Menuju petugas haji mabrur, ini lima dimensi yang harus dimiliki
Psikolog tekankan kemabruran petugas haji bukan sekadar tugas teknis.
Elshinta/ Bher
Jakarta – Predikat haji mabrur tidak hanya ditujukan bagi jemaah, tetapi juga dapat diraih oleh petugas haji. Konsep tersebut disampaikan Guru Besar Psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., M.Si., dalam Diklat PPIH Arab Saudi 2026 yang digelar Kementerian Agama di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Dalam materinya bertajuk Psikologi Petugas Haji Menuju Predikat Mabrur, Prof. Mujib menekankan pentingnya perubahan paradigma petugas, dari sekadar pelaksana tugas teknis menjadi pelayan tamu Allah yang memiliki kesadaran spiritual dan ketangguhan mental.
“Kemabruran petugas ditandai keikhlasan, perubahan akhlak, serta orientasi ibadah yang bersih dari kepentingan pribadi,” ujarnya.
Ia memaparkan, terdapat lima dimensi kemabruran yang harus terintegrasi dalam diri petugas haji. Pertama, dimensi biologis atau fisik, mengingat sebagian besar aktivitas haji bersifat fisik dan menuntut stamina prima. Kedua, dimensi psikologis, yakni kestabilan emosi dan kesiapan melayani jemaah dalam kondisi apa pun.
Dimensi ketiga adalah sosiologis, yaitu kemampuan beradaptasi dengan budaya Arab Saudi serta toleransi terhadap perbedaan karakter dan latar belakang jemaah. Keempat, dimensi profesional, yang menuntut disiplin, tanggung jawab, dan standar kerja tinggi. Sementara dimensi kelima adalah spiritual, dengan memaknai setiap kelelahan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Selain itu, Prof. Mujib menjelaskan hierarki kesadaran petugas, mulai dari sekadar “hadir secara fisik”, melayani sebatas tugas formal, hingga level tertinggi sebagai petugas yang benar-benar menjadi solusi bagi jemaah.
“Petugas ideal adalah mereka yang kehadirannya dirasakan manfaatnya oleh jemaah, bukan sekadar menjalankan kewajiban administratif,” tegasnya.
Ia juga menekankan fungsi operasional petugas di lapangan yang mencakup upaya preventif, regulatif, suportif, dan protektif, termasuk menjaga kesehatan mental sesama petugas agar tidak mengalami kelelahan ekstrem selama bertugas.
Materi ini diharapkan dapat membekali PPIH Arab Saudi 2026 dengan kesiapan mental, profesionalisme, dan spiritualitas yang kuat demi pelayanan haji yang aman, nyaman, dan bermartabat.
Penulis: Bhery Hamzah


