Pewaris Samsung kembali masuk bui, dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara
Elshinta
Selasa, 19 Januari 2021 - 09:15 WIB |
Pewaris Samsung kembali masuk bui, dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara
Pewaris Samsung Lee Jae-yong tiba untuk sidang pengadilan guna meninjau permintaan surat perintah penahanan terhadapnya di Pengadilan Distrik Pusat Seoul di Seoul, Korea Selatan, 8 Juni 2020. (REUTERS)

Elshinta.com - Pewaris Samsung Lee Jae-yong dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara dalam sidang ulang kasus suap yang melibatkan mantan presiden Park Geun-hye, Senin (18/1).

Lee harus kembali berada di balik jeruji besi kurang dari tiga tahun setelah menghirup udara bebas.

Pengadilan Tinggi Seoul, dikutip dari Kantor Berita Yonhap, Selasa, menjatuhkan hukuman kepada vice chairman Samsung Electronics itu karena menyuap Park dan teman lamanya, Choi Soon-sil, untuk memenangkan dukungan pemerintah demi kelancaran transfer kekuasaan manajerial ayah-ke-anak di Samsung.

Park kemudian dimakzulkan dan digulingkan dari kursi kepresidenan karena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pekan lalu, pengadilan tinggi menguatkan hukuman penjara 20 tahun untuk Park atas tuduhan penyuapan dan penyalahgunaan kekuasaan. Choi dijatuhi hukuman 18 tahun penjara atas sejumlah tuduhan termasuk penyalahgunaan kekuasaan, pemaksaan, dan penyuapan pada bulan Juni.

Pengadilan banding mengatakan komite kepatuhan Samsung dianggap tidak cukup efektif untuk dianggap sebagai salah satu faktor untuk meringankan Lee.

Konglomerat itu membentuk komite tersebut pada Februari untuk memantau kepatuhan perusahaan terhadap hukum dan etika, setelah pengadilan yang sama memerintahkan Lee pada Oktober 2019 untuk menyusun langkah-langkah guna mencegah penyimpangan etika di Samsung.

Komite tersebut tampaknya memiliki kewenangan terbatas dan agak kabur untuk membersihkan potensi kesalahan perusahaan, menurut pengadilan.

Terkait hukuman penjara kurang dari tiga tahun, yang jauh lebih rendah dari tuntutan jaksa sembilan tahun, pengadilan mengatakan hal itu mempertimbangkan situasi Lee di mana dia mungkin merasa sangat sulit untuk menolak tuntutan suap dari presiden.

Lee kembali dibui, kurang dari tiga tahun setelah dia dibebaskan dengan hukuman percobaan.

Lee yang berusia 52 tahun didakwa pada Februari 2017 karena memberikan suap senilai 29,8 miliar won dan berjanji untuk memberi lebih banyak.

Pada 2017, dia dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena memberikan total 8,9 miliar won untuk mendukung pelatihan berkuda putri Choi dan sumbangan ke yayasan olahraga yang dijalankan oleh keluarga Choi.

Namun dia dibebaskan pada tahun berikutnya setelah pengadilan banding menjatuhkan hukuman penjara yang ditangguhkan selama 2,5 tahun, berdasarkan jumlah suap yang direvisi sebesar 3,6 miliar won.

Pada Agustus 2019, pengadilan tinggi memutuskan bahwa Lee menawarkan suap dengan total 8,6 miliar won, dan mengembalikan kasus tersebut ke pengadilan banding untuk persidangan ulang.

Putusan pada hari Senin tersebut memupuskan harapan para pendukungnya dan pemimpin perusahaan lainnya yang telah meminta pengadilan untuk memberikan keringanan hukuman terhadap pewaris Samsung tersebut, dengan alasan perannya dalam membantu mengatasi kesulitan ekonomi karena pandemi virus corona.

Menyebut putusan itu tidak adil, beberapa pendukungnya memprotes putusan di ruang sidang.

"Sifat dari kasus ini adalah penyalahgunaan kekuasaan oleh mantan presiden, yang melanggar kebebasan bisnis dan hak milik," kata Lee In-jae, salah satu pengacara Lee.

"Mengingat itu, keputusan ini sangat disesalkan," dia menambahkan.

Namun, hal itu disambut baik oleh para aktivis antikorupsi yang menuntut pengadilan menunjukkan kemauan yang kuat untuk menangani hubungan antara industri dan elit politik, yang sering disalahgunakan.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Paus Fransiskus mendarat di Mosul Irak utara
Minggu, 07 Maret 2021 - 18:25 WIB
Paus Fransiskus tiba di Mosul pada Minggu untuk berdoa di kota Irak utara yang hancur itu, yang pern...
Mahasiswa Indonesia di AS galang donasi melalui lomba virtual
Minggu, 07 Maret 2021 - 11:49 WIB
Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (PERMIAS) Midwest mengadakan lomba “The Amazing ...
Auckland bebas dari penguncian virus corona sepekan
Minggu, 07 Maret 2021 - 09:21 WIB
Auckland, kota terbesar di Selandia Baru, bebas pada Minggu dari penguncian yang ketat selama sepeka...
WHO minta negara-negara jangan kendur perangi Covid-19
Sabtu, 06 Maret 2021 - 19:10 WIB
Kedatangan vaksin COVID-19 semestinya tidak menggiurkan negara-negara untuk melonggarkan upaya melaw...
Koran Inggris wajib muat kemenangan Meghan Markle dalam kasus privasi
Sabtu, 06 Maret 2021 - 13:07 WIB
Surat kabar Inggris Mail on Sunday harus menerbitkan pernyataan halaman depan yang mengatakan Meghan...
Laporan hasil temuan tim WHO ke China diperkirakan pertengahan Maret
Sabtu, 06 Maret 2021 - 12:56 WIB
Laporan hasil temuan dari misi WHO, yang bertolak ke Wuhan China untuk menyelidiki asal mula virus p...
Emas kian terpuruk di bawah 1.700 dolar, imbal hasil dan dolar menguat
Sabtu, 06 Maret 2021 - 09:00 WIB
Harga emas kian terpuruk hingga berada di bawah 1.700 dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu p...
Kekhawatiran efek samping hilang, kepercayaan akan vaksin tumbuh
Jumat, 05 Maret 2021 - 11:56 WIB
Kepercayaan terhadap vaksin COVID-19 tumbuh, dengan kesediaan orang-orang untuk mendapatkan suntikan...
Bitcoin berada di `titik kritis` seiring lonjakkan harganya
Selasa, 02 Maret 2021 - 10:16 WIB
Bitcoin naik hampir tujuh persen pada Senin (1/3/2021) ketika aset-aset berisiko menguat setelah pen...
Orangutan yang terancam punah lahir di KB New Orleans
Selasa, 02 Maret 2021 - 09:21 WIB
Seekor orangutan Sumatra yang terancam punah lahir di New Orleans sebagai kejutan menggembirakan bag...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV