Ramadan Prof Djohermansyah Djohan, refleksi sang koki otonomi
Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (2010–2014), Guru Besar IPDN Prof. Djohermansyah Djohan. Foto : Istimewa
Bulan Ramadan bagi Prof. Djohermansyah Djohan bukan sekadar ritual tahunan. Ia memaknainya sebagai ruang rahmat, jeda refleksi, dan ladang pengabdian yang tak pernah selesai.
Dalam perbincangan di Program Hikmah Ramadan Radio Elshinta, 2 Maret 2026, guru besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri itu berbagi pengalaman spiritual yang sederhana, hangat, dan membumi.
Ramadan, ujarnya, adalah bulan ketika rahmat dikucurkan, ampunan dibukakan, pembebasan dari azab yang pedih, dan di bulan 1000 bulan itu manusia diberi kesempatan memperbarui diri menaikkan kelas ketaqwaannya.
Pengalaman paling membekas baginya terjadi pada Juli 1980, ketika di hari keempat puasa ia dikaruniai anak pertama.
“Itu rahmat terbesar dalam hidup saya,” kenangnya dalam wawancara yang dipandu Suwiryo.
Ramadan, bagi Prof. Djo, bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga penanda perjalanan hidup yang penuh syukur. Ia juga mengingat pengalaman spiritual lain: beribadah di Tanah Suci pada bulan Ramadan dan berkesempatan mencium Hajarul Aswad.
Bagi seorang akademisi dan mantan birokrat, pengalaman itu bukan sekadar capaian religius, melainkan pengingat bahwa jabatan dan peran publik tetap harus mengacu pada posisi kita sebagai hamba, insan kamil.
Sebagai mantan Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (2010–2014), Ramadan ketika masih aktif di birokrasi tentu berbeda. Dahulu, ia harus berpacu dengan waktu, terjebak kemacetan Jakarta menjelang berbuka, bahkan kerap berbuka di perjalanan.
Kini, sebagai akademisi senior yang telah purna tugas struktural, ia lebih leluasa mengatur ritme. Subuh dimulai dengan mengaji. Siang hingga sore diisi aktivitas akademik dan melayani diskusi publik. Malam hari diupayakan tetap untuk keluarga dan tarawih berjamaah di masjid dekat rumah.
Namun purnatugas bukan berarti berhenti mengabdi. Isu-isu pemerintahan daerah tetap membuatnya dicari media. Bahkan di tengah tarawih pun, panggilan diskusi publik bisa datang.
Ia menyikapinya dengan tenang. “Itu juga bagian dari kebaikan. Kita jalani dengan ikhlas,” tuturnya.
Di situlah Ramadan menemukan relevansinya: menyeimbangkan ibadah personal dengan tanggung jawab sosial.
Ramadan kali ini ia jalani berdua bersama istri. Anak dan cucu telah memiliki kehidupan masing-masing. Rasa sepi tentu ada, terutama saat sahur dan berbuka. Namun, ia mengatasinya dengan memperluas makna keluarga. Kerabat dan sahabat diundang berbuka bersama.
Lingkungan masjid menjadi ruang silaturahmi. Dengan begitu, rumah tetap hidup, dan Ramadan tetap terasa hangat. Mulai dari takjilan bersama, hadiri kultum jelang tarawih, hingga menyiapkan dan menyalurkan paket sembako dari infaq dan zakat jamaah kepada mustahiq di lingkungan RW nya jelang Idul Fitri.
Ia mencontohkan bagaimana spiritualitas tidak berhenti pada relasi vertikal, tetapi juga diperkuat oleh jejaring sosial. Masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat kebersamaan dan kemakmuran warga.
Sebagai putra Minangkabau yang kuat adat dan syaraknya, Ramadan juga sarat tradisi. Sehari menjelang puasa, keluarga melakukan “merendang” memasak rendang khas keluarga. Hari pertama puasa, hidangan itu menjadi simbol syukur dan kebersamaan sekaligus pengobat rindu kampung nan jauh di mata.
Menu berbuka sederhana namun sarat makna: tiga butir kurma dan teh manis hangat. Sesekali, teh talua, minuman khas Minangkabau, hadir di akhir pekan sebagai nostalgia kampung halaman.
Tradisi seperti itu, bagi Prof. Djo, bukan sekadar soal rasa. Ia adalah pengikat identitas dan pengingat akar budaya sebagai orang Minang.
Dari kisah-kisahnya, Ramadan tampak bukan hanya sebagai bulan ibadah individual, melainkan momentum merawat keseimbangan: antara tugas publik dan keluarga, antara tradisi dan modernitas, antara aktivitas dan kontemplasi.
Dalam usianya yang matang, Prof. Djohermansyah memperlihatkan bahwa pengabdian tidak berhenti saat jabatan selesai. Ia hanya berubah bentuk sesuai pepatah "old pamong never die, they just fade away".
Ramadan menjadi pengingat bahwa rahmat Allah hadir dalam kelahiran anak pertamanya, kesempatan beribadah, keluarga yang sederhana, hingga panggilan berbagi ilmu di tengah malam.
Sejuk, bijak, dan membumi itulah Ramadan yang ia jalani. Bukan Ramadan yang hiruk-pikuk, melainkan Ramadan yang hening namun produktif. Sebuah teladan bahwa spiritualitas sejati justru menemukan maknanya dalam keseharian yang dijalani dengan ikhlas dan tanggung jawab sang Koki Otonomi Daerah ini.
Nico Aquaresta


