Tradisi unik Ramadan di berbagai negara dunia
Menjelajahi ragam tradisi unik Ramadan di berbagai negara dunia melalui pelaksanaan buka bersama, festival fanous, hingga kuliner khas di belahan dunia.
Ilustrasi. (AI Generated Image)
Tradisi unik Ramadan di berbagai negara dunia menunjukkan bahwa bulan suci ini hadir juga sebagai momentum budaya yang berkembang di berbagai masyarakat Muslim. Di banyak wilayah, Ramadan diiringi oleh kebiasaan turun-temurun yang berkaitan dengan sejarah lokal, ritual komunitas, hingga simbol-simbol khas yang hanya muncul selama bulan puasa.
Dari lentera warna-warni di Mesir hingga meriam penanda waktu berbuka di Timur Tengah, keberagaman ini memperlihatkan bagaimana Ramadan menjadi pertemuan antara ajaran agama dan identitas budaya setempat.
Lentera fanous yang menerangi malam Ramadan di Mesir
Di Mesir, salah satu tradisi Ramadan paling dikenal adalah penggunaan lentera dekoratif yang disebut fanous. Lentera ini dipasang di rumah, toko, masjid, dan jalan-jalan kota, terutama di Kairo, sehingga menciptakan suasana malam yang meriah sepanjang bulan Ramadan.
Lentera biasanya dibuat dari logam dengan kaca berwarna-warni dan dihiasi motif geometris khas Timur Tengah. Tradisi ini sudah berlangsung sejak sekitar abad ke-10 pada masa Dinasti Fatimiyah.
Menurut catatan sejarah, kebiasaan menyalakan lentera bermula ketika masyarakat Kairo menyambut kedatangan Khalifah Al-Mu'izz li-Din Allah pada malam Ramadan dengan membawa lilin untuk menerangi jalan.
Seiring waktu, lilin tersebut berkembang menjadi lentera artistik yang kini dikenal sebagai fanous. Saat ini, pasar-pasar di Mesir mulai menjual fanous beberapa minggu sebelum Ramadan sebagai bagian dari perayaan budaya yang sangat populer.
Mesaharaty dan tradisi membangunkan sahur di Timur Tengah
Di sejumlah negara Timur Tengah seperti Mesir, Arab Saudi, dan Yaman, terdapat tradisi lama yang dikenal sebagai mesaharaty.
Tradisi ini dilakukan oleh seseorang yang berjalan di lingkungan permukiman pada dini hari sambil menabuh gendang atau alat musik sederhana untuk membangunkan warga agar bersiap makan sahur.
Orang yang menjalankan peran mesaharaty biasanya mengenakan pakaian tradisional dan berjalan dari satu jalan ke jalan lain sambil memanggil nama keluarga yang tinggal di daerah tersebut.
Tradisi ini telah ada sejak masa pemerintahan Islam klasik dan masih dipertahankan di beberapa kota hingga kini, meskipun sebagian masyarakat telah menggunakan alarm atau pengingat digital.
Dentuman meriam sebagai penanda waktu berbuka
Di beberapa negara Timur Tengah dan kawasan Balkan, terdapat tradisi menembakkan meriam untuk menandai waktu berbuka puasa. Tradisi ini dikenal dengan istilah iftar cannon. Ketika matahari terbenam dan waktu Maghrib tiba, meriam akan ditembakkan sebagai sinyal bahwa umat Muslim dapat mulai berbuka puasa.
Tradisi ini dipercaya bermula pada masa Kesultanan Ottoman dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Lebanon, Bosnia, hingga beberapa kota di Mesir.
Pada masa sebelum teknologi komunikasi modern berkembang, dentuman meriam menjadi cara efektif untuk memberi tahu masyarakat luas tentang waktu berbuka. Hingga kini, tradisi tersebut masih dipertahankan di sejumlah kota sebagai bagian dari perayaan Ramadan yang bersifat seremonial.
Haq al laila, perayaan anak-anak menjelang Ramadan di Teluk Arab
Di negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain, terdapat tradisi bernama haq al laila yang berlangsung sekitar tanggal 15 bulan Syaban, yaitu sekitar dua minggu sebelum Ramadan dimulai.
Pada hari tersebut, anak-anak mengenakan pakaian tradisional berwarna cerah dan berjalan dari rumah ke rumah sambil bernyanyi untuk mendapatkan permen, kacang, dan berbagai camilan.
Tradisi ini sering dibandingkan dengan konsep “trick or treat” di Barat, meskipun konteksnya berkaitan dengan kegembiraan menyambut datangnya Ramadan.
Perayaan ini juga dikenal dengan nama berbeda di beberapa negara Teluk, seperti garangao di Qatar dan qaranqasho di Oman.
Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk pendidikan budaya bagi anak-anak tentang pentingnya kebersamaan dalam menyambut bulan suci.
Iftar jama’i/budaya berbuka bersama di Turki
Di Turki, Ramadan identik dengan tradisi berbuka puasa bersama dalam skala besar yang disebut iftar jama’i. Pemerintah daerah, organisasi sosial, dan komunitas setempat sering menyiapkan meja makan panjang di ruang publik seperti alun-alun kota, taman, atau jalan utama.
Tradisi ini biasanya berlangsung setiap hari selama Ramadan, terutama di kota-kota besar seperti Istanbul dan Ankara. Ribuan orang dapat duduk bersama untuk berbuka puasa tanpa memandang latar belakang sosial.
Selain itu, beberapa kota juga menyalakan sirene sahur sebagai pengingat waktu makan sebelum fajar. Kehadiran tradisi ini menunjukkan kuatnya nilai solidaritas sosial dalam budaya Ramadan di Turki.
Ziarah kubur dan tradisi menyambut Ramadan di Indonesia
Indonesia juga memiliki berbagai kebiasaan khas dalam menyambut Ramadan. Salah satu yang paling umum adalah ziarah kubur atau nyekar, yaitu mengunjungi makam keluarga atau leluhur beberapa hari sebelum bulan puasa dimulai.
Dalam tradisi ini, masyarakat biasanya membersihkan makam, menaburkan bunga, dan memanjatkan doa bagi anggota keluarga yang telah meninggal.
Selain itu, beberapa daerah memiliki ritual lain seperti padusan, yaitu mandi di sumber air alami sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan Ramadan.
Di kota Semarang, terdapat pula tradisi Dugderan, yaitu festival rakyat yang ditandai dengan arak-arakan dan tabuhan bedug untuk menandai datangnya bulan puasa.
Beragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga berbentuk tradisi unik di bulan Ramadan yang ada di berbagai negara dunia sebagai ruang pelestarian budaya lokal.


