Batas musafir tidak puasa ramadan: berapa KM dan syaratnya?
Batas musafir tidak puasa saat Ramadan berapa km? Simak jarak musafir, syarat musafir, hukum berbuka saat perjalanan jauh, dan panduan qadha puasa musafir.
Batas musafir tidak puasa ramadan: berapa KM dan syaratnya? (Sumber:Istimewa)
Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Namun, Islam juga memberikan keringanan (rukhsah) bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh atau musafir. Karena itu, memahami batas musafir tidak puasa saat Ramadan penting agar ibadah tetap sah dan tidak menimbulkan keraguan.
Keringanan ini bukan berarti meremehkan ibadah puasa. Sebaliknya, rukhsah menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memudahkan umatnya, terutama dalam kondisi perjalanan yang melelahkan atau berisiko mengganggu kesehatan.
Dasar hukum puasa bagi musafir
Keringanan bagi musafir memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan bahwa orang yang sakit atau dalam perjalanan diberi kesempatan untuk mengganti puasa di hari lain.
Dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW juga pernah berada dalam perjalanan dan ada kondisi beliau berbuka, serta ada kondisi beliau tetap berpuasa.
Jika seseorang kuat, aman, dan tidak mengalami kesulitan berarti, tetap berpuasa juga diperbolehkan. Namun jika perjalanan berat, panas ekstrem, atau menimbulkan kelelahan yang berlebihan, berbuka justru lebih bijak karena menjaga diri termasuk bagian dari syariat.
Batas musafir berapa KM boleh tidak puasa?
Pertanyaan yang paling sering dicari adalah batas jarak musafir. Dalam fikih, ukuran jarak musafir berbeda menurut mazhab, tetapi banyak rujukan menyebutkan kisaran 80–90 km sebagai perjalanan yang tergolong jauh. Di Indonesia, patokan 80 km sering dipakai sebagai ukuran praktis.
Meski demikian, jarak bukan satu-satunya hal yang dinilai. Status safar juga dilihat dari apakah seseorang benar-benar keluar dari wilayah tempat tinggalnya dan melakukan perjalanan yang lazim dianggap perjalanan jauh.
Contohnya, perjalanan lintas kota yang memakan waktu panjang, perjalanan dinas antardaerah, atau mudik ke kampung halaman dengan jarak puluhan hingga ratusan kilometer.
Dengan demikian, jika perjalanan memang jauh dan memenuhi unsur safar, maka musafir boleh mengambil keringanan untuk tidak puasa Ramadan.
Syarat musafir boleh tidak puasa saat Ramadan
Agar rukhsah tidak disalahgunakan, musafir harus memenuhi beberapa syarat. Berikut poin pentingnya:
- Perjalanan tergolong jauh (umumnya sekitar 80-90 km)
- Keluar dari batas wilayah tempat tinggal
- Perjalanan bukan untuk maksiat
- Tidak berniat menetap lama di tempat tujuan (jika menetap, status musafir bisa gugur)
- Kondisi perjalanan berpotensi menimbulkan kesulitan atau kelelahan
Jika syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka musafir boleh berbuka dan menggantinya setelah Ramadan.
Lebih utama puasa atau berbuka saat perjalanan?
Dalam praktiknya, ada musafir yang memilih tetap puasa karena merasa mampu, dan ada pula yang berbuka karena perjalanan berat. Keduanya diperbolehkan selama sesuai kondisi.
Jika perjalanan ringan, tubuh fit, serta puasa tidak mengganggu keselamatan atau aktivitas penting, maka tetap puasa bisa menjadi pilihan yang nyaman karena tidak perlu memiliki hutang qadha.
Namun jika perjalanan jauh membuat tubuh lemah, menyebabkan dehidrasi atau berisiko mengganggu kesehatan, maka berbukalah lebih utama. Islam tidak menghendaki ibadah dilakukan dengan cara yang membahayakan diri.
Prinsipnya adalah mengambil keputusan yang paling aman dan paling menjaga kualitas ibadah, bukan memaksakan diri sampai jatuh sakit. Untuk menjaga kekuatan tubuh terhindar dari dehidrasi persiapan diri lebih matang, dengan minum air yang mengandung ion pada saat sahur.
Panduan qadha puasa musafir (cara mengganti puasa)
Jika musafir tidak berpuasa, kewajibannya adalah qadha, bukan fidyah. Artinya, puasa yang ditinggalkan harus diganti di hari lain setelah Ramadan ketika sudah mampu.
- Catat jumlah hari puasa yang ditinggalkan sejak awal
- Tentukan jadwal qadha yang realistis setelah Ramadan (boleh dicicil)
- Gunakan pengingat digital agar tidak terlewat
Untuk musafir yang jadwalnya padat, kini tersedia layanan digital yang membantu mencatat qadha puasa, pengingat ibadah, hingga pembayaran zakat online dengan cepat dan praktis.
Batas musafir tidak puasa saat Ramadan umumnya merujuk pada perjalanan jauh sekitar 80-90 km, disertai terpenuhinya syarat-syarat musafir.
Jika tidak puasa, musafir wajib mengganti di hari lain melalui qadha sesuai jumlah hari yang ditinggalkan. Dengan memahami jarak, syarat, serta cara qadha yang tepat, ibadah Ramadan tetap aman, nyaman, dan penuh keberkahan.


