7 tradisi ibadah menjelang Ramadan yang masih dilestarikan

Berikut 7 tradisi ibadah menjelang Ramadan yang masih dilestarikan, dari munggahan hingga padusan, serta bagaimana kegiatan ini penting dalam ritual keagamaan.

Update: 2026-01-12 16:00 GMT

Ilustrasi. (Sumber: Istimewa)

Elshinta Peduli

Menjelang Ibadah Ramadan 2026, umat Muslim di Indonesia punya berbagai tradisi ibadah yang masih dilestarikan serta diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini bukan sekadar tradisi kebudayaan, tapi juga bagian dari proses penyambutan sebelum memasuki bulan suci. Di berbagai daerah, kegiatan ini dilakukan dengan serius, melibatkan keluarga, lingkungan sosial, dan ruang ibadah sebagai pusat aktivitasnya. Berikut tujuh tradisi ibadah menjelang Ramadan yang masih dilestarikan di Indonesia.

1. Munggahan

 Tradisi Munggahan. (Sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Di masyarakat Sunda, munggahan menjadi salah satu tradisi yang masih kuat dijalankan. Kegiatan ini biasanya dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga atau masyarakat sekitar, diisi doa bersama dan saling memaafkan. Munggahan menandai transisi dari rutinitas biasa menuju suasana Ramadan yang lebih sakral.

Tradisi ini umumnya dilaksanakan dalam suasana yang agak ramai, sering kali melibatkan kegiatan keagamaan. Nuansa kesederhanaan dan kesiapan lahir batin menjadi inti dari tradisiini, sejalan dengan tujuan utama menyambut bulan suci.

2. Padusan

Tradisi Padusan. (Sumber: Wikipedia/Muhammad Khafidz Riza)

Masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta masih melestarikan padusan, yaitu ritual mandi di sumber air sebagai simbol pembersihan diri. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk persiapan fisik dan spiritual sebelum menjalankan ibadah puasa. Padusan biasanya dilakukan secara bersama, baik bersama keluarga maupun masyarakat sekitar. Setelah ritual ini, masyarakat umumnya melanjutkan dengan doa dan refleksi diri, menegaskan bahwa Ramadan dimulai dengan kesiapan mental dan kesungguhan dalam beribadah.

Elshinta Peduli

3. Nyorog

Tradisi Nyorog yang erat dengan budaya Betawi. (Sumber: ANTARA/Pradita Kurniawan Syah)

Di tengah masyarakat Betawi, tradisi nyorog menjadi bagian penting menjelang Ramadan. Nyorog dilakukan dengan mengunjungi keluarga yang lebih tua sambil membawa hidangan sebagai simbol penghormatan dan kasih sayang.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana Ramadan diawali dengan nilai adab, etika, dan hubungan antargenerasi. Aktivitas silaturahmi seperti ini memperkuat makna Ramadan sebagai bulan yang menekankan kesalehan sosial, bukan hanya ibadah personal.

4. Balimau

Di Sumatera Barat, balimau menjadi tradisi yang masih dijaga hingga kini. Ritual mandi menggunakan air yang dicampur jeruk limau ini melambangkan pembersihan diri sebelum memasuki Ramadan.

Balimau biasanya dilakukan di ruang terbuka dan melibatkan banyak peserta. Meski bentuknya berbeda dari daerah lain, esensinya tetap sama: mempersiapkan diri secara lahir dan batin agar lebih siap menjalani ibadah puasa.

5. Meugang

Di Aceh, tradisi Meugang menjadi salah satu cara khas menyambut Ibadah Ramadan 2026. Meugang dilakukan beberapa hari sebelum Ramadan dengan cara menyiapkan dan menikmati hidangan daging bersama keluarga, kerabat, serta masyarakat sekitar yang kurang mampu. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh pada abad ke-14 dan menggambarkan semangat kebersamaan, rasa syukur, serta kepedulian sosial menjelang bulan suci.

6. Marpangir

Di beberapa wilayah Sumatera Utara seperti Asahan dan Padangsidimpuan, masyarakat menjalankan tradisi Marpangir sebagai bentuk pembersihan diri sebelum Ramadan. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini melibatkan mandi dengan air yang dicampur berbagai rempah dan bunga, seperti jeruk purut, pandan, dan bunga mawar, yang melambangkan penyucian lahir dan batin untuk menyambut bulan puasa.

7. Ziarah Kubro


Ziarah Kubro. (Sumber: Antara News Sumsel/Aziz Munajar)

Tradisi Ziarah Kubro di Sumatera Selatan merupakan kegiatan ziarah ke makam para ulama dan pendiri kesultanan setempat yang dilakukan secara massal menjelang Ramadan. Kegiatan ini bukan hanya bentuk penghormatan terhadap para tokoh agama yang telah wafat, tetapi juga sebagai momen doa bersama agar diberi kelancaran dan keberkahan dalam menjalankan ibadah puasa.

Menjelang Ibadah Ramadan 2026, keberlangsungan tradisi ibadah ini menunjukkan bahwa Ramadan masih dimaknai sebagai peristiwa besar dalam kehidupan umat Islam. Tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana membangun keteguhan dan kesiapan diri sebelum memasuki bulan penuh ibadah.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News