayangan kampanye terakhir kandidat presiden Amerika (Pak Trump dan Pak Biden) ini.

Saya memang tidak suka ilmu politik, tapi saya menyukai fenomena-fenomena di seputar peristiwa politik, baik nasional maupun internasional. Apalagi ketika dibumbui dengan pendapat cerdas dari pakar Indonesia soal Amerika yang dihubungkan dengan soal pilpres Amerika tersebut. Saya terkagum-kagum dengan  pandangan mereka, padahal, posisi mereka ada di Indonesia, bisa menjelaskan persoalan Amerika dengan detail sekali dari berbagai sudut, ini berkat kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan cara berpikir manusia, dan dahsyat kemajuan tehnologi informasi sebagai alat bantu manusia yang memudahkan mendapatkan akses perkembangan situasi di negara lain secara real time.

Saya bangga sekali dengan pakar-pakar Indonesia tersebut, bisa dihandalkan secara internasional. Kepakaranya atau pandangan ilmiahnya bagus, dan bisa menjadi referensi ilmiah siapapun khususnya bidang hubungan internasional, hukum internasional, termasuk perdagangan internasional, tentu ini dapat menjadi referensi bagi para pihak yang sedang belajar ilmu-ilmu yang saya sebutkan di atas. Di atara perasaan positip saya, saya kontak mantan staf saya di kantor Badan Narkotika Nasional, menginfokan kalau saya sedang diisolasi di RS karena Covid-19, saya bercerita kalau anak dan istri saya juga diisolasi, treger pandeminya kira-kira berasal dari saya, saya juga bercerita saya perlu asupan buah pisang untuk memaksimalkan isi perut, saya terus terang bolehkah saya minta bantuan mengirimkan pisang satu sisir, dengan senang hati dia menjawab siap pak, sorenya saya menerima pisang itu.

Sebagai orang yang terisolasi atau dirawat, saya sangat senang dan berterima kasih, moga kebaikan Om Jefry menjadi amalannya, dan Tuhan akan memberikan rijeki yang banyak dan sukses dalam meniti karier. Aamiin.

Hari III, 4 November 2020, batiniah semakin tenang, semakin bisa mengendalikan kondisi fisik dan psikis, saya dan keluarga semakin menyadari, bahwa kita harus berdamai dengan Covid-19 ini, tidak boleh dianggap musuh, agar imun tubuh terus meningkat dan bisa melindungi kondisi tubuh, berharap hendaknya imun tersebut  otomatis menjadi barikade dan pelindung saya. Setiap saat senantiasa berhadapan dengan rutinitas pelayanan diri pribadi dan pelayanan medis dari pejuang-pejuang tangguh sang dokter dan para perawat dengan pakaian kebesaranya seperti astronot. 

Kalau berjalan tampak egal egol, karena baju kebesarannya tampak kebesaran, ada yang berwarna putih, ada juga yang berwarna hijau, disertai sepatu boot kalau dipakai berjalan ada suara khas sepatu boot, mereka menaruh perhatian cukup besar kepada pasien, di antaranya kita bertiga, sambil melayani pasien diiringinya petunjuk-petunjuk sederhana kepada kita.  Saya sungguh-sungguh dengan hati yang paling dalam angkat jempol 10 (kalau ada 10 jempol) kepada mereka, bernyali besar melayani pasien, siang maupun malam berhadapan dengan maut. Mengapa saya mengklasifikasikan maut, karena sudah banyak korban akibat Covid-19, di Indonesia ada ribuan, termasuk paramedis lebih dari 100 orang seluruh Indonesia yang wafat saat bertugas.

Satu-satunya hiburan saya adalah televisi, masih bisa memantau acara-acara lucu, berita nasional dan internasional. Khusus yang paling menarik adalah hasil perhitungan sementara Jou Bidden vs Trump, calon pemimpin negara adi daya Amerika Serikat. Dalam penantian swab berikut, badan saya sangat stabil, saya menerima beberapa telepon seorang wartawan senior sebuah TV Nasional, yang mengetahui saya diisolasi akan mengirimkan VCO, madu dan juice lemon bervitamin C tinggi. Alhamdulillah ada teman yang baik hati, menolong saya untuk meningkatkan imun tubuh agar lekas sembuh.

Terimakasih Mas Aryo, moga rijekinya bertambah, kariernya menanjak dan usaha lainya seperti istrinya mengikuti pilkada di daerah Sulut juga berhasil sukses. Aamiin.  Mas Aryo ini selalu terkoneksi melalui alat komunikasi untuk sering berbagi cerita kehidupan, teknik mengelola publikasi.  Kebaikan yang sama, saya menerima kontak dari teman yang sangat lama  dari Surabaya, bahkan seperti saudara, yang sering berbagi persoalan-persoalan hukum dan bagaimana solusinya, yang ingin mengirimkan vitamin dan jamu, seperti kiriman teman saya redaktur senior di atas, Alhamdulilah, terimakasih Om Harno, katanya jamu tersebut untuk meningkatkan imune agar lekas sehat, dari jamu itu dari temannya pengusaha besar dari Surabaya, saya menyampaikan salam saya ke temannya Om Harno, moga rijekinya bertambah. Aamiin.  

Hari IV, 5 November 2020, keadaan saya dan keluar tetap stabil, indra penciuman, indra perasa, nafas, terasa seperti normal, di saat ditanya oleh dokter saat berkunjung, apakah ada keluhan yang dirasakan, selalu kita jawab “Alhamdulillah normal”, mereka timpali “Alhamdulillah, moga lekas sembuh, dan segera kembali ke rumah” Demikian juga para perawat bertanya dalam hal yang sama, kita jawab seperti di atas, ditimpali jawaban saya juga seperti di atas.

Perawat menanyakan tersebut di atas siang maupun malam, bahkan tengah malam, dengan tekun menggerakkan tangannya mengukur tekanan darah, mengukur oksigen dalam darah, menyiapkan makanan dan obat yang diminum setelah makan. Saya bersama keluarga saling menghibur, di antaranya menjemur diri melalui balik kaca candela, menyanyi kecil, mengaji, membaca buku dan lain-lain, terkadang berkomunikasi dengan keluarga jauh di kampung di Jawa Timur  untuk menyampaikan keadaan kita bertiga dalam keadaan stabil. 

Dalam mengisi hari-hari dalam penantian dan kesabaran. lagi-lagi televisi yang menyajikan berita dan tayangannya tetap menjadi salah satu hiburan yang menyenangkan, saya tetap penasaran dengan hasil pemilihan presiden Amerika Serikat, siapa yang menang, meskipun sementara Pak Bidden unggul dari Pak Trump, dan tampaknya Pak Trump akan mengalami kesulitan menyusul angka yang lebih tinggi Pak Biden, alih-alih Pak Trump mulai berkampanye memenangkan pemilihan, tuduhan dugaan kecurangan, minta penghentian penghitungan di beberapa negara bagian, tentu ini upaya yang tidak mudah karena ada bantahan dari pimpinan negara bagian, serta ingin mengajukan persoalan dugaan kecurangan ini ke Mahkamah Agung Amerika. Berita-berita lain yang tetap hot adalah soal isu vaksin anti Covid-19, dan lain-lain masih banyak.

Meskipun pada hari keempat saya dalam pemeriksaan perawat ada kekurangan oksigen sedikit dalam darah dalam satu digit, sekitar 95 yang idealnya 96 sampai dengan 100, solusinya saya diberikan asupan oksigen melalui hidup dengan cara menempelkan selang ke dua lubang hidung yang berisi oksigen, selama sekitar 6 jam,  namun badan saya masih tetap stabil, bahkan badan saya terasa sangat sehat lebih dari biasanya. Ketika dilakukan pemeriksaan oksigen dalam kembali hasilnya lumayan, oksigen dalam darah menjadi 97. Alhamdulillah. Saya kurang tahu apa manfaat oksigen dalam darah, sepertinya sangat penting tubuh manusia, lain waktu saya akan mencari tahu apa manfaatnya.   

Di samping melaksanakan proses medis sebagaimana biasanya, periksa tekanan darah, oksigen dalam darah, cek isi infus, hari penantian itu merupakan ujian kesabaran hidup saya, dan akan menjadi bagian dari riwayat hirup saya yang menyenangkan, dan tidak akan saya lupakan, karena saya mendapatkan pengalaman berharga, yang belum tentu dialami oleh orang lain, meskipun dengan persoalan yang sama. Saya dapat  menceritakan dengan dengan detail, awal dan gejala saya terkena Covid-19, dan bagaimana proses perawatan, apa yang seharusnya hal-hal yang bisa mencegah terjadinya penularan.

Dalam pandangan saya ketika seseorang terkena Covid-19, tidak perlu ditutupi, justru harus dibuka kepada orang lain, dibagi pengalamannya, dengan harapan agar orang lain dengan cerita saya itu bisa membentengi diri, menjaga diri dan lingkungan terdekatnya, agar tidak terpapar Covid-19, agar penyebaran tidak semakin meluas, tidak menyebar kemana, ketika riwayat kontak kita sebelum di isolasi, dan ternyata kita sudah terpapar dan melakukan kontak dengan lingkungan terdekat, maka lingkungan kita juga bisa terpapar Covid-19.  Menurut saya paparan terhadap tubuh atas Covid-19 bukanlah sebuah aib yang harus disembunyikan, tapi kita harus jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.

Saya perhatikan, perawat-perawat yang berjuang untuk menolong  ribuan pasiennya di seluruh dunia dan di seluruh Indonesia adalah manusia mulia di hadapan Tuhan dan Manusia dan seluruh isi alam ini, kenapa tidak, karena dia berkorban untuk menolong orang lain, ribuan bahkan jutaan orang, sementara dirinya juga menyerempet bahaya terpapar Covid-19,  masyarakat harus faham hal ini, harus ada penghargaan khusus dan penghormatan kepada mereka, bukan uang bukan harta, akan tetapi berupa disiplin ketat protokol kesehatan terhadap Covid-19. Negara dan masyarakat harus memikirkan remunerasi yang cukup, bagi dia dan keluarganya, agar mereka hidup sejahtera.

Mereka bagi saya adalah manusia setengah dewa, yang membantu dengan rela hati, menolong sesama agar segera sembuh dan pulih dari paparan Covid-19.  Terimakasih wahai teman-teman medis di seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia, wabil khusus, yang telah menolong saya dan keluarga saya, di RS POLRI RS Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur, semoga perbuatan para medis ini menjadi ladang amal baik kalian. Tuhan tidak tidur, pasti mencatat pengorbanan kalian yang siang malam berhadapan dengan maut.  

Lagi-lagi televisi mejadi hiburan utama, dari tayangan informatip sampai dengan tayangan lucu, seperti berita-berita nasional maupun internasional khususnya soal pemilihan presiden Amerika Serikat yang terlihat masih panas dari kubu Pak Trump, sehingga Pak Trump menghembuskan isu-isu bernuansa negatif, karena tidak bisa mengejar ketertinggalannya terhadap angka yang didapat Pak Biden, juga film keluarga Somat yang berbahasa Indonesia tapi dengan logat Jawa Kental mengajarkan keluarga harmonis dan toleransi etnis, serta tayangan Marsha dan Beruang, sebuah film anak dari negeri seberang, yang mengajarkan kasih sayang meskipun berbeda jenis makhluk Tuhan yaitu antara beruang yang tubuhnya besar tapi penyayang dengan Si Marsha yang nakal versi anak-anak yang kelakuannya centil usil tapi lucu.Hari V, 6 November 2019, ruang perawatan sebagai tempat saya dirawat, bersama televisi yang sering menyala menyiarkan beritanya dari berbagai chanel, senantiasa setia menemani saya dan keluarga saya.

Hari VI, tanggal 7 November 2020, hari yang agak membahagiakan di mana kita bertiga mulai dilepas infusnya, istri sudah lebih dahulu tanggal 6 malam, saya tanggal 7 subuh, sedangkan anak saya tanggal 7 pagi. Tangan terasa kurang bebannya, sebelumnya ke mana-mana kita bergerak harus membawa Infus bersama penyangganya, termasuk ketika beribadah juga harus ditemani infus tersebut. Tidak mengapa, karena infus merupakan bagian dari proses penyembuhan dari Covid-19. Meski hanya infus dan tiang penyangganya yang dilepas, optimisme mulai muncul di pikiran kita bertiga, berharap segera sembuh dari ujian terpapar Covid-19, kembali ke rumah melaksanakan kegiatan harian, kembali bekerja, kembali melaksanakan kegiatan sosialnya lainnya, atau melaksanakan isolasi jilid dua paska perawatan di RS POLRI RS Soekanto.

Olah raga di kamar perawatan, dan berjemur di balik candela juga merupakan bagian dari proses pemulihan, berputar di dalam kamar dan berdiri di pinggir candela untuk mendapatkan cahaya matahari terasa mendapatkan barang mahal, seperti mendapatkan emas berharga, sambil menengok keluar terlihat jalan tol jagorawi. Di saat saya menerawang keluar dari balik candela  untuk mendapatkan matahari, melihat betapa bahagianya masyarakat di luar sana betapa bebasnya mendapatkan matahari, oksigen, berinteraksi dengan sesama di ruang publik, sementara saya dan keluarga serta pasien-pasien lainnya ada dalam sebuah ruangan, dengan pikiran masing-masing, barangkali ada yang positip atau yang negatif cara memahami paparan Covid-19 ini.

Sehat terasa mahaaaal…. namun dalam perenungan saya ketika itu, mengapa manusia sulit bersyukur menerima nikmat Tuhan itu dan menerima  kebebasan bersama alam yang telah melengkapi hidup manusia, ada matahari, angin, oksigen, air, tumbuh-tumbuhan, hutan, sungai, laut, langit biru, dapat buang air besar dan kecil secara normal, bisa mendengar telinganya, dapat mencium hidungnya, dapat merasakan lidahnya, dapat melihat matanya, dan lain-lain, kenikmatan dari kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Saya melihat alam ciptaan Tuhan sudah lengkap menyajikan menu-menu yang dibutuhkan manusia, Sumber Daya Alam apapun tersedia di belahan dunia ini, apa saja ada, tinggal bagaimana manusia mau bersyukur dengan nikmat itu atau tidak.

Menurut saya semakin kita tidak bersyukur, maka semakin kita jauh dari kenikmatan, karena tidak akan pernah puas, sebaliknya semakin kita bersyukur atas nikmat karunia itu, semakin tentram kita hidup karena sudah tercukupi oleh Tuhan. Apalagi kita hidup di Indonesia, sumber daya alamnya melimpah ruah sepanjang hayat di kandung badan manusia Indonesia, Tak Heran bangsa asing di belahan dunia jauh pernah menjajah Indonesia hanya untuk mendapatkan sumber daya alam Indonesia, kemudian selama ratusan tahun menjajah Indonesia, diangkutlah hasil alam Indonesia itu selama ratusan tahun ke negara penjajah itu. Meski cerita di atas adalah cerita masa lalu, cukup mengingatkan kita semua, Indonesia adalah negara kaya-raya yang luar biasa, jangan sampai ada penjajahan jilid berikutnya tentu dengan cara modern dan lebih strategis.

Lagi-lagi di antara penantian kesembuhan ini televisi-televisi masih menaruh perhatian terhadap pemilihan presiden, dengan segala isu yang dihembuskan baik isu positif maupun isu negatif, sehingga para pendukung masing-masing kandidat turun ke jalan sambil mengambil tema-tema isu pemilihan presiden. Sangat menarik perhatian memang menganalisa Amerika dari segala sudut, bukan hanya saya yang hanya mengerti sedikit soal politik, tapi oleh semua kalangan di seluruh dunia, baik yang mengerti politik maupun yang tidak mengerti politik. Saya memperhatikan secara intensif karena memang kondisi saya sedang dalam perawatan intensif para tenaga medis RS POLRI tersebut, sehingga mata dan telinga saya terus memantau jalannya pemilihan itu dari layar kaca. Meski demikian, panjatan doa terus kita lantunkan setiap saat senantiasa, bukan hanya saat beribadah, agar saya dan keluarga segera pulih.         


Setelah saya mendegar berita tersebut, saya bergegas sholat malam untuk berkomunikasi dengan shang pencipta, setelah sholat malam itu timbul suatu pikiran, siapa yang bisa membantah kekuasaan absolut Tuhan, Pak Biden menjadi Presiden? Padahal Pak Trump provokasinya cukup kuat sejak awal dia dilantik, hanya saja sepertinya dia kurang memahami tradisi Demokrasi Amerika dan di belahan dunia lain, sehingga yang ada selalu membuat kebijakan yang diangap kontroversial. Yang lain, siapa yang berani membantah bahwa manusia hakikinya saling membutuhkan, seperti saya ketika terkena Covid-19 ini membutuhkan dokter dan perawat, serta membutuhkan rumah sakit sebagai tempat perawatan dan isolasi saya, manusia membutuhkan petani untuk mendapatkan beras, sayur, buah, manusia membutuhkan tukang jahit untuk bajunya, membutuhkan tukang sepatu untuk sepatunya, suami membutuhkan istri, istri membutuhkan suami untuk membangun kehidupan manusia dan peradaban.

Ayah dan Ibu membutuhkan anak, begitu sebaliknya anak membutuhkan orang tuanya, pemimpin membutuhkan yang dipimpin, begitu sebaliknya, murid membutuhkan guru, kalau tidak ada gurunya siapa yang mengajar. Sebaliknya  guru membutuhkan murid, kalau tidak ada murid guru mengajar siapa. Siklus alam ciptaan Tuhan ini sungguh-sungguh tidak terbantahkan, keutuhan yang satu karena didukung oleh yang lain, kutub utara dan selatan dibutuhkan oleh belahan bumi yang lain, untuk seseimbangan, kalau tidak ada kutub utara dan selatan belahan dunia lain akan terjadi ketidak seimbangan, yang lain mobil supaya dapat bergerak dibutuhkan rodanya dan perlengkapan lainnya,  itu kuasa mutlak Tuhan, hak Tuhan untuk memutuskan, manusia wajib memahami dan mematuhi aturan-aturan Tuhan dan kemudian bersyukur atas karunia itu.

Hari VII, 8 November 2020, di tengah malam saat tubuh ini sudah lelap dalam putaran suasana malam, saya terbangun karena terdengar musik Breaking News sebuah Televisi Swasta Nasional yang iramanya khas memberitakan berita-berita berklasifikasi sangat penting, ada berita apa gerangan? Pikiran spontan saya bertanya, moga bukan bencana alam, ternyata memberitakan tentang peroleh suara pemilihan presiden AS, Pak Biden diberitakan saat itu memperoleh suara 273, sedangkan Pak Trump tetap pada angka 214, ini berita yang saya tunggu-tunggu, tampak di layar ada hirup-pikuk kegembiraan kelompok Pak Biden dengan berbagai aksesorinya disertai sedikit pidato Pak Biden yang Demokratis dan filosofis ala negeri Paman Sam, sedangkan Pak  Trump tuduh sana sini, tidak percaya dengan hasil pemilu di beberapa negara bagian, meski beberapa saat sebelumnya telah dibantah oleh gubernur negara bagian itu, bahwa klaim Pak Trump itu dianggapnya sesat. Itulah demokrasi, selalu beriklim turun-naik bagaikan angin bergerak menyesuaikan dengan lingkungannya, juga tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi.

Di antara perenungan di atas, saya dan keluarga masih menerima rutinitas pemeriksaan dokter dan perawat, sang pejuang tangguh kemanusiaan, prajurit-prajurit pemegang amanah Tuhan untuk membantu kesembuhan manusia yang terpapar Covid-19.  Sekitar jam 15.00 wib kita bertiga melaksanakan tes swab ke tiga. Ya Allah… ampunilah dosa-dosa hambamu ini… moga hasilnya baik… lindungi saya, istri dan anak saya. Aamiin Ya Robbal Alamiin.    

Sekitar jam 15.30 wib saya melihat Instagram @voaindonesia (Voice of Amerika Indonesia), Pak Biden memporoleh 290 suara elektoral, Pak Trump memperoleh 214 suara elektoral, dirilis oleh voaindonesia tertulis 08/11/2020, 9.00 wib. Suatu perolehan suara menakjubkan melebihi persyaratan menjadi seorang Presiden Amerika dengan suara elektoral 270. Selamat deh buat Pak Joe Biden asli Amerika dan Bu Kamal Haris turunan India dan Jamaica.

Hari VIII, tanggal 9 November 2020, Alhamdulillah bangun pagi badan terasa sehat sekali, setelah mandi pagi perawat pejuang kemanusiaan melakukan pengecekan tensi dan oksigen dalam darah, perawat sampaikan kondisi fisik hasilnya bagus semua, perawat juga menanyakan, apakah ada keluhan, saya jawab semua  baik2 saja, demikian istri dan anak saya bagus juga secara fisik. Seperti biasa kita bertiga masih dalam penantian hasil swab tanggal 8 November 2020, berharap harap hasil tesnya negatip Covid-19, sebuah cita-cita disertai doa setiap penderita Covid-19 agar hasil swab menjadi negatif.

Sambil dalam penantian hasil swab, saya menonton televisi bermateri yang lucu-lucu, agar kita bisa terhibur lahir dan batin, sambil berharap imun kita meningkat. Tayangan menggembirakan bagi saya memberikan efek senang batiniyah, katanya endorphin muncul secara maksimal kalau kita bisa tertawa atau terbahak-bahak, begitulah kebiasaan kita, termasuk tontonan religi yang menyejukkan rohani, meski diselingi dengan tontonan materi agak berat berupa berita-berita bermateri internasional dan nasional, agar supaya saya tidak ketinggalan situasi sosial, politik, ekonomi, kriminal dan lain-lain.

Media online tak luput dari pengamatan saya, hampir semua media online saya baca melalui perangkat celuller yang senantiasa terbawa dalam genggaman.  Membaca dan menonton berita adalah kebiasaan saya setiap hari, meski tidak detail mengamati, namun cukup memberikan asupan referensi bagi otak saya untuk bergerak mengamati situasi.

Yang lain ketika saya berjemur sambil menggerakkan badan di balik kaca jendela, terbersit dalam pikiran, ketika kita berada di ruang isolasi, sepertinya matahari, olah raga, kebebasan berinteraksi dengan sesama dan lingkungan, berbuat baik dan hidup bermanfaat kepada yang lain,  terasa mahal dan ingin saya jangkau semuanya, namun ketika saya sebelum terkena Covid-19 malas sekali memanfaatkan apa yang saya sebutkan di atas, hidup congkak dan sombong sekali dengan lingkungan sosial termasuk mengolah diri sendiri untuk sehat. Saya berharap ketika hidup normal dan sehat keadaan di atas tak akan terulang kembali, harus terus berdoa dan berbuat baik, hidup positif.

Menunggu hasil swab ketiga ini betul-betul spesial, ibarat menunggu karunia besar, karena sudah disampaikan oleh petugas swab hasilnya hari Senin, berarti tanggal 9 November 2020, sambil berharap-harap cemas, meskipun pikiran saya tetap positip akan kekuatan Tuhan terhadap insanNya. Berkali-kali ke belakang buang kecil, sebagai ekspresi penantian besar. Tampaknya anak saya juga demikian, meski dia tidak menampakkan kecemasan kepada saya, berkali-kali dia buang air kecil, he he he…. Ini reaksi normal sebagai manusia yang memiliki gejala psikologis, yang kemudian otaknya memerintahkan bagian tubuh tertentu untuk bertindak sesuatu, normal sepertinya.

Tepat Pk 11.20 Dokter Yahya yang biasa memeriksa saya rutin menyampaikan saya sudah negatif, anak saya juga negatif, akan tetapi istri masih positif tetapi ambang batas mendekati negatif dan sudah tidak menular. Hampir bersamaan Ka Lab menginfokan ke saya.  Saya mensyukuri nikmat Tuhan yang luar biasa, sekali lagi saya menerima kuasa Tuhan yang absolut, melalui tangan-tangan ajaib para Perawat, Dokter, lab yang dipimpin oleh Dokter Edy, serta Jajaran Rumkit RS Polri RS Soekanto, Waka Rumkit Dokter Hari yang sempat mengunjungi saya dan keluarga dan atas komando Karumkit Dokter Asep sehigga saya dirawat di RS hebat ini. Tuhan telah menunjukkan kekuasaanya yang absolut itu agar manusia menerima hikmah dari dari cobaan dan ujian yang diberikanNya . Alhamdulillah. Tinggal menunggu keajaiban dari Tuhan terhadap istri saya yang berharap hasilnya negatif sama seperti saya dan anak saya. Istri saya masih melaksanakan isolasi sekitar 2 hari berikutnya. Tuhan tidak akan meninggalkan kita, sepanjang manusia tetap berbuat baik kapan pun di manapun.

Pukul 19.30 saya sudah berada di rumah, bagi saya rumah surga duniawi, tempat saya dan keluarga untuk berlindung, membangun kehidupan demografis dan sosial, kenikmatan yang tidak bisa dinilai dengan harta ketika sudah berada di rumah. Alhamdulillah. Terimakasih Dokter quu, terimakasih perawat quu, kalian adalah pejuang-pejuang kemanusia serta terimakasih RS POLRI RS Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur.

Tulisan ini saya buat adalah untuk memberikan edukasi sederhana dari saya yang kurang memahami soal kesehatan, bahwa manusia yang terpapar Covid-19 bukanlah sesuatu yang menakutkan, mati langkah atau menuju ambang kematian, melainkan ketika seseorang terpapar Covid-19 harus tetap optimis menjalani hidup, masa depan masih ada di genggaman kita. Hadapi dan damailah dengan Covid-19, tetapkan pikiran kita lebih mandiri, terima sebagai karunia, terima dengan ikhlas bahwa ini adalah bagian dari putaran hidup kita, tetap semangat manatap masa depan, sambil menerima petunjuk perawatan dari tenaga medis, kita juga harus merawat diri sendiri secara mental, spiritual dan fisik, pejuang-pejuang medis adalah unsur pembantu dan menghantar kita yang tidak memahami teknik pengobatan.

Mengelola kekuatan pribadi sungguh penting dalam menghadapi Covid-19 ini, untuk menunjang bantuan medis. Barangkali kalau kita memahami bagaimana menghadapi Covid-19, mungkin kita dapat melakukan isolasi mandiri, dengan pengawasan ketat petugas medis yang, sehingga tidak tergantung kepada ruang-ruang isolasi, yang adakalanya penuh dengan orang-orang yang harus diisolasi. Dengan demikian Pemerintah harus mulai membuat kebijakan baru, merawat pasien yang terpapar Covid-19 secara mandiri dengan menggunakan teknologi jarak jauh semacam e-medis.

Pasien cukup berada di rumah, di ruangan khusus, dipisahkan dengan keluarga, atau di tempat-tempat khusus yang dirujuk oleh pasien, mengunakan CCTV alat komunikasi, untuk memeriksa detak jantung, oksigen dalam darah, bahkan suhu badan, pengaturan penggunaan obat, saya belum tahu apakah rongent bisa dilakukan denan jarak jauh, kalau teknologinya memungkinkan dibuat, kenapa tidak dilakukan kebijakan itu, tentu ini akan berlangsung perawatan lebih efektif, petugas medis dan pasien tidak bersentuhan secara fisik, melainkan secara teknologi. Soal obat dan makanan serta vitamin, bisa disuplay oleh pusat medisnya yang disalurkan melalui keluarga atau pihak yang ditunjuk, atau ada petugas khusus. Mungkin Puskesmas bisa diberdayakan sebagai ujung tombak pelayanan medis, karena puskesmas rumah sakit terdekat dengan komunitas masyarakat, dipermodern, dibesarkan anggaranya, diperlengkapkan sarana dan prasarananya, ditingkatkan SDM-nya.

Yang lebih penting lagi adalah tindakan pencegahan oleh individu dan masyarakat, mentaati 3M secara displin ketat,  kita semua tahu penyebaran itu dipastikan melalui individu-individu dan masyarakat yang tidak mentaati protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh WHO dan Pemerintah RI. Beban ini bukan hanya di pundak Pemerintah melalui aparaturnya, akan tetapi menjadi beban masyarakat secara total. Sistem kesehatan masyarakat adalah milik masyarakat, potensi-potensi di masyarakat harus segera diklik dan diaktifkan secara massive, untuk menghentikan secara massive gelombang penyebaran Covid-19. Masyarakat harus mampu menjaga keamanan manusia (human security) bidang kesehatan, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, sebagaimana amanah Konstitusi pada alenia 4,  harus ada keseimbangan antara keamanan dan kesejahteraan. Masyarakat berhak atas kesehatanya, namun masyarakat wajib untuk menjaganya.(Oleh: Slamet Pribadi, Dosen Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
 Uskup Agung Merauke percaya masyarakat Papua tak emosional hadapi konten rasis A. Nababan
Rabu, 27 Januari 2021 - 10:35 WIB
Banyak pihak menyesalkan bahkan mengutuk rasisme oleh Ambroncius Nababan terhadap Natalius Pigai, ya...
 Bertemu Uskup Agung Jakarta, Menag diskusi penguatan moderasi beragama
Sabtu, 23 Januari 2021 - 13:25 WIB
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Jumat (22/01) petang berkunjung ke Uskup Agung Jakarta Prof Ignat...
Gerak cepat Mensos tangani bencana Sulbar dapat apresiasi mahasiswa dan milenial
Senin, 18 Januari 2021 - 16:27 WIB
Kecepatan gerak Mensos Tri Rismaharini (Risma) menangani dampak bencana di Sulawesi Barat  mendapat...
Kemenag dukung optimalisasi UKM dalam pemenuhan kebutuhan jemaah haji dan umrah
Kamis, 14 Januari 2021 - 17:33 WIB
Kementerian Agama mendukung upaya untuk mengoptimalkan peran usaha kecil dan menengah (UKM) dalam me...
NU Jatim tegaskan seluruh Ponpes sejalan dalam program vaksinasi
Kamis, 14 Januari 2021 - 13:34 WIB
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Marzuki Mustamar menegaskan seluruh komponen ...
6 program prioritas Ditjen Kebudayaan 2021 untuk jaga semangat kebudayaan tetap menyala
Senin, 11 Januari 2021 - 23:03 WIB
Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah me...
BPJPH tunggu ketetapan fatwa MUI untuk terbitkan sertifikat halal vaksin
Senin, 11 Januari 2021 - 16:14 WIB
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat telah menetapkan Vaksin Covid-19 produksi Sinovac, ...
Presiden ingin soal tahu tempe tak jadi masalah lagi
Senin, 11 Januari 2021 - 12:31 WIB
 Presiden Joko Widodo ingin agar persoalan terkait tahu tempe berikut kedelai tak menjadi persoalan...
MUI tetapkan kehalalan vaksin, Wamenag: Bentuk ketaatan regulasi, hentikan polemik
Minggu, 10 Januari 2021 - 20:11 WIB
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menetapkan Vaksin Covid-19 produksi Sinovac, halal ...
Komisi Fatwa MUI Pusat tetapkan vaksin Covid-19 produksi Sinovac halal dan suci 
Jumat, 08 Januari 2021 - 19:18 WIB
Setelah menggelar rapat pleno secara tertutup di Hotel Sultan, Jakarta pada Jumat (08/01), Komisi Fa...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV