HUT ke-26 Elshinta, Waketum Kadin beberkan Langkah dongkrak pertumbuhan ekonomi
Sarman Simanjorang soroti investasi, hilirisasi, UMP hingga bonus demografi sebagai kunci ekonomi Indonesia
Podcast HUT ke-26 Radio Elshinta, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sarman Simanjorang (kiri) memaparkan tantangan dan peluang ekonomi Indonesia menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029 di Menara Indomobil Jalan MT Haryono, Jakarta. Wawancara dipandu Pemimpin Redaksi Radio Elshinta Network Haryo Ristamaji (kanan).
Perayaan HUT ke-26 Radio Elshinta News & Talk 14 Februari 2026 menghadirkan sejumlah nara sumber spesial, salah satunya pelaku usaha yang sudah berpengalaman di berbagai sektor industri serta aktif di organisasi. Dalam podcast yang dipandu Pemimpin Redaksi Radio Elshinta Network Haryo Ristamaji, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sarman Simanjorang memaparkan tantangan dan peluang ekonomi Indonesia menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029.
“Selamat ulang tahun ke-26 untuk Radio Elshinta News & Talk. Semoga semakin eksis dan tetap menjadi sumber berita yang akurat dan terpercaya,” ucap Sarman Simanjorang mengawali perbincangan di studio podcast Elshinta Menara Indomobil Jalan MT Haryono, Jakarta.
Sarman menegaskan, target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan 8 persen pada 2029 bukan perkara mudah.
“Tidak bisa hanya pemerintah yang bekerja. Butuh kolaborasi, terutama sektor swasta. Sektor swasta adalah penggerak utama ekonomi nasional,” tegasnya.
Menurutnya, dunia saat ini belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi COVID-19, ditambah konflik geopolitik yang memicu ketidakpastian harga energi, gangguan logistik, hingga tekanan ekspor-impor.
Karena itu, strategi utama harus bertumpu pada kekuatan domestik: sumber daya alam, populasi besar, dan bonus demografi. Salah satu kunci utama adalah hilirisasi industri. Sarman menyayangkan praktik lama Indonesia yang mengekspor bahan mentah lalu membeli kembali produk jadi dengan harga berlipat.
“Kita punya barang mentah, dikirim ke luar negeri. Setelah diolah, dikirim lagi ke sini, harganya lima kali lipat. Artinya kita yang punya barang, tapi yang menikmati keuntungannya negara lain.”
Ia mendorong percepatan hilirisasi mineral, pertanian, perkebunan hingga kelautan agar nilai tambah dan lapangan kerja tercipta di dalam negeri.
Benchmark? Sarman menyebut Vietnam. “Vietnam pertumbuhan ekonominya ditopang investasi dan ekspor. Itu yang harus kita kejar.”
Indonesia memiliki keunggulan populasi terbesar di ASEAN dan kekayaan SDA melimpah. Namun itu tidak cukup tanpa iklim investasi yang kondusif. Ia menyoroti pentingnya kepastian hukum, reformasi perizinan, integrasi pusat-daerah, serta pemberantasan korupsi karena sangat memengaruhi psikologi investor.
“Orang yang sudah bawa uang ke negara kita itu harus diperlakukan baik. Itu aset,” katanya.
UMP dan produktivitas: Polemik tahunan harus disudahi
Isu upah minimum provinsi (UMP) kembali menjadi perhatian. Menurut Sarman, polemik tahunan soal UMP bisa mengganggu iklim usaha. “Kita harus menemukan format pengupahan yang tepat, yang bisa diterima pengusaha dan menjamin kesejahteraan pekerja.”
Ia menekankan keseimbangan antara kenaikan upah dan produktivitas. “Kalau ingin kesejahteraan naik, produktivitas juga harus naik. Profit perusahaan itu didorong produktivitas,” ujarnya.
Revisi UU Ketenagakerjaan diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang agar demo UMP tak lagi jadi agenda rutin setiap akhir tahun.
Sarman juga menyoroti momentum bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Pada 2030, sekitar 60 persen penduduk Indonesia berada di usia produktif. “Kalau kita gagal kelola bonus demografi, ini bisa jadi isu sosial besar.”
Ia mengusulkan pembentukan Satgas Bonus Demografi untuk memetakan angkatan kerja secara detail—lulusan SMK, S1, S2, hingga bidang keahlian—agar bisa disiapkan sesuai kebutuhan industri.
Tanpa perencanaan matang, jutaan lulusan baru setiap tahun berpotensi menambah pengangguran.
“Magang ini bagus. Mereka dapat skill, pengalaman, uang saku, dan memahami dunia kerja,” kata Sarman. “Digitalisasi tidak bisa kita hindari. Anak muda harus adaptif. Dengan skill digital, mereka bisa kerja dari mana saja, bahkan dibayar dolar,” lanjutnya.
Menurutnya, generasi muda harus mampu membaca peluang di era ekonomi digital, termasuk menjadi pelaku usaha baru berbasis teknologi.
Menilai perjalanan awal pemerintahan Prabowo, Sarman realistis. Tantangan global belum mereda, bahkan cenderung memanas. “Geopolitik dunia belum kondusif. Ini bukan situasi yang gampang,” ujarnya. Namun ia optimistis, dengan strategi investasi, hilirisasi, penguatan ekspor, dan pengelolaan bonus demografi, target 8 persen bukan mustahil.
Pesan untuk Elshinta dan publik
Di akhir perbincangan HUT ke-26 Elshinta, Sarman kembali menegaskan pentingnya peran media.
Media seperti Elshinta, katanya, menjadi ruang diskusi kritis sekaligus jembatan informasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. “Kolaborasi itu kunci. Pemerintah, swasta, pekerja, media, semua harus bergerak bersama,"pungkasnya menutup wawancara. (Nak)


