Cara atur keuangan pasangan baru saat lebaran pertama
Lebaran pertama setelah menikah? Simak cara mengatur keuangan pasangan baru agar tetap hemat, terencana, dan bebas stres setelah hari raya.
Cara atur keuangan pasangan baru saat lebaran pertama (Sumber: AI generate image)
Lebaran pertama setelah menikah menjadi momen yang spesial bagi pasangan baru. Selain merayakan hari raya bersama, biasanya ada agenda mudik ke dua keluarga, berbagi THR, hingga menyiapkan berbagai kebutuhan tambahan. Tanpa perencanaan yang matang, pengeluaran bisa membengkak dan mengganggu kondisi keuangan setelah Lebaran.
Agar momen tetap hangat tanpa drama finansial, pasangan baru perlu mulai belajar mengatur keuangan secara terbuka dan realistis sejak awal.
Memetakan semua kebutuhan lebaran sejak awal
Langkah pertama adalah membuat daftar kebutuhan secara rinci. Mulai dari biaya transportasi mudik, oleh-oleh, angpao, belanja kebutuhan hari raya, hingga dana darurat.
Dengan mencatat semua pengeluaran, pasangan bisa mengetahui perkiraan total biaya dan menghindari pengeluaran impulsif yang sering terjadi menjelang Lebaran.
Membagi budget untuk dua keluarga secara adil
Prinsip adil dalam membagi budget dua keluarga bukan berarti angkanya harus kembar, tapi proporsinya tepat:
1. Rumus pembagian
THR orang tua (Wajib Sama): Nominal untuk mertua dan orang tua kandung harus 100% sama. Ini kunci menjaga keharmonisan dan rasa hormat kepada pasangan.
Budget operasional (Fleksibel): Sesuaikan dengan jarak. Jika keluarga A lebih jauh, alokasi bensin/tol tentu lebih besar. Ini adil secara logika, bukan perasaan.
Angpao keponakan (Satu Tarif): Tetapkan satu standar nominal (misal: Rp50rb/anak) untuk kedua belah pihak agar tidak ada kecemburuan.
2. Strategi komunikasi
Transparansi Total: Diskusikan angka sebelum uang cair (THR turun).
Dana Cadangan Bersama: Siapkan satu pos kecil untuk tamu tak terduga di kedua rumah agar kamu tidak panik saat ada kerabat jauh datang.
Samakan nilai hadiah atau uang tunai untuk orang tua, namun sesuaikan biaya perjalanan dengan realita di lapangan.
Mengontrol pengeluaran kecil yang sering tidak terasa
Saat Lebaran, pengeluaran kecil sering kali tidak terasa, seperti jajan di perjalanan, membeli camilan tambahan, atau belanja dadakan.
Meski terlihat sepele, jika tidak dikontrol jumlahnya bisa cukup besar. Biasakan mencatat pengeluaran harian agar kondisi keuangan tetap terpantau.
Saat perjalanan atau belanja persiapan, membawa air minum sendiri juga bisa membantu mengurangi pengeluaran kecil sekaligus menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Menyiapkan dana cadangan untuk kondisi tak terduga
Menyiapkan dana cadangan untuk mudik itu ibarat membawa ban serep, kamu tidak perlu memakainya, tapi akan sangat menyesal jika tidak membawanya.
Secara umum, sisihkan 10% hingga 20% dari total seluruh anggaran Lebaran sebagai dana tak terduga.
Namun, angka ini tidak saklek. Mari kita bedah lebih dalam berdasarkan profil risiko perjalanan:
1. Kategori Aman (10% dari Anggaran)
Gunakan angka ini jika kondisi perjalanan kamu sangat terukur.
Kriteria: Mudik menggunakan transportasi umum yang tiketnya sudah fixed (pesawat/kereta), menginap di rumah orang tua (bukan hotel), dan kondisi kesehatan keluarga sedang prima.
Fungsi: Menutup selisih harga makanan yang naik atau biaya parkir/tips yang tidak terduga.
2. Kategori Waspada (20% dari Anggaran)
Angka ini adalah titik ideal bagi mayoritas pemudik di Indonesia.
Kriteria: Mudik menggunakan kendaraan pribadi (mobil), rute jarak jauh (Trans Jawa/Sumatra), atau membawa anak kecil dan lansia.
Fungsi: Menghadapi kenaikan harga BBM (akibat macet parah), perbaikan kendaraan mendadak (ban pecah/aki drop), atau biaya pengobatan ringan (masuk angin/kelelahan).
3. Kategori High-Risk (30% dari Anggaran)
Gunakan angka ini jika variabel ketidakpastiannya sangat tinggi.
Kriteria: Mudik ke daerah yang rawan bencana alam, menggunakan jalur alternatif yang jarang bengkel, atau memiliki riwayat penyakit yang bisa kambuh saat lelah.
Fungsi: Biaya evakuasi, perubahan rute mendadak, atau biaya rawat inap darurat.
Evaluasi keuangan setelah lebaran
Berikut evaluasi keuangan pasca-Lebaran dalam 3 langkah cepat:
1. Cek bocor alus
Bandingkan anggaran awal dengan pengeluaran riil. Identifikasi kategori mana yang paling membengkak (misal: transportasi, angpao, atau konsumsi) agar tahun depan bisa diantisipasi lebih baik.
2. Mode emergency jika Overbudget
Jika tabungan terkuras atau ada utang (kartu kredit/paylater):
- Stop belanja non-primer untuk 1-2 bulan ke depan.
- Prioritaskan pelunasan utang segera untuk menghindari bunga.
- Kembali ke gaya hidup sederhana (frugal living) hingga arus kas stabil.
3. Siapkan sinking fund
Jangan andalkan THR 100%. Mulailah menyisihkan dana kecil setiap bulan khusus untuk Lebaran tahun depan. Ini jauh lebih ringan daripada menanggung semua biaya sekaligus dalam satu bulan.
Setelah semua rangkaian Lebaran selesai, luangkan waktu untuk mengevaluasi pengeluaran. Bandingkan rencana dengan realisasi untuk mengetahui bagian mana yang bisa diperbaiki ke depan.
Evaluasi ini penting agar perencanaan keuangan untuk tahun berikutnya bisa lebih matang dan efisien.


