Banjir Kudus meluas di 23 desa, lebih 32 ribu jiwa terdampak dan dievakuasi
Banjir memutus akses jalan desa hanya bisa dilalui menggunakan perahu
Ketinggia banjir di Kabupaten Kudus semakin meninggi sehingga warga di sejumlah desa mengungsi dan akses ke luar masuk desa lumpuh, Rabu (14/1/2026). Foto : Radio Elshinta Sutini
Banjir yang melanda Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terus meluas dan kian meninggi. Hingga Selasa (hari ini), banjir merendam 23 desa di lima kecamatan, memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Sejumlah warga di Kecamatan Jati mulai dievakuasi sejak siang hari. Warga Desa Jetis Kapuan dievakuasi ke Aula Kecamatan Jati, sementara warga Dukuh Guleng, Desa Pasuruhan Lor, telah lebih dulu mengungsi sejak Senin ke sejumlah lokasi aman, seperti gedung MI setempat.
“Untuk saat ini pengungsi baru mulai dievakuasi, terutama di Jetis Kapuan, Kecamatan Jati. Proses evakuasi dilakukan oleh tim gabungan PMI, TNI, Polri, dan BPBD,” laporan reporter Radio Elshinta Sutini dari lokasi banjir Rabu (13/1/2026).
Banjir juga semakin parah di Desa Setro Kalangan, Kecamatan Kaliwungu. Air merendam rumah warga dan melumpuhkan akses keluar-masuk desa, khususnya di Dukuh Karang Turi. Kendaraan roda dua dan roda empat tidak dapat melintas, sementara warga harus menggunakan perahu untuk beraktivitas.
“Untuk akses keluar masuk desa sudah tidak bisa dilalui kendaraan. Air semakin tinggi karena hujan masih terus turun.”
Kondisi serupa terjadi di beberapa dukuh lain. Bahkan, luapan sungai dari kawasan Pegunungan Muria menyebabkan air yang sempat surut kembali meninggi secara tiba-tiba, membuat desa-desa kembali terendam.
Banjir terparah dilaporkan terjadi di Kecamatan Mejobo. Sebanyak sembilan desa di wilayah tersebut terendam dengan ketinggian air lebih dari setengah meter. Pemerintah daerah telah menyiapkan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Adapun jalur Kudus–Purwodadi (Grobogan) masih tergenang cukup tinggi. Kendaraan roda dua tidak dapat melintas dan hanya kendaraan besar yang masih bisa melalui jalur tersebut. Pengendara disarankan menghindari kawasan Jetis Kapuan dan Kecamatan Jati karena ketinggian air kembali meningkat.
Pantauan Sutini, sekolah-sekolah di Kecamatan Jekulo, Mejobo, Jati, dan Kaliwungu terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar dan menerapkan pembelajaran dari rumah karena bangunan sekolah masih terendam air.
“Banjir besar sudah terjadi sejak Minggu malam. Sempat surut, lalu hujan deras kembali turun dan air naik lagi,” ujar Sutini.
Hingga kini, kondisi cuaca di Kabupaten Kudus masih mendung tebal dan sesekali disertai hujan deras serta angin kencang, sehingga warga diminta tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tekan intensitas hujan
Sementara itu Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan menjelaskan banjir terjadi akibat curah hujan tinggi dan berlangsung lama di kawasan Gunung Muria, yang mencakup wilayah Pati, Jepara, Kudus, hingga Demak. Limpahan air dari kawasan hulu tersebut mengalir ke wilayah hilir yang secara historis merupakan eks Selat Muria, kini telah berubah menjadi kawasan permukiman padat.
“Air dari Gunung Muria turun ke bawah dan menumpuk di wilayah yang berbatasan langsung dengan Sungai Juwana. Saat debit Sungai Juwana juga tinggi, air dari permukiman tidak bisa langsung terbuang,” jelasnya dalam wawancara di Radio Elshinta Rabu (14/1/2026)
Ia menambahkan, kondisi semakin berat karena di sejumlah desa tanggul sungai lebih tinggi dari permukiman, sehingga pintu air harus ditutup. Akibatnya, pembuangan air hanya bisa dilakukan menggunakan pompa, yang kapasitasnya terbatas di tengah hujan ekstrem.
BPBD mencatat, wilayah tersebut memang telah lama teridentifikasi sebagai langganan banjir setiap kali terjadi cuaca ekstrem.
“Ini memang wilayah rawan banjir. Selama aliran Sungai Juwana tinggi, air dari permukiman tidak bisa keluar. Kalau masih hujan, otomatis genangan akan naik,” kata Bergas.
Terkait upaya penanganan, BPBD Provinsi Jawa Tengah telah berkoordinasi dengan BNPB untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna menekan intensitas hujan di wilayah hulu.
“Operasi modifikasi cuaca sudah di-ACC. Tinggal menunggu waktu pelaksanaan, karena saat ini hujan masih terus terjadi,” ujarnya.
Di sisi lain, proses evakuasi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak telah dilakukan. Warga dievakuasi ke balai desa dan sekolah yang dijadikan lokasi pengungsian. Sejumlah dapur umum juga telah didirikan dan dikelola secara kolaboratif oleh desa, BPBD, Dinas Sosial, PMI, serta relawan.
“Kondisi pengungsian tersebar. Banyak desa sudah mandiri karena didukung Desa Tangguh Bencana dan relawan yang sudah paham apa yang harus dilakukan,” tutur Bergas.
Ia menegaskan, pemerintah daerah terbuka terhadap bantuan dari berbagai pihak untuk mendukung penanganan banjir.
“Logistik dari provinsi, kabupaten, maupun bantuan masyarakat berjalan. Silakan jika ada bantuan dari luar, sangat kami terima,” pungkasnya.
Deddy Ramdhani


