Nama Sjafrie Sjamsoeddin muncul dalam survei bakal Capres 2029

Survei IPI mencatat munculnya sejumlah menteri dan gubernur sebagai figur baru potensial capres 2029.

Update: 2026-02-09 13:22 GMT

Elshinta/ ADP

Elshinta Peduli

Lembaga survei Indonesian Public Institute (IPI) merilis peta elektabilitas calon presiden 2029 yang menunjukkan masuknya sejumlah figur baru ke dalam bursa bakal capres. Nama-nama tersebut berasal dari kalangan menteri hingga kepala daerah.

“Berdasarkan hasil survei terbaru kami, sejumlah wajah-wajah baru masuk dalam bursa bakal capres 2029 seperti Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa,” ujar Peneliti IPI Abdan Sakura dalam konferensi pers rilis hasil survei bertajuk ‘Peta Elektabilitas Calon Presiden 2029’ di Semanggi, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Dalam hasil survei tersebut, wajah-wajah baru masuk dalam jajaran 10 besar tokoh potensial capres 2029. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berada di peringkat ketujuh dengan elektabilitas 7,5 persen, disusul Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa 4,9 persen dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda 3,8 persen.

“Elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah, seperti Mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan yang berada di urutan ke-4 dengan elektabilitas 8,5 persen, lalu Gubernur Jakarta sekarang Pramono Anung di urutan ke-5 (elektabilitas 7,8 persen) dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (7,9 persen),” jelas Abdan.

Abdan menyebut, kemunculan figur-figur baru tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor penentu elektabilitas, mulai dari kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, hingga visi, misi, dan program kerja.

Ia mencontohkan, terdapat empat indikator utama yang memperkuat elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin, yakni kepemimpinan dan ketokohan sebesar 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.

Elshinta Peduli

“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafri Syamsuddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukunganelektoral. Celah inilah yang membuka ruang bagi dinamika politik baru terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya 'pemain utama. Sementara itu, rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan bahwa popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual,” jelas dia.

Lebih lanjut, Abdan mengungkapkan bahwa puncak elektabilitas masih dikuasai Presiden Prabowo Subianto dengan angka 22,3 persen. Jarak elektabilitas tersebut cukup signifikan dibandingkan tokoh-tokoh lainnya. Gibran Rakabuming Raka berada di posisi kedua dengan elektabilitas 12,2 persen, disusul Ganjar Pranowo 9 persen.

“Nama-nama besar masih mendominasi persepsi publik, seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan menempati posisi teratas baik dalam penilaian kelayakan maupun elektabilitas, menunjukkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam imajinasi pemilih. Namun, jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang relatif moderat mengindikasikan satu hal penting, publik mengenal dan menilai, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan,” pungkas Abdan.

Survei IPI dilakukan pada 30 Januari hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden berusia 17 hingga 65 tahun yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Arie Dwi Prasetyo)

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News