Berawan dan hujan ringan dominasi cuaca Indonesia hari ini

Update: 2026-01-25 04:20 GMT

Petenis meja Indonesia Yayang Gunaya melakukan selebrasi usai memenangkan pertandingan melawan petenis meja Thailand Chaiwut Wanchai pada final tunggal putra TT4 ASEAN Para Games 2025 Thailand di Central Korat, Nakhon Ratchasima, Thailand, Jumat (23/1/2026). Yayang berhasil meraih medali emas dengan skor 11-8, 11-8, 13-11. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.

Elshinta Peduli

Capaian kontingen Indonesia dalam ASEAN Para Games 2025 Thailand membuka fase transisi penting dalam pembinaan olahraga disabilitas nasional.

Hasil kompetisi regional tersebut bukan diposisikan hanya sebagai tolok ukur prestasi jangka pendek, tapi juga dijadikan dasar pengambilan keputusan strategis menuju Asian Para Games 2026 di Nagoya, dan Paralimpiade 2028 di Los Angeles.

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga RI dan Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia secara terbuka menempatkan kelanjutan pemusatan latihan nasional (pelatnas) dan program regenerasi atlet sebagai dua sumbu utama pembinaan.

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan bahwa pelatnas jangka panjang tetap menjadi kebijakan inti pasca-ASEAN Para Games. Pemerintah melalui Kemenpora telah menjalankan pola pelatnas yang tidak terputus untuk cabang olahraga unggulan yang diproyeksikan ke Olimpiade dan Paralimpiade.

Kemenpora telah menetapkan 10 cabang olahraga prioritas yang sejak 2024 telah menyelenggarakan pelatnas berkelanjutan demi Indonesia kembali bisa mengukir sejarah di ajang olahraga disabilitas tertinggi dunia tersebut.

Skema ini menunjukkan pendekatan selektif berbasis prioritas prestasi, dengan fokus pada cabang dan atlet yang dinilai memiliki peluang kompetitif di level global.

Pemerintah juga menegaskan bahwa atlet yang telah diproyeksikan pasca-Paralimpiade Paris langsung kembali masuk pelatnas, tanpa jeda panjang, sebagai bagian dari komitmen pembinaan berkesinambungan.

Pada 2026, Kemenpora merencanakan peninjauan menyeluruh untuk pemetaan atlet menuju Asian Para Games Nagoya 2026 dan Paralimpiade Los Angeles 2028, termasuk penentuan prioritas pembinaan.

Elshinta Peduli

Hasil ASEAN Para Games 2025 memberikan legitimasi awal terhadap pendekatan tersebut. Pada hari keempat penyelenggaraan yang menyisakan satu hari kompetisi, kontingen Indonesia telah melampaui target 82 emas, dengan capaian 101 emas, 103 perak, dan 88 perunggu. Kontribusi emas terbesar berasal dari cabang para atletik dan para renang. Kedua cabang tersebut masing-masing menyumbang 38 dan 22 medali emas, dan masih berpeluang untuk tambah medali di hari terakhir kompetisi pada Minggu (25/1).

Capaian tersebut tidak terlepas dari munculnya atlet-atlet muda yang tampil melampaui proyeksi awal. Beberapa atlet bahkan mampu langsung meraih emas pada cabang seperti para balap sepeda dan para renang. Hasil ini dinilai perlu segera diterjemahkan ke dalam kebijakan pelatnas, dengan mendorong atlet muda untuk langsung masuk training camp menuju Asian Para Games, terlepas dari situasi pembiayaan, baik melalui dukungan pemerintah maupun nonpemerintah.

NPC Indonesia menempatkan capaian tersebut dalam kerangka regenerasi atlet jangka panjang. Program regenerasi atlet "Mendobrak Batas" yang diselenggarakan NPC Indonesia pada 2025 mulai berbuah hasil.

Program itu telah menjaring sekitar 3.000 bibit atlet remaja dari 35 provinsi. Dari jumlah tersebut, NPC melakukan identifikasi atlet dengan kategori sangat berbakat yang langsung diproyeksikan ke level kompetisi lebih tinggi, termasuk Asian Para Games. Integrasi antara program pencarian bibit NPC dan pelatnas jangka panjang Kemenpora dinilai mempercepat proses transisi dari pembinaan usia dini ke level elite internasional.

Contoh konkret dari integrasi tersebut terlihat pada cabang angkat berat, di mana seorang atlet yang baru masuk pelatnas pada Desember, mampu langsung meraih medali emas di ASEAN Para Games 2025. NPC menilai pola ini penting untuk mengantisipasi regenerasi atlet senior yang mendekati akhir masa kompetitif, sekaligus menjaga kesinambungan prestasi di ajang multi-event internasional.

Tidak ideal

Di sisi lain, ASEAN Para Games 2025 juga mencatat sejumlah catatan kritis terkait kualitas penyelenggaraan kompetisi. Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk ASEAN Para Games 2025 Reda Manthovani menemukan adanya pelanggaran regulasi internasional di beberapa cabang olahraga yang berdampak langsung pada peluang medali atlet Indonesia.

Pada cabang para tenis meja, ditemukan atlet tuan rumah Thailand dengan klasifikasi internasional resmi TT4 yang dipertandingkan di kelas TT5. Sementara pada cabang para balap sepeda, nomor individual tetap dipertandingkan meski hanya diikuti tiga atlet dari satu negara, bertentangan dengan regulasi yang mensyaratkan minimal empat atlet dari dua negara.

Temuan serupa juga terjadi di cabang para atletik, di mana sejumlah nomor individu tetap dipertandingkan meski hanya diikuti dua hingga tiga atlet dan seluruhnya berasal dari Thailand. Seluruh catatan tersebut telah dilaporkan secara resmi kepada ASEAN Para Sports Federation (APSF) sebagai bagian dari upaya menjaga kepatuhan terhadap regulasi dan prinsip fair play.

Bagi kontingen Indonesia, catatan ini memperkuat argumen bahwa ASEAN Para Games perlu tetap diposisikan sebagai tahap awal pembinaan internasional, bukan sebagai indikator tunggal kualitas kompetisi regional.

Di luar arena pertandingan, manajemen pendukung juga menjadi faktor yang memengaruhi performa atlet. Tidak idealnya pelayanan konsumsi dari tuan rumah membuat Kontingen Indonesia sampai harus membuka dapur umum sendiri di Nakhon Ratchasima untuk memastikan kebutuhan gizi atlet terpenuhi sesuai standar.

Langkah ini diambil setelah ditemukan bahwa konsumsi awal yang disediakan di arena belum memenuhi kebutuhan atlet. Kemenpora menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut dan menilai penyediaan konsumsi serta akomodasi yang memadai berdampak langsung pada kenyamanan dan kesiapan atlet bertanding.

Penyelenggaraan dapur umum, pelayanan akomodasi, serta koordinasi harian antara ofisial dan atlet dinilai sebagai bagian dari ekosistem pembinaan prestasi yang tidak terpisah dari program pelatnas. Pemerintah menempatkan aspek pendukung ini sejajar dengan latihan teknis dan fisik dalam kerangka pembinaan jangka panjang.

Dengan ASEAN Para Games 2025 sebagai pijakan awal, arah kebijakan pembinaan olahraga disabilitas Indonesia bergerak pada konsolidasi pelatnas berkelanjutan, seleksi berbasis prioritas, dan percepatan regenerasi atlet.

Pendekatan ini dijalankan bersamaan dengan evaluasi kualitas kompetisi regional dan penguatan sistem pendukung atlet, sebagai bagian dari persiapan menuju agenda internasional yang lebih besar dalam siklus Paralimpiade berikutnya.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News