Huawei sediakan AI pantau konservasi lutung kepala putih di Guangxi

Update: 2026-03-29 09:50 GMT

Lutung kepala putih (Trachypithecus leucocephalus) Cagar Alam Nasional Lutung Kepala Putih Chongzuo Guangxi pada Jumat (27/3). ANTARA/Desca Lidya Natalia

Indomie

Perusahaan teknologi China Huawei menyediakan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung perlindungan lutung kepala putih di Cagar Alam Nasional Chongzuo, Daerah Otonom Guangxi Zhuang.

Lutung kepala putih (Trachypithecus leucocephalus) adalah spesies endemik yang hanya ditemukan di Chongzuo, Guangxi, dan merupakan hewan berstatus sangat terancam punah dan bahkan lebih langka daripada panda raksasa karena saat ini jumlahnya adalah 1.300-1.400 ekor dan 90 persen berada di Cagar Alam Nasional Lutung Kepala Putih Chongzuo Guangxi seluas 256 kilometer persegi.

"Konservasi lutung kepala putih merupakan kerja erat antara pemerintah yang memberikan perlindungan secara legal formal, akademisi yang memberikan data-data secara empiris dan juga teknologi yang disediakan pihak swasta. Teknologi digital memungkinkan pengamatan yang lebih presisi terhadap lutung di kawasan konservasi sehingga perlindungan dapat dilakukan dengan lebih baik," kata Direktur Cagar Alam Nasional Lutung Kepala Putih Chongzuo Guangxi Nong Dengpan di Chongzuo, Jumat (27/3) waktu setempat.

Lutung kepala putih adalah "saudara jauh" dari lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang bermigrasi ke utara pada zaman es ke wilayah karst (batu gamping) Guangxi dengan menggunakan gua-gua di tebing curam sebagai tempat tidur dan berlindung sehingga mendapatkan julukan "peri gunung batu".

Lutung dewasa sebagian besar berwarna hitam dengan jambul khas berupa rambut putih yang tegak di bagian kepala, yang menyerupai peci putih.

Elshinta Peduli

Lutung ini hidup dalam kelompok keluarga yang terdiri atas 5-30 individu, yang biasanya terdiri dari satu jantan dominan, beberapa betina dewasa, serta anak-anak mereka. Kelangkaan spesies disebabkan karena mereka hidup dalam masyarakat matrilineal yang ketat melarang perkawinan sedarah sehingga jantan muda harus meninggalkan kelompoknya untuk membentuk keluarga baru di tempat lain, sedangkan kelompok lama harus mendatangkan jantan dari luar untuk berkembang biak.

Di cagar alam, terdapat kelompok khusus yang terdiri atas jantan-jantan muda yang kuat serta sering menantang jantan dominan yang memimpin satu kelompok keluarga.

Sebagai hewan pemakan daun, mereka sangat menyukai daun dari tanaman seperti melati jeruk, kastanye China, pohon kapas, dan murbei kertas. Kehidupan mereka juga sangat teratur, yakni pada pagi hari mencari makan di semak-semak di dasar tebing, kemudian beristirahat di gua atau pepohonan pada siang hari, dan kembali ke gua pada malam hari.

Namun, untuk mengatasi tantangan medan karst yang terjal serta kesulitan dalam patroli dan pemantauan secara tradisional, Cagar Alam Chongzuo bekerja sama dengan Huawei dan Pusat Kerja Sama Aplikasi Kecerdasan Buatan China-ASEAN untuk mengembangkan sebuah "platform" pemantauan cerdas yang didukung oleh komputasi kecerdasan buatan.

Berkat perangkat pemantauan hewan berbasis video yang dipasang di sepanjang tebing, sistem tersebut mampu mengumpulkan data secara "real-time" mengenai distribusi lutung, kondisi lingkungan sekitarnya, serta pola aktivitasnya.

Sistem itu juga membuat pelabelan otomatis berbasis AI dan analisis data sehingga cagar alam dapat mengembangkan sistem manajemen visual yang lengkap untuk meningkatkan efisiensi dalam pengambilan dan analisis data. Hingga saat ini, sistem tersebut telah mencatat lebih dari 37.200 kejadian aktivitas lutung.

Di bawah kerangka hukum Peraturan Perlindungan Habitat Lutung Kepala Putih Chongzuo yang ditetapkan pemerintah pusat, 77,6 hektare lahan telah direstorasi sebagai habitat lutung, pembangunan dua sumber air minum serta 18 titik air minum bagi lutung, dan dua koridor ekologi.

Hasilnya, populasi lutung kepala putih kini telah meningkat menjadi lebih dari 1.400 ekor yang tersebar dalam 130 kelompok dari tadinya 300 ekor pada 1980-an.

"Awal-awal pemantauan dengan kamera pada 2016 memang kamera menggunakan kabel listrik atau serat optik yang melewati pinggir lahan pertanian sehingga kadang masyarakat dengan sengaja atau tanpa sengaja memutus kabel kamera, tapi belakangan hal itu tidak pernah terjadi lagi karena masyarakat sekitar juga merasakan manfaat dari cagar alam yaitu peningkatan jumlah turis yang juga meningkatkan ekonomi mereka," ungkap Nong.

Nong mengakui model kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan swasta yang dilakukan di cagar alam tersebut merupakan bentuk ideal yang bisa juga diterapkan di Indonesia.

"Pada periode 1990-an, China memprioritaskan pembangunan sedangkan konservasi lingkungan jadi prioritas kedua tapi seiring dengan peningkatan kualitas ekonomi, kami punya kemampuan untuk mendukung konservasi lingkungan jadi saya pikir memang dukungan pemerintah menjadi yang utama dalam konservasi, baik dari sisi legalitas maupun finansial," ungkap Nong.

Namun, dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di China khususnya beberapa tahun terakhir, termasuk AI dan penerapan "big data", hal tersebut menjadi bantuan yang sangat baik dalam perlindungan hewan langka.

"Jadi, pemerintah adalah fondasinya, penelitian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi adalah pendorongnya, tapi yang benar-benar mewujudkan praktik perlindungan adalah komunitas. Karena itu, kami mengusulkan sebuah model yang melibatkan partisipasi pemerintah, lembaga penelitian, dan komunitas. Saya yakin ke depannya, jika Indonesia atau negara-negara Asia Tenggara juga dapat mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk perlindungan satwa sehingga pemulihan komposisi spesies juga dapat tercapai," ungkap Nong.

Sedangkan Wakil General Manager Huawei Guangxi Tian Yongsheng mengatakan perusahaan tersebut bekerja sama dengan mitra global untuk mendukung konservasi ekosistem dengan memanfaatkan teknologi digital seperti 5G, komputasi awan, dan kecerdasan buatan.

"Keberhasilan proyek lutung kepala putih ini menunjukkan nilai besar kecerdasan buatan dalam memproses data geografis yang kompleks serta volume data spesies yang sangat besar. Huawei akan terus menggunakan teknologi inovatif untuk melindungi keanekaragaman hayati dan mendorong terwujudnya kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam," kata Tian.

Pada akhir tahun 2025, proyek inklusi digital Huawei untuk perlindungan lingkungan telah diterapkan di 65 kawasan lindung di seluruh dunia. Proyek-proyek ini secara signifikan meningkatkan efisiensi konservasi keanekaragaman hayati serta pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News