Alissa Wahid: Negara punya hutang pelayanan kepada jamaah haji lansia

Lansia butuh kebijakan khusus, terutama pada fase Armuzna.

Update: 2026-01-20 07:32 GMT

Elshinta/ Bher

Elshinta Peduli

Jamaah haji lansia membutuhkan kebijakan dan pelayanan khusus yang disesuaikan dengan kondisi fisik serta kemampuan mereka. Hal tersebut disampaikan Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid, berdasarkan pengalamannya dalam pemantauan dan pendampingan penyelenggaraan ibadah haji.

Menurut Alissa, tantangan yang dihadapi jamaah lansia Indonesia di Arab Saudi sangat berat, terutama dari sisi fisik dan faktor demografi.

“Kalau lansia itu tantangan fisiknya saja sudah sangat menantang. Sehingga ukuran-ukuran mampu itu perlu untuk terus dikaji,” ujar Alissa.

Ia menekankan pentingnya kebijakan yang benar-benar memudahkan jamaah haji lansia, khususnya pada fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), yang dikenal sebagai tahapan paling berat secara fisik.

“Ketika ada kondisi-kondisi tertentu dan jamaah harus segera dibawa kembali ke hotel karena memang tidak bisa beradaptasi dengan kondisi Mina, mekanisme-mekanisme itu perlu dipikirkan dengan baik, dimitigasi,” jelasnya.

Alissa menegaskan bahwa pelayanan terhadap jamaah lansia merupakan tanggung jawab negara yang tidak bisa dihindari.

“Negara punya hutang kepada para jamaah haji lansia,” tegasnya.

Menurut Alissa, keberadaan dan kesiapan petugas haji sangat menentukan rasa aman dan kenyamanan jamaah, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan perempuan.

“Petugas haji adalah sumber rasa aman, sumber rasa nyaman bagi para jamaah haji, terutama jamaah haji lansia dan perempuan,” katanya.

Ia menilai, pelayanan yang tepat dan berbasis kebutuhan lansia tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berkontribusi pada penurunan risiko kesehatan selama pelaksanaan ibadah haji.

“Ini bukan sekadar kegiatan kementerian, tetapi ini hutang kepada para jamaah haji,” pungkas Alissa. (Bhery Hamzah)

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News