IATA pastikan tambang aman, produksi 2025 capai 80%
MNC Energy Investments tegaskan operasional tambang tak terdampak bencana Sumatera dan target produksi 2025 tercapai sesuai RKAB.
Elshinta/ AWP
JAKARTA — Presiden Direktur PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) Suryo Eko Hadianto menegaskan bahwa seluruh kegiatan operasional tambang perseroan tidak terdampak bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera dalam beberapa waktu terakhir.
“Menyikapi berbagai pertanyaan klien kami, dari para buyer yang menanyakan berbagai hal terkait dengan bencana, terkait dengan peraturan-peraturan yang ada, juga terkait dengan kondisi IATA secara keseluruhan, maka pada hari ini kami memang akan menyampaikan keterkaitan hal-hal tersebut,” ujar Suryo dalam jumpa pers PT MNC Energy Invesments TBK di Kantor MNC Center Jakarta, Jumat (9/1)
Ia menegaskan lokasi tambang IATA berada di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang jauh dari wilayah terdampak bencana seperti Sumatera Barat, Aceh, dan Kepulauan Mentawai.
“Posisi tambang kami ada di Musi Banyuasin. Itu relatif jauh dari bencana yang terjadi saat ini, yaitu di Sumatera Barat, di Aceh, dan juga di daerah Mentawai. Sehingga seluruh kegiatan operasi yang berjalan dari tambang IATA tidak ada yang terkendala oleh adanya kejadian bencana ini,” kata dia.
Adapun Suryo memaparkan, pada 2025 IATA menargetkan coal getting sebesar 4,38 juta ton sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Realisasi coal getting tercatat sebesar 3,559 juta ton atau sekitar 81 persen dari target.
“Secara RKAB, coal getting itu BCR secara total 4,38 juta ton. Real coal getting itu sebesar 3,559 juta ton atau tercapai sekitar 81 persen,” ujarnya.
Sementara dari sisi produksi, target RKAB 2025 sebesar 4,2 juta ton, dengan realisasi produksi 3,379 juta ton atau sekitar 80 persen.
“Dari sisi rencana produksi, tahun 2025 secara RKAB itu 4,2 juta ton, realisasi kami di 3,379 juta ton atau sekitar 80 persen,” kata Suryo.
Lebih lanjut Untuk 2026, Suryo menegaskan bahwa paparan produksi yang disampaikan masih bersifat indikatif karena perseroan masih dalam proses pengajuan RKAB ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Paparan berikut ini sebetulnya adalah paparan yang masih bersifat indikatif karena kami sedang dalam proses pengajuan RKAB di Kementerian ESDM. Sehingga angka ini masih sangat tentatif atau subject to dari persetujuan dari Menteri ESDM itu sendiri,” ujarnya.
Dalam pengajuan tersebut, IATA mengajukan produksi dari Arthaco Prima Energy (APE) sekitar 3 juta ton, Indonesia Batu Prima Energy (IBPE) 1,1 juta ton, dan Putra Moba Coal (PMC) 3,7 juta ton, dengan total produksi yang diajukan sebesar 7,85 juta ton.
“Dalam pengajuan kami di RKAB tahun 2026, APE itu sekitar 3 juta ton, IBPE 1,1 juta ton, PMC 3,7 juta ton. Sehingga total produksi nyata adalah 7,85 juta ton tahun 2026. Sekali lagi ini masih bersifat tentatif, masih indikatif, karena kami juga masih menunggu dari Kementerian ESDM nanti persetujuannya seperti apa,” kata Suryo.
Menanggapi kekhawatiran buyer terkait peraturan daerah di Sumatera Selatan mengenai penggunaan jalan umum untuk angkutan batubara, Suryo memastikan seluruh tambang IATA tidak menggunakan jalan negara. Dengan demikian, ia memastikan aturan tersebut tidak berdampak pada operasional tambang APE, IBPE, maupun PMC.
“Secara garis besar saya ingin menyampaikan bahwa seluruh tambang IATA tidak ada yang bersinggungan atau cross section dengan jalan negara. Semuanya menggunakan fasilitas jalan khusus batubara yang kami develop sendiri dari tambang ke pelabuhan, sehingga peraturan yang ada di pemerintahan Sumatera Selatan saat ini tidak ada dampaknya bagi kegiatan operasional tambang-tambang yang dioperasikan oleh IATA, yaitu APE, IBPE, maupun PMC. ” tegasnya.
Suryo menjelaskan, tambang APE memiliki cadangan batubara sebesar 222 juta ton dengan kualitas 3.100–3.300 GAR. Jarak angkut dari tambang ke pelabuhan juga relatif pendek. Ia pun menambahkan, jalan tersebut merupakan jalan khusus batubara yang dikembangkan sendiri dan tidak bersinggungan dengan jalan umum.
“Tambang APE ini punya cadangan batubara sebesar 222 juta ton dengan kualitas berada pada rentang 3.100 sampai 3.300 GAR. Sementara dari sisi pengangkutan batubara dari tambang ke port jaraknya hanya sekitar 10 kilometer. Ini sangat pendek, Nah jalan ini kami develop sendiri sebagai jalan khusus batubara dan tidak bersinggungan dengan jalan-jalan umum,” pungkas Suryo.
Ia berharap paparan tersebut dapat menjadi informasi yang valid bagi masyarakat, investor dan pemegang saham.
(Awaludin Marifatullah)


