Tips penanganan GERD saat mudik
Ilustrasi GERD. (ANTARA/Shutterstock/Orawan Pattarawimonchai)
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi lulusan Universitas Indonesia Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K) mengatakan penting untuk mengetahui penanganan yang tepat jika terdapat gejala Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) saat perjalanan mudik apalagi jika masih menjalankan ibadah puasa.
“Ketika merasakan gejala GERD tetapi Anda masih berada dalam perjalanan dan kondisi berpuasa, lakukan langkah berikut untuk meredakan gejala,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa.
Langkah pertama yang disarankan Hasan adalah longgarkan pakaian. Jika menggunakan ikat pinggang atau pakaian yang ketat, segera longgarkan karena tekanan pada perut dapat memperburuk aliran balik asam lambung.
Kedua, atur posisi duduk dengan tegak, jangan membungkuk atau meringkuk. Jika memungkinkan, sandarkan punggung dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut untuk memanfaatkan gaya gravitasi agar asam lambung tidak terus naik.
Ketiga, lakukan pernapasan dalam dengan tarik napas melalui hidung dan buang perlahan melalui mulut. Hal ini membantu merelaksasi otot saluran cerna dan mengurangi rasa panik yang dapat memperburuk produksi asam lambung.
“Jika kondisi tidak mereda dan terjadi gejala berat yang ditandai dengan nyeri ulu hati sangat hebat disertai muntah atau sesak napas, maka sebaiknya jangan memaksakan diri. Segerakan berbuka dengan air hangat (bukan air dingin atau air dengan es batu) dan konsumsi obat jika perlu,” katanya.
Hasan mengingatkan untuk menghindari mengonsumsi makanan maupun minuman yang dapat memperburuk kondisi. Namun, jika gejala GERD yang dialami tak berangsur pulih, segera kunjungi unit gawat darurat atau Emergency rumah sakit terdekat untuk penanganan yang tepat.
Ini juga menjadi catatan penting untuk para pemudik untuk mengetahui alamat-alamat rumah sakit di jalur mudik yang dilewati jika sewaktu-waktu butuh pertolongan medis yang cepat.
GERD atau penyakit refluks asam lambung adalah gangguan pencernaan di mana cairan asam lambung “naik” dari lambung ke kerongkongan dan mengiritasi lapisan bagian dalam saluran pencernaan yang dilewati asam lambung.
Umumnya saat terjadi kekambuhan, penderita GERD mengalami rasa asam atau pahit di mulut (regurgitasi asam) dan sensasi perih atau panas terbakar di dada dan ulu hati (heartburn). Selain itu, penderitanya juga kerap merasakan mual dan muntah, begah, nyeri dada, bahkan gangguan pernapasan.
Saat dalam perjalanan, kondisi GERD dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain terburu-buru makan dan minum saat sahur atau ketika berbuka di perjalanan, mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein berlebihan.
Selain itu posisi duduk terlalu lama yang menyebabkan tekanan pada area perut, sehingga mendorong asam lambung naik dan stres serta kelelahan dalam perjalanan.
Hasan mengatakan bagi penderita GERD yang berencana mudik tetapi ingin tetap berpuasa secara aman, hal-hal yang perlu diperhatikan di antaranya tetap makan sahur meski sedang berada dalam perjalanan. Pilih karbohidrat kompleks dan serat tinggi dengan porsi yang cukup. Upayakan untuk tidak terburu-buru saat makan dan minum.
Hindari juga "balas dendam" saat berbuka puasa. Makan dalam porsi kecil tetapi sering lebih baik dibandingkan dengan sekali makan besar yang membuat lambung menjadi “kaget”.
Disarankan juga untuk jangan langsung tidur setelah makan. Beri jeda minimal 3 jam setelah makan (sahur/buka) sebelum berbaring. Penting juga untuk mengelola stres dengan baik selama perjalanan yang berisiko meningkatkan asam lambung. Tetaplah tenang dan beristirahatlah secara berkala di rest area.


