Lari lalu menembak? Mengenal Biathlon di Olimpiade Musim Dingin
Mengenal biathlon di Olimpiade Musim Dingin 2026, olahraga unik gabungan ski dan menembak yang penuh drama penalti, strategi, dan adu ketenangan mental.
Lari lalu menembak? Mengenal Biathlon di Olimpiade Musim Dingin (Sumber:freepik.com)
Di antara deretan cabang olahraga bergengsi di Olimpiade Musim Dingin 2026, ada satu nomor yang memadukan dua dunia yang terasa bertolak belakang seperti kecepatan dan ketenangan. Namanya biathlon. Sekilas terlihat seperti lomba ski biasa, tetapi tiba-tiba para atlet berhenti, menjatuhkan tubuhnya ke posisi tiarap, lalu membidik sasaran kecil dengan senapan. Perpaduan inilah yang membuat biathlon disebut sebagai salah satu cabang paling menegangkan di Olimpiade Musim Dingin 2026.
Olahraga ini bukan hanya soal siapa yang paling cepat meluncur di atas salju. Biathlon menguji daya tahan fisik, kestabilan mental, hingga kemampuan mengendalikan napas dalam tekanan ekstrem. Satu kesalahan kecil bisa mengubah posisi klasemen secara drastis.
Apa Itu Biathlon? Olahraga ekstrem gabungan ski dan menembak
Biathlon adalah olahraga musim dingin yang menggabungkan cross-country skiing dan menembak menggunakan senapan kaliber .22. Atlet harus menyelesaikan lintasan ski sejauh beberapa kilometer, lalu berhenti di lapangan tembak untuk mengenai lima target dari jarak 50 meter.
Setelah sesi menembak selesai, mereka kembali melanjutkan lomba ski. Siklus ini bisa terjadi beberapa kali dalam satu perlombaan, tergantung format nomor yang dipertandingkan.
Tantangan terbesarnya? Detak jantung atlet bisa mencapai 170-180 BPM setelah mengayuh ski dengan intensitas tinggi. Namun dalam hitungan detik, mereka harus menurunkannya agar tangan tidak gemetar saat menarik pelatuk. Di sinilah biathlon berbeda dari cabang olahraga lain seperti kekuatan fisik saja tidak cukup tanpa kontrol diri yang matang.
Aturan main: Melenceng satu tembakan, hukuman menanti!
Dalam biathlon, akurasi adalah segalanya. Setiap atlet menembakkan lima peluru di setiap sesi menembak. Jika satu peluru meleset, mereka harus menjalani penalty loop sejauh 150 meter sebelum melanjutkan lomba.
Bayangkan situasinya jika seorang atlet unggul 10 detik dari pesaingnya. Ia masuk ke lapangan tembak, tetapi dua peluru meleset. Artinya, ia harus menempuh tambahan 300 meter. Dalam sekejap, posisi terdepan bisa direbut lawan yang lebih tenang.
Beberapa format lomba seperti sprint, pursuit, dan relay memiliki aturan berbeda terkait penalti. Ada yang menggunakan tambahan jarak, ada juga yang menerapkan tambahan waktu. Inilah yang membuat biathlon selalu penuh kejutan hingga garis akhir.
Teknik dan strategi: Bukan sekadar soal cepat
Banyak yang mengira biathlon hanya tentang ski dan menembak. Padahal strategi memainkan peran penting. Atlet harus menentukan kapan mengerahkan tenaga maksimal dan kapan menghemat energi agar tetap stabil saat sesi tembak.
Teknik pernapasan menjadi senjata utama. Umumnya atlet menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, lalu menahan napas sepersekian detik sebelum menarik pelatuk. Fokus visual juga sangat penting karena target berdiameter sekitar 4,5 cm (posisi tiarap) dan 11,5 cm (posisi berdiri).
Senapan yang digunakan dirancang khusus agar tetap presisi dalam suhu dingin ekstrem. Beratnya sekitar 3,5 kg dan selalu dibawa di punggung atlet sepanjang lomba. Peralatan ini dibuat dengan standar tinggi sehingga harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Mengapa Norwegia sering mendominasi?
Dalam sejarah biathlon modern, Norwegia kerap menjadi kekuatan utama. Negara ini memiliki tradisi panjang dalam olahraga musim dingin, termasuk ski lintas alam. Sistem pembinaan atlet yang terstruktur sejak usia dini membuat mereka konsisten melahirkan juara dunia dan peraih medali Olimpiade.
Faktor geografis juga mendukung. Cuaca bersalju yang panjang memungkinkan atlet berlatih secara rutin. Biathlon bukan sekadar olahraga di sana, melainkan bagian dari budaya nasional.
Mengapa Biathlon layak jadi sorotan 2026?
Di tengah sorotan pada cabang populer seperti figure skating atau ice hockey, biathlon menawarkan drama yang berbeda. Visual kontras antara atlet yang berkeringat di suhu minus, lalu harus diam total untuk menembak, menciptakan momen yang sangat kuat secara naratif maupun visual.
Biathlon bukan sekadar lomba di atas salju. Ia adalah duel antara kecepatan dan ketenangan, antara stamina dan stabilitas. Dan di Olimpiade Musim Dingin 2026, cabang ini berpotensi menjadi salah satu tontonan paling mendebarkan.


