Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak tajam, fans kecam FIFA

Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak tajam hingga memicu kemarahan suporter. Simak detail kenaikan harga, kritik keras fans, dan respon terbaru dari FIFA.

Update: 2026-02-13 12:14 GMT

Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak tajam hingga memicu kemarahan suporter. Simak detail kenaikan harga, kritik keras fans, dan respon terbaru dari FIFA.

Elshinta Peduli

Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak tajam belakangan ini, membuat fans mengecam FIFA karena dianggap mengomersialisasi sepak bola secara berlebihan. Kenaikan harga ini tidak hanya terjadi pada kategori premium, tetapi juga merambah ke kursi-kursi yang biasanya diperuntukkan bagi penonton kelas menengah. Banyak pendukung setia dari berbagai negara merasa dikhianati oleh kebijakan harga yang dianggap tidak masuk akal untuk turnamen yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tersebut.

Lonjakan harga tiket di pasar resale resmi

Salah satu pemicu utama kemarahan publik adalah penampakan harga di platform penjualan ulang (resale) resmi milik FIFA. Meskipun fase penjualan utama baru saja berakhir pada Januari 2026, harga di pasar sekunder telah meroket hingga berkali-kali lipat dari harga aslinya.

Data menunjukkan bahwa tiket kategori 3 untuk pertandingan pembuka di Stadion Azteca, Meksiko, yang awalnya dibanderol sekitar 895 dolar AS, kini ditawarkan hingga 5.324 dolar AS. Namun, lonjakan paling fantastis ditemukan pada tiket babak final di Stadion MetLife, New Jersey. Satu lembar tiket kategori 3 sempat tercatat menyentuh angka 143.750 dolar AS atau sekitar Rp2,2 miliar di platform resale. Angka ini merupakan kenaikan sebesar 41 kali lipat dari nilai aslinya yang "hanya" 3.450 dolar AS.

Kekecewaan suporter

Gelombang protes paling keras datang dari kelompok suporter Eropa. Football Supporters Europe (FSE) menyebut kebijakan harga ini sebagai "pengkhianatan" terhadap nilai-nilai sepak bola. Di Inggris, data dari England Supporters Travel Club menunjukkan bahwa hampir 90 persen anggotanya menolak membeli tiket dengan harga yang ditetapkan saat ini.

Keberatan suporter ini bukan tanpa alasan. Jika dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 di Qatar, harga tiket final kategori umum di tahun 2026 mengalami kenaikan signifikan. Hal ini mengakibatkan ribuan alokasi tiket untuk federasi nasional, seperti FA (Inggris), tidak terserap sepenuhnya karena para penggemar merasa tidak sanggup menjangkau harganya.

Elshinta Peduli

Perbandingan harga tiket

Kategori 1: Harga awal Rp105.000.000 menjadi Rp2.000.000.000

Kategori 4 (Termurah): Harga awal Rp33.600.000 menjadi Rp150.000.000+

Respon FIFA atas kecaman ini

Menghadapi kecaman luas, FIFA mencoba meredam ketegangan dengan memperkenalkan kategori tiket baru yang disebut sebagai Supporter Entry Tier. Kategori ini menawarkan tiket dengan harga tetap sebesar 60 dolar AS (sekitar Rp950.000) untuk seluruh 104 pertandingan, termasuk laga final.

Namun, solusi ini dianggap hanya sebagai "upaya penenang" oleh banyak asosiasi suporter. Masalahnya, jumlah tiket murah ini sangat terbatas hanya sekitar 10 persen dari alokasi untuk masing-masing negara peserta. Artinya, dari puluhan ribu kursi di stadion, hanya beberapa ratus penonton saja yang bisa menikmati harga terjangkau tersebut, sementara sisanya tetap harus berhadapan dengan harga yang mencekik.

Dampak sistem dynamic pricing

Kenaikan harga ini juga dipengaruhi oleh penerapan sistem dynamic pricing atau harga dinamis. Sistem ini memungkinkan harga tiket berfluktuasi berdasarkan permintaan pasar secara real-time. Meskipun FIFA mengklaim sistem ini bertujuan untuk menekan praktik calo ilegal dengan menyediakan platform resale resmi, kenyataannya harga di platform tersebut justru menjadi liar karena mekanisme pasar yang tidak terkendali.

Bagi fans di negara berkembang, biaya tiket ini merupakan penghalang besar. Jika ditambah dengan biaya akomodasi dan transportasi antarnegara di Amerika Utara yang luas, Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi turnamen yang paling mahal dalam sejarah sepak bola.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News