Tantangan militer dan dampak ekonomi penutupan Selat Hormuz oleh Iran

Update: 2026-03-05 11:20 GMT

Peta Selat Hormuz (Wikipedia Commons)

Indomie

Sebelum diserang AS dan Israel, Iran jauh-jauh hari sudah mengancam akan menutup Selat Hormuz.

Dan negara itu benar-benar melakukannya sekarang, walau AS mengklaim angkatan laut Iran sudah lumpuh sehingga tak mungkin menutup selat itu.

Tapi sejak pecah perang Iran AS akhir pekan silam, sedikitnya empat kapal tanker dihantam oleh drone Iran.

Akibatnya, menurut perusahaan pelacak data maritim Lloyd’s List Intelligence, lalu lintas maritim ke Teluk Persia anjlok sampai 80 persen sejak 1 Maret.

Presiden Donald Trump kemudian berikrar untuk mengerahkan Angkatan Laut AS guna mengawal pelayaran komersil ke dan dari Teluk Persia yang pastinya harus melalui Selat Hormuz.

"Jika perlu Angkatan Laut AS akan mengawal kapal-kapal tanker yang melalui Selat Hormuz, secepatnya," tulis Trump dalam media sosial Truth Social beberapa waktu lalu.

Selat Hormuz adalah pintu masuk ke Teluk Persia. Sekitar 20 juta barel minyak per hari dikapalkan melalui selat ini. Angka itu adalah juga 20 persen dari total perdagangan minyak global.

Hampir seluruh ekspor minyak Arab Saudi, Iraq, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, melalui selat ini. Negara-negara itu, ditambah Qatar, Bahrain, dan Oman, adalah juga produsen gas terkemuka di dunia. India, Jepang, China, Eropa, dan Afrika adalah pasar energi besar mereka.

Selat sempit

Selat Hormuz dijepit Oman di selatan dan Iran di utara. Lebarnya hanya 20 km, lebih sempit dari Selat Sunda di Indonesia yang berlebar 24 km.

Elshinta Peduli

Dengan area sesempit itu, Angkatan Laut AS akan sangat riskan berada di Selat Hormuz. Jangankan mengawal kapal tanker, untuk bermanuver dari serangan Iran pun akan sulit.

Tapi AS sudah pernah melakukan misi pengawalan kapal tanker pada akhir 1980-an ketika Perang Iran-Irak meluas menjadi Perang Tanker.

AS pernah mengerahkan 30 kapal perang untuk tugas pengawalan itu. Tapi saat itu, AS adalah pihak netral dalam Perang Iran-Irak.

Bahkan dalam status netral saja, kapal perang AS tetap menjadi korban ketika USS Stark dihantam rudal Irak dan USS Samuel B Roberts menghantam ranjau laut Iran.

Sebanyak 37 awak USS Stark tewas, sedangkan USS Samuel B Roberts rusak berat tanpa menimbulkan korban jiwa. Kini AS menjadi musuh Iran seperti Irak pada dekade 1980-an.

Iran sudah menyatakan akan menyerang segala fasilitas dan aset AS di Timur Tengah, terlebih kapal perang yang hendak dikerahkan oleh Trump untuk mengawal kapal tanker.

Dan Iran tak perlu mengerahkan kapal perang seperti pada Perang Tanker 1980-1988, terlebih AS mengklaim telah menenggelamkan 11 kapal perang Iran sehingga sulit menutup Selat Hormuz.

Iran cukup mengerahkan rudal, drone dan menyebar ranjau laut.

Dan para analis pertahanan Barat yakin arsenal rudal jarak pendek dan drone Iran masih utuh serta tersebar di mana-mana, alias belum tersentuh oleh militer AS-Israel.

Angkatan Laut AS juga menghadapi situasi yang jauh lebih berbahaya dibandingkan ketika mereka mengawal kapal-kapal dagang di Laut Arab dan Laut Merah ketika milisi Houthi Yaman mengganggu lalu lintas maritim dari akhir 2023 sampai awal 2025.

Selat Hormuz yang sempit akan menjadi medan yang terlalu berisiko untuk kapal-kapal perang AS.

Kenyataannya saat ini, tak ada kapal perang AS yang berada di Teluk Persia atau mendekati Selat Hormuz. Kebanyakan menjauh dari jangkauan rudal Iran, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln yang berpangkalan di Diego Garcia, di tengah Samudera Hindia.

Jika kapal-kapal perang AS berani masuk Selat Hormuz, mereka akan menjadi sasaran empuk untuk rudal jarak menengah Iran yang masih sangat banyak jumlahnya. Itu masih ditambah drone.

Kapal-kapal perang AS akan kesulitan bermanuver, terutama dalam menghindari tembakan rudal Iran.

Terlebih, rudal anti-kapal milik Iran dapat ditembakkan dari peluncur mobile, termasuk dari wahana tempur yang disamarkan sebagai truk sipil, sehingga menjadi ancaman tersendiri bagi militer AS.

Serangan rudal di selat sesempit itu akan sangat fatal, karena bisa menimbulkan korban jiwa yang besar dan kerugian ekonomi yang hebat.

Sebagai gambaran, harga kapal induk USS Abraham Lincoln saja mencapai 6,82 miliar dolar AS dan membawa 5.000 awak.

Oleh karena itu, boleh jadi Trump cuma menggertak, apalagi sebelumnya seorang pejabat Angkatan Laut AS telah menepis kemungkinan adanya misi pengawalan kapal tanker.

Trump terkena getahnya

Tapi secara ekonomi, tanpa benar-benar menutup Selat Hormuz pun Iran telah mempengaruhi psikologi pasar energi global.

Kini bukan lagi tingkat harga yang terusik, tapi juga keamanan rantai pasokan energi dunia, dan lebih mengerikan ketimbang dampak ekonomi dari perang Rusia-Ukraina.

Ketika Perang Rusia-Ukraina, produsen minyak dunia yang lain serempak menaikkan produksi untuk menutup kekurangan pasokan minyak Rusia, yang menguasai 11 persen dari total produksi minyak dunia.

Proporsi produksi minyak Rusia itu jauh lebih kecil ketimbang total produksi minyak Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait yang semuanya bergantung pada Selat Hormuz, yang mencapai 20 persen dari total produksi dunia atau 22,62 juta barel per hari.

Jika ditambah Iran, angka itu membengkak menjadi 23 persen (26.61 juta barel per hari).

Walau AS menguasai 22 persen dari total produksi minyak global, negara ini akan sulit menutupi kekurangan 20 persen produksi minyak yang selama ini dipenuhi negara-negara Teluk, bahkan jika AS mengeksploitasi ladang-ladang minyak Venezuela sekalipun.

Lagi pula, walau AS menguasai 22 persen produksi minyak dunia, tapi sebagian besarnya untuk memenuhi konsumsi domestik.

Hal itu beda dengan Saudi, Irak, Kuwait, UEA dan Iran, yang hanya mengeluarkan total 22 persen dari produksi minyaknya untuk konsumsi domestik.

Jadi, jika pasokan minyak dari Teluk terhenti, atau setidaknya berkurang, maka taruhannya adalah ekuilibrium pasokan energi global dan sistem harga dunia.

Pergerakan harga energi ini sendiri berpengaruh langsung terhadap stabilitas ekonomi global dan inflasi, yang selanjutnya mempengaruhi anggaran rumah tangga, beban operasional usaha (termasuk perusahaan-perusahaan AS), dan keamanan energi itu sendiri.

Kalau sudah begitu, dunia akan terkena getahnya, apalagi di dunia ini jauh lebih banyak importir minyak ketimbang eksportir minyak.

Lalu, apakah AS akan kebal dari dampak ini? Mustahil tidak terdampak.

Faktanya, setidaknya menurut laporan USA Today pada 4 Maret, harga BBM di AS bergerak naik mengikuti pergerakan harga energi global akibat perang Iran.

Padahal, Trump selama ini menjanjikan harga-harga turun kepada rakyat AS, dan itu termasuk harga BBM.

Trump juga menghadapi dolar AS yang kembali menguat setelah investor mengalihkan portofolio modal ke mata uang AS itu akibat perang Iran, karena memang tetap menjadi pelabuhan modal aman ketimbang mata uang lain, saham, dan bahkan emas.

Kenaikan dolar AS juga dapat menaikkan inflasi dan bisa menghantam industri domestik berorientasi ekspor sehingga produk AS menjadi kurang kompetitif di pasar global.

Industri domestik yang hidup dan bersaing di luar negeri adalah bagian penting dalam visi Trump tentang MAGA (Make America Great Again).

Jika fluktuasi harga ini semakin liar, maka Trump akan sulit memenangkan simpati publik di dalam negeri, khususnya pemilih independen, yang sering menentukan kemenangan dalam Pemilu.

Trump dan Partai Republik sendiri tengah menghadapi Pemilu Sela pada November 2026, yang salah satunya untuk memilih seluruh anggota DPR yang baru.

Oleh karena itu, banyak yang percaya, salah satunya Reuters, bahwa kenaikan harga akibat Perang Iran adalah juga ancaman politik bagi Trump dan Partai Republik.

Inilah beberapa dari banyak risiko jika perang Iran melawan AS-Israel menjadi berkepanjangan dan Selat Hormuz ditutup.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News