HUT ke-26 Elshinta, Farhan: Kritik warga jadikan Bandung makin kuat
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bicara soal setahun memimpin, kebebasan kritik, dan peran radio menjaga demokrasi
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berbicara mengenai kebebasan kritik, dan peran radio menjaga demokrasi sebagai nara sumber spesial HUT ke-26 Radio Elshinta News and Talk 14 Februari 2026
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan pentingnya kritik warga dalam menjaga kualitas kepemimpinan dan demokrasi di Kota Bandung. Hal itu ia sampaikan dalam wawancara khusus HUT ke-26 Elshinta News and Talk yang dipandu Asrofi.
Dalam perbincangan tersebut, Farhan berbicara terbuka soal dinamika setahun memimpin Bandung, latar belakangnya di dunia media, hingga pandangannya tentang peran strategis radio di era digital.
“Bandung tidak pernah berhenti kreatif. Dinamikanya tinggi, masyarakatnya sangat kritis. Jadi wali kotanya kenyang dikritik. Tapi justru itu membuat saya awas terus, tidak pernah lengah,” ujar Farhan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada media, termasuk Elshinta, yang konsisten menyampaikan informasi sekaligus kritik publik.
“Pers sekarang benar-benar menjadi corong rakyat yang harus selalu didengarkan, dibaca, dan disimak oleh setiap pejabat,” katanya.
Farhan mengakui tahun pertama sebagai kepala daerah menjadi fase adaptasi yang menantang. Latar belakangnya sebagai insan media dan legislator tidak serta-merta membuat peran eksekutif menjadi mudah.
“Dalam kepemimpinan itu tidak ada remedial. Semua masalah harus dihadapi dan diselesaikan. Tidak bisa disimpan di bawah karpet,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan. “Jangan pernah berpikir bisa menyelesaikan sendiri. Semua orang harus jadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,” ucapnya.
Ketika ditanya mana yang lebih berat, menjadi anggota legislatif atau wali kota, Farhan menjawab ringan, “Lebih berat kalau jadi pengangguran.”
Dalam kesempatan itu, Farhan juga menegaskan komitmennya menjaga kebebasan berpendapat di Bandung, termasuk terhadap kritik keras yang ditujukan kepadanya.
“Saya memberikan kebebasan berekspresi, berpendapat, mengkritik. Menghujat pun tidak pernah saya larang atau tuntut,” katanya.
Ia menyebut kritik sebagai bagian dari demokrasi yang harus dihadapi dengan kepala dingin, meski tidak jarang disertai tudingan yang tajam.
“Ya hadapi saja. Itu bagian dari dinamika,” ujarnya.
Radio dan Ketahanan Informasi Nasional
Berbicara dalam momentum ulang tahun Radio Elshinta News and Talk, Farhan juga menyoroti pentingnya peran radio di tengah derasnya arus informasi digital. Ia menyinggung kehadiran layanan satelit internet seperti Starlink yang memperluas akses informasi tanpa batas geografis.
“Kita tidak pernah bisa sepenuhnya mengontrol konten internet. Tapi frekuensi radio punya karakteristik dan etika yang dijaga pengelolanya,” jelasnya.
Menurut Farhan, ribuan izin frekuensi radio di Indonesia menjadi kekuatan tersendiri dalam menjaga ketahanan informasi nasional.
“Radio bisa menjadi verifikator terakhir. Dalam situasi krisis, radio tetap jadi rujukan,” katanya.
Ia berharap di usia ke-26 tahun, Elshinta tetap konsisten menjaga akurasi dan membuka ruang partisipasi publik melalui jurnalisme warga.
“Citizen journalism bersama radio akan menjadi pilar kuat dalam menjaga demokrasi Indonesia,” pungkas Farhan. (Nak)


