Ramadan identik dengan belanja dan konsumsi yang meningkat

Mengapa belanja dan konsumsi meningkat saat Ramadan? Simak alasan budaya, sosial, psikologis, dan tips belanja bijak agar tetap hemat.

Update: 2026-01-26 11:20 GMT

Ramadan identik dengan belanja dan konsumsi yang meningkat (Sumbe:Istimewa)

Elshinta Peduli

Belanja Ramadan meningkat menjelang bulan suci. Banyak orang mulai menyiapkan kebutuhan rumah tangga, menu sahur dan buka puasa, serta camilan untuk tamu dan keluarga. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tapi dipengaruhi oleh budaya, sosial, psikologis, dan ekonomi.

Memahami alasan di balik lonjakan konsumsi membantu kita menata pengeluaran lebih bijak sambil tetap menikmati Ramadan dengan nyaman.

Kebutuhan rumah dan keluarga

Menjelang Ramadan, kebutuhan rumah tangga memang meningkat drastis. Bahan pokok seperti beras, minyak, telur, sayur, dan buah biasanya dibeli dalam jumlah lebih banyak.

Banyak keluarga juga menyiapkan kue kering, kurma dan camilan agar buka puasa terasa lebih hangat dan lengkap. Fenomena ini membuat supermarket dan toko online ramai sejak Ramadan.

Di beberapa toko sudah menyiapkan promo khusus untuk kebutuhan ramadan untuk menarik minat konsumen. Selain itu, keluarga yang memiliki anak biasanya menyiapkan amplop Lebaran lebih awal.

Hal ini mendorong pembelian produk tambahan, mulai dari mainan kecil hingga permen dan camilan yang bisa diberikan kepada anak-anak saat berbuka puasa bersama keluarga atau tetangga.

Tradisi sosial mendukung konsumsi

Ramadan adalah bulan sosial, sehingga tradisi berbagi memperkuat konsumsi. Banyak keluarga menyiapkan hidangan untuk tamu atau kue kering Lebaran yang selalu menjadi bagian penting meski harganya relatif tinggi.

Elshinta Peduli

Budaya ngabuburit dan buka bersama juga mendorong orang membeli camilan, minuman, dan makanan ringan.

Momen ini juga menjadi kesempatan bagi pebisnis, baik skala kecil maupun besar, untuk memperkenalkan produk baru.

Misalnya, minuman kemasan segar, snack sehat, atau kue kering premium yang dikemas khusus untuk Ramadan, dapat menjadi pilihan yang praktis sekaligus menarik bagi konsumen.

Faktor psikologis dan ekonomi

Selain kebutuhan fisik dan budaya, ada faktor psikologis yang mendorong konsumsi meningkat. Banyak orang ingin menyambut Ramadan dengan rumah rapi, menu lengkap, dan perasaan siap menghadapi ibadah.

Perasaan aman dan puas ini mendorong pembelian lebih banyak, terutama produk tahan lama seperti kue kering, camilan, atau minuman segar yang bisa digunakan selama beberapa hari.

Secara ekonomi, Ramadan menjadi periode high spending, di mana brand memaksimalkan promosi dan kampanye yang relevan.

Banyak masyarakat yang terdorong untuk memanfaatkan promo diskon, cashback, atau bundling produk agar pengeluaran lebih efisien. Awal puasa dan menjelang hari raya banyak promo besar-besaran untuk berputarnya ekonomi.

Kondisi ini membuat tren belanja dan konsumsi meningkat setiap tahunnya, dan menjadi momen penting bagi bisnis untuk mendongkrak penjualan.

Tips belanja Ramadan yang bijak dan efektif

Agar tetap menikmati Ramadan tanpa boros, beberapa tips berikut bisa diterapkan:

  • Buat daftar kebutuhan rumah, menu sahur dan buka puasa
  • Pisahkan kebutuhan pokok dan tambahan agar tidak berlebihan.
  • Pilih produk tahan lama, seperti kue kering premium, snack sehat, atau minuman kemasan.
  • Manfaatkan promo secara bijak, fokus pada kualitas dan efisiensi.

Tips tersebut bisa digunakan saat ramadan dan menjelang Lebaran untuk menggunakan uang lebih bijak dan efektif beberapa hal yang perlu dicermati untuk mengatur keuangan.

Misalnya,membeli dengan sekala kecil untuk camilan sehat, minuman kemasan, atau kue kering premium sebagai contoh pilihan praktis untuk Ramadan. Pilihan yang tepat bisa mengatur keuangan lebih baik dan ibadah ramadan semakin khusyuk.

Belanja dan konsumsi meningkat saat Ramadan karena kombinasi kebutuhan rumah, tradisi sosial, faktor psikologis, dan ekonomi.

Dengan menata persiapan, membuat daftar, dan memilih produk secara bijak, Ramadan tetap bisa nyaman, bermakna, dan hemat.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News