Pedagang Pasar Induk Kramat Jati keluhkan gunungan sampah setinggi 5 meter
Pengelola Pasar Induk Kramat Jati menjelaskan gunungan sampah itu dipicu keterbatasan armada pengangkut dalam beberapa waktu terakhir
Gunungan sampah setinggi hampir 5 meter lebih di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Induk Kramat Jati. Foto : Radio Elshinta Heru Lianto
Gunungan sampah setinggi hampir 5 meter lebih di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Induk Kramat Jati, dikeluhkan pedagang karena menimbulkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas jual beli selama lebih dari sebulan terakhir.
Apalagi bau busuk dari tumpukan sampah yang menggunung itu kian terasa menyengat, terutama saat hujan turun. Ironisnya, air yang bercampur dengan limbah sampah mengalir hingga ke area lapak pedagang.
Pantauan Radio Elshinta, mayoritas gunungan sampah itu berasal dari sayur mayur dan buah-buahan yang busuk. Sementara di sekitaran area TPS tersebut jalanan becek pasca diguyur hujan.
Salah seorang pedagang, Yuli, mengatakan tumpukan sampah yang menggunung tersebut sudah berlangsung lebih dari satu bulan dan semakin mengganggu kenyamanan pembeli maupun para pedagang.
“Sudah lebih dari satu bulan, baunya sangat menyengat. Apalagi kalau hujan, becek dan airnya bercampur dengan sampah. Bau sampai masuk ke dalam lapak, pembeli juga pada mengeluh,” kata Yuli ditemui Radio Elshinta di lokasi, Jumat (27/3)
Menurut Yuli, para pedagang sebenarnya rutin membayar iuran kebersihan setiap hari. Namun, kondisi sampah di pasar tak kunjung tertangani secara maksimal.
“Kita tiap hari bayar, bisa Rp15 ribu sampai Rp20 ribu. Tapi sampah tetap tidak diperhatikan. Malah sampai makan jalan. Pedagang sudah sering komplain, tapi tidak ada tanggapan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tumpukan sampah yang tidak terangkut seluruhnya membuat sebagian pedagang mulai bersikap pasrah terhadap kondisi tersebut.
“Kita mau ngomong ke siapa? Mau berbuat apa? Sekarang pedagang sudah masa bodoh, karena sering ditanyakan juga tidak ada jawaban,” kata dia.
Sementara Manager Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, mengakui adanya penumpukan sampah tersebut. Agus beralasan, gunungan sampah itu dipicu keterbatasan armada pengangkut dalam beberapa waktu terakhir.
“Memang gunungan sampah itu terjadi karena kurangnya armada pengangkut," ujar Agus.
Lebih lanjut Agus menyebut, kendala pengangkutan sampah sebelumnya turut dipengaruhi kondisi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang sempat longsor sehingga mengalami gangguan operasional.
“Beberapa waktu lalu ada kendala di Bantargebang, sehingga berdampak pada pengangkutan sampah dari pasar,” kata Agus.
Namun demikian, persoalan sampah di wilayahnya tetap menjadi perhatian karena berdampak pada kenyamanan pengunjung dan kelancaran aktivitas di pasar. Ia pun menargetkan, dalam waktu dua minggu ke depan, persoalan penumpukan sampah dapat teratasi jika armada pengangkut beroperasi secara optimal setiap hari.
“Kalau 21 armada berjalan setiap hari, Insya Allah dua minggu ke depan sudah bisa terkendali,” ujarnya.
Diketahui, tumpukan sampah menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, sempat viral dan menarik perhatian warga pada Januari lalu. Pasalnya ketinggian tumpukan sampah yang mencapai 6 meter tersebut menyebabkan pembatas tembok pembatas antar perkampungan warga jebol.
Heru Lianto


