Amalan berbuka yang dianjurkan dan maknanya
Pelajari amalan berbuka yang dianjurkan Rasulullah SAW. Mulai dari kurma, doa, berbagi makanan dan menjaga etika agar berbuka lebih berkah
Simak amalan berbuka yang di anjurkan beserta dengan maknanya (Sumber: Istimewa)
Bulan Ramadan adalah waktu penuh keberkahan, dan momen berbuka puasa menjadi salah satu saat paling penting bagi setiap Muslim.
Tidak sekadar melepas lapar dan dahaga, berpuasa memiliki tuntutan dan makna spiritual yang mendalam.
Rasulullah SAW mencontohkan adab berpuasa yang sederhana namun sarat hikmah yang dapat meningkatkan pahala dan menjadikan ibadah puasa lebih lengkap.
Memahami amalan berbuka yang dianjurkan membantu setiap Muslim memanfaatkan momen ini dengan penuh kesadaran, syukur dan keberkahan.
1. Membuka dengan kurma atau air
Rasulullah SAW selalu memulai berbuka dengan kurma. Jika tidak tersedia, beliau berbuka dengan air. Kurma memiliki kandungan gula alami yang cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Hal ini tidak hanya bermanfaat secara fisik tetapi juga mengajarkan kesederhanaan dan kepatuhan pada sunnah Nabi.
Mengkonsumsi kurma saat berbuka bukan sekadar mengikuti tradisi, tetapi memiliki hikmah kesehatan seperti kalium dan serat dalam kurma menjaga tubuh tetap bertenaga, membantu pencernaan, dan menjaga kestabilan gula darah.
Selain kurma, produk makanan atau minuman sehat seperti jus buah, air kelapa, atau smoothies bisa menjadi alternatif berbuka yang bernutrisi dan menyenangkan, menambah energi untuk ibadah berikutnya.
2. Berdoa sebelum dan setelah berbuka
Amalan berbuka yang dianjurkan tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual. Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca doa berbuka puasa:
“Allahumma inni laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alayka tawakkaltu wa ‘ala rizq ika aftartu.”
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”
Doa ini mengajarkan umat Muslim bahwa berbuka adalah wujud syukur kepada Allah, mengakui ketergantungan pada-Nya, dan menegaskan niat ibadah yang tulus.
Membaca doa sebelum dan sesudah berbuka menjadikan setiap makanan yang disantap bernilai ibadah, bukan sekadar kebutuhan fisik.
3. Berbagi makanan dengan sesama
Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk menyediakan makanan berbuka untuk orang lain, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
Berbagi makanan saat berbuka puasa menambah pahala, membangun solidaritas sosial, dan memperkuat empati.
Memberikan kurma, air, atau hidangan berbuka kepada tetangga, teman, atau keluarga yang membutuhkan bukan sekadar amal sosial, tetapi juga sarana memperbanyak keberkahan.
Dalam praktik modern, ini bisa juga dilakukan melalui paket makanan berbuka atau donasi digital untuk yang kesulitan menyediakan santapan, menjadikan momen berbuka lebih bermanfaat dan edukatif.
4. Menikmati berbuka dengan kesadaran penuh
Selain mengikuti sunnah Nabi, berbuka puasa sebaiknya dilakukan dengan kesadaran penuh.
Menikmati hidangan dengan perlahan, bersyukur, dan mengingat hikmah puasa meningkatkan kualitas ibadah.
Makan terlalu banyak atau terburu-buru bisa mengurangi manfaat puasa dan membuat tubuh lelah.
Menggunakan makanan dan minuman sehat untuk berbuka, seperti kurma, buah, atau minuman bergizi, membantu tubuh tetap fit, sehingga energi tetap terjaga untuk menunaikan shalat Maghrib, membaca Al-Qur’an, atau dzikir setelah berbuka.
Hal ini menegaskan bahwa berbuka puasa bukan sekadar makan, tapi bagian dari ibadah yang mendidik tubuh dan jiwa.
5. Menjaga etika dan adab saat berbuka
Selain mengikuti sunnah berbuka, penting juga untuk memperhatikan etika dan adab saat menikmati makanan setelah seharian berpuasa.
Rasulullah SAW menekankan untuk makan secukupnya, tidak berlebihan, dan menjaga sopan santun di meja makan.
Hal ini melatih disiplin diri sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa setiap nikmat berasal dari Allah SWT.
Etika berbuka juga mencakup tidak membuang makanan, menghargai yang menyajikan hidangan, serta berbagi dengan anggota keluarga dan orang sekitar.
Dengan menjaga adab ini, berbuka menjadi momen penuh kesadaran spiritual, sekaligus mendidik generasi muda untuk menghargai makanan dan bersikap santun.
Selain itu, memperhatikan adab saat berbuka dapat meningkatkan kualitas ibadah. Tubuh yang terjaga dari kebiasaan makan berlebihan tetap fit untuk shalat Maghrib dan ibadah sunnah, sementara hati yang bersih dan sikap yang sopan memperkuat ketenangan batin selama Ramadan.
Berbuka puasa bukan sekadar momen untuk melepas lapar dan dahaga, tetapi kesempatan meningkatkan kualitas ibadah dan kesadaran spiritual.
Dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW membuka dengan kurma atau air, membaca doa sebelum dan sesudah berbuka, berbagi dengan sesama, serta menjaga etika dan adab setiap Muslim dapat merasakan keberkahan yang lebih dari ibadahnya.
Selain itu, memanfaatkan makanan dan minuman sehat untuk berbuka membantu menjaga energi dan konsentrasi untuk ibadah berikutnya, seperti shalat Maghrib, dzikir dan tilawah Al-Quran.
Kebiasaan ini bukan hanya baik bagi tubuh, tetapi juga mendidik hati agar lebih bersyukur dan peduli kepada sesama.
Memahami dan menerapkan amalan berbuka yang dianjurkan setiap Muslim dapat menjadikan momen berbuka lebih bermakna, edukatif, dan bermanfaat sekaligus membangun pondasi ibadah yang kuat sepanjang bulan Ramadan.


