Jelang Hari Kesehatan Dunia
Makanan tidak sehat bunuh ratusan ribu orang
Elshinta
Jumat, 03 April 2015 - 06:22 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
 Makanan tidak sehat bunuh ratusan ribu orang
<p><span >Manusia harus makan untuk bertahan hidup, tapi WHO memperingatkan bahwa apa yang seseorang makan bisa membunuh mereka. Berkat globalisasi, begitu banyak jenis makanan, entah masih musimnya atau tidak, yang tersedia untuk orang di seluruh dunia.</span></p><p><span >Sayangnya, WHO mengatakan makanan bisa terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit dan bahan kimia yang berbahaya di manapun seiring dengan rantai produksi dan distribusi makanan yang pelik yang semakin berkembang akibat globalisasi.</span></p><p><span >Badan PBB tersebut mengatakan penyebab pencemaran makanan telah menyebabkan lebih dari 200 penyakit, mulai dari diare sampai kanker. Untuk pertama kalinya, WHO mengeluarkan perkiraan kasus global akibat penyakit-penyakit yang berasal dari makanan.</span></p><p><span >Departemen Keamanaan Makanan dan Direktur Zooneses Kazuaki Miyagishima mengatakan pada VOA banyak sekali bahaya terkait makanan, para ahli WHO harus membatasi penelitian mereka di penyakit-penyakit usus yang berbeda.</span></p><p><span >“Kami menemukan 22 bakteri, virus dan parasit berdasarkan perkiraan kami di tahun 2010, 22 patogen yang berbeda-beda yang menyebabkan 582 juta kasus penyakit yang disebabkan oleh makanan yang kemudian menjadi penyebab 351.000 kematian di seluruh dunia," kata Miyagishima.</span></p><p><span >Dr. Miyagishima mengatakan WHO memperkirakan bisa mempublikasikan informasi tentang kontaminasi makanan akibat bahan kimia di akhir tahun ini.</span></p><p><br></p><p><span ><strong>Kurangnya sistem kemananan pangan</strong></span></p><p><span >Ia mengatakan Afrika adalah wilayah dengan kasus penyakit usus akibat makanan tertinggi, diikuti oleh Asia Tenggara. Ia mengatakan situasinya terutama sangat buruk di Afrika karena benua tersebut tidak mempunya sistem keamanan pangan dan kesehatan yang baik. Ia mengatkan produksi dan cara makanan disiapkan cenderung berada di bawah standar keamanan higienis.</span></p><p><span >Ia mengatakan anak-anak yang masih sangat kecil adalah korban utama akibat pangan yang tidak aman.</span></p><p><span >“Empat puluh persen penyakit dan kematian terjadi pada anak-anak berusia lima tahun dan di bawahnya, dan di populasi global, populasi anak berusia di bawah lima tahun dan di bawahnya adalah sebesar sembilan persen. Jadi sembilan persen dari populasi anak-anak di dunia berkontribusi terhadap angka 40 persen penyakit yang disebabkan oleh makanan," kata Miyagishima.</span></p><p><span >WHO mendesak pemerintah di berbagai negara untuk memberlakukan undang-undang dan sistem keamanan pangan untuk melindungi warganya. WHO juga merekomendasikan pemerintah di berbagai negara untuk mengacu pada pedoman standar yang ditetapkan oleh WHO dan Organisasi Pangan dan Pertanian atau FAO.</span></p><p><span >WHO mengatakan ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh para konsumen untuk melindungi diri mereka sendiri. WHO menyarankan mereka membaca label ketika membeli makanan, mencuci tangan dan mencuci makanan, tidak menyampur makanan mentah dan dimasak menjadi satu, dan memasak makanan sampai matang.</span></p>
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kelima aktivitas ini adalah olahraga terbaik untuk tubuh anda
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Siapa sih yang tidak menginginkan bentuk tubuh yang ideal dan proporsional? Banyak di antara kita ya...
Menkes resmikan dua puskesmas perbatasan di Kalimantan Barat
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek meresmikan dua puskesmas di daerah perbatasan Kalimantan Barat, Ra...
Metanol minuman keras oplosan sebabkan kebutaan-kematian
Kamis, 12 April 2018 - 01:00 WIB
Kandungan metanol atau alkohol industri yang terdapat dalam minuman keras (miras) oplosan dan telah ...
Penelitian: Konsumsi makanan cepat saji seperti memberi tubuh infeksi bakteri
Rabu, 11 April 2018 - 01:30 WIB
Sebuah penelitian menemukan bahwa mengonsumsi makanan cepat saji seperti memberi tubuh Anda infeksi ...
Dinkes: Pengidap penyakit HIV di Kolaka meningkat
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, menyatakan bahwa jumlah pengidap penyakit HIV d...
Khasiat buah beri, turunkan berat badan hingga tangkal kanker
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
Buah beri mengandung antioksidan dan polifenol yang bagus untuk sistem pencernaan dan membantu menur...
Jus jeruk kurang baik untuk sarapan
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
Jus jeruk sepertinya tidak cocok untuk sarapan, karena hasil studi menunjukkan konsumsi fruktosa bua...
Daging merah picu kanker usus besar pada wanita
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
Konsumsi daging merah ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko kanker usus besar pada wanita, ...
IDI: Metode cuci otak dr Terawan harus diuji klinis lagi
Senin, 09 April 2018 - 06:16 WIB
Ketua Umum PB IDI Prof Ilham Oetama Marsis, SpoG mengatakan bahwa metode cuci otak dr Terawan harus...
Terapi otak dr Terawan tak perlu testimoni
Senin, 09 April 2018 - 06:16 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Prof Ilham Oetama Marsis, SpOG menyatakan...
Live Streaming Radio Network