Laporan PBB: Paparan radiasi alam Mamuju capai 9 kali rata-rata dunia
Logo Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, Jumat (3/2/2023). ANTARA/AstridFaidlatulHabibah
Laporan United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation/UNSCEAR 2024 yang diumumkan pada 12 Februari 2026 menyebutkan Mamuju, Sulawesi Barat, menerima paparan radiasi alam hampir sembilan kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Representative Indonesia untuk UNSCEAR dan juga Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nur Rahmah Hidayati mengatakan Mamuju diklasifikasikan sebagai High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) atau wilayah dengan radiasi latar belakang tinggi dalam laporan tersebut.
Estimasi dosis efektif tahunan dari sumber radiasi alam di wilayah ini mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun. Sebagai perbandingan, rata-rata dosis efektif tahunan dari radiasi alam secara global diperkirakan sekitar 3,0 mSv per tahun.
"Jika dibandingkan, paparan yang diterima penduduk Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dari rata-rata dunia," kata Nur Rahmah melalui keterangan di Jakarta, Senin.
Nur Rahmah menjelaskan, tingginya paparan di Mamuju terutama disebabkan oleh kandungan uranium dan thorium yang sangat tinggi di dalam tanah.
Konsentrasi Uranium-238 dan Thorium-232 di beberapa lokasi di Mamuju dilaporkan berada pada kisaran ratusan hingga lebih dari 1.000 Becquerel/kilogram (Bq/kg), sementara rata-rata global masing-masing sekitar 33 Bq/kg untuk Uranium-238 dan 45 Bq/kg untuk Thorium-232.
Selain itu, konsentrasi Radon di luar ruangan di Mamuju berkisar antara 22 hingga 760 Becquerel/meter kubik (Bq/m³), dengan rata-rata sekitar 290 Bq/m³.
"Angka ini tergolong sangat tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap dosis radiasi yang diterima masyarakat setempat," ujarnya.
Meski demikian, Nur Rahmah mengungkapkan gaya bangunan dan kebiasaan hidup masyarakat lokal membantu mencegah akumulasi radon yang lebih tinggi di dalam rumah.
Faktor ventilasi alami dan struktur bangunan tradisional menjadi salah satu penjelasan mengapa konsentrasi radon dalam ruangan tidak meningkat secara drastis dibandingkan lingkungan luar.
"Keberadaan wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju dinilai penting secara ilmiah karena dapat menjadi lokasi penelitian untuk memahami dampak paparan radiasi rendah secara jangka panjang terhadap kesehatan manusia," ucap Nur Rahmah Hidayati.


