BMKG: Bali berpotensi mengalami kemarau ekstrem

Update: 2026-03-12 11:40 GMT

Ilustrasi: Warga menghalau sinar Matahari yang cukup terik di Denpasar, Bali, Kamis (12/3/2026) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Indomie

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Bali memprakirakan potensi musim kemarau ekstrem di Pulau Dewata karena durasi lebih panjang dan lebih kering sebagai dampak fenomena El Nino.

“Pada Juli hingga Oktober terjadi fenomena El Nino lemah, maka ini sangat berpotensi kekeringan panjang atau ekstrem,” kata Prakirawan Stasiun Klimatologi Bali Trayi Budi Samantu di sela pemaparan Musim Kemarau 2026 secara virtual di Denpasar, Bali, Kamis.

Adapun daerah di Bali yang diprakirakan rawan kekeringan ekstrem yaitu wilayah Bali bagian utara mencakup Kabupaten Buleleng dari bagian barat hingga timur, Pulau Nusa Penida, dan Kabupaten Klungkung bagian selatan.

Berdasarkan hasil analisis, lanjutnya, musim kemarau 2026 di Bali diprakirakan lebih panjang dibandingkan 2025 yakni mulai Dasarian I Maret terjadi di Pulau Nusa Penida. Kemudian disusul Dasarian II Maret, kemarau mulai masuk di wilayah Gianyar bagian selatan, Klungkung bagian selatan, dan Karangasem bagian selatan.

Daerah di Bali yang diprakirakan kemarau paling akhir adalah Bali bagian tengah hingga puncaknya 100 persen Bali sudah kemarau pada Agustus atau berdurasi total sekitar enam bulan sejak Maret 2026.

Sedangkan pada 2025, lanjut dia, musim kemarau lebih pendek yakni terjadi pada Juni-Juli hingga berakhir Agustus-September atau sekitar empat bulan.

Pihaknya memprakirakan rata-rata suhu saat musim kemarau tidak jauh dari kondisi normal yakni mencapai di bawah 35 derajat Celsius. Namun BMKG akan terus memantau perkembangan suhu secara dasarian dan bulanan.

Elshinta Peduli

Sementara itu dalam kesempatan yang sama Kepala Stasiun Klimatologi Bali Aminudin Ar Roniri menambahkan sebanyak 65 persen atau 13 Zona Musim (ZOM) di Bali mengalami musim kemarau lebih cepat atau maju, sedangkan tiga ZOM atau 15 persen terjadi sama dengan tahun lalu dan 20 persen atau empat ZOM mundur terjadi kemarau.

“Prediksi sifat musim kemarau 2026 bersifat di bawah normal yaitu 90 persen. Sifat di bawah normal ini perlu disikapi baik, terutama daerah potensi kekeringan,” ucapnya.

Untuk itu pihaknya memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah, sektor pertanian, dunia usaha, dan masyarakat, untuk memitigasi pengelolaan sumber daya air, hemat air, distribusi air untuk irigasi, serta antisipasi kekeringan dan kebakaran lahan.

Sebagai informasi, Stasiun Klimatologi Bali merupakan salah satu unit BMKG yang berkedudukan di Kabupaten Jembrana, Bali bagian barat.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News