Kenapa waktu terasa melambat saat menjelang Magrib Ramadan?

Kenapa waktu terasa melambat saat menjelang Magrib di bulan Ramadan? Ini penjelasan psikologis, dan kebiasaan sosial bikin puasa terasa lebih lama.

Update: 2026-02-11 04:04 GMT

Kenapa waktu terasa melambat saat menjelang Maghrib Ramadan? (Sumber:Istimewa)

Indomie

Fenomena waktu terasa melambat saat menjelang buka puasa ini dialami hampir semua orang. Tapi, menariknya, ini bukan cuma soal lapar atau haus semata. Ada penjelasan psikologis, biologis, sampai kebiasaan sosial yang bikin menit-menit terakhir puasa terasa jauh lebih panjang dari biasanya.

Selain itu, faktor ekspektasi dan fokus berlebihan pada waktu juga punya peran besar. Saat menjelang Magrib, otak kita masuk ke mode “menunggu hadiah” karena tahu sebentar lagi akan makan dan minum. Kondisi ini bikin perhatian terus-terusan tertuju ke jam, suara azan, atau tanda buka puasa lainnya.

Semakin sering kita mengecek waktu, semakin lambat waktu terasa berjalan. Secara psikologis, otak memproses detik demi detik dengan lebih sadar, sehingga menit-menit terakhir puasa terasa panjang, padat, dan melelahkan padahal secara nyata, durasinya sama seperti jam-jam sebelumnya.

Fokus pikiran bikin waktu terasa lebih lama

Salah satu penyebab utama kenapa waktu terasa melambat adalah fokus pikiran yang berlebihan. Saat puasa, terutama menjelang Magrib, otak kita terlalu sadar pada waktu. Kita terus mengecek jam, menghitung menit, bahkan detik.

Dalam psikologi, kondisi ini disebut time perception. Semakin sering kamu memperhatikan waktu, semakin lambat waktu terasa berjalan. Berbeda saat kamu sibuk kerja atau nonton film, dua jam bisa terasa cuma sebentar.

Menjelang Magrib, pikiran sudah nggak ke mana-mana. Targetnya satu: buka puasa. Alhasil, otak “menarik rem” persepsi waktu.

Tubuh mulai kehabisan energi

Secara biologis, tubuh yang sudah berjam-jam tidak mendapat asupan makanan akan mengalami penurunan energi. Kadar gula darah menurun, metabolisme melambat, dan tubuh masuk mode hemat tenaga.

Elshinta Peduli

Kondisi ini bikin kamu:

  • Lebih mudah lelah
  • Sulit fokus
  • Merasa waktu berjalan lambat

Makanya banyak orang jadi rebahan, bengong, atau cuma scroll tanpa tujuan saat sore Ramadan. Di fase ini, minuman elektrolit rendah gula atau air mineral berkualitas saat berbuka sangat disarankan supaya tubuh cepat pulih tanpa bikin “kaget” lambung.

Kebiasaan menunggu jadi pemicu utama

Tanpa sadar, Ramadan membentuk kebiasaan baru: menunggu. Menunggu azan, menunggu takjil, menunggu waktu berbuka bersama keluarga. Aktivitas menunggu adalah musuh utama persepsi waktu cepat.

Semakin pasif aktivitas yang dilakukan, semakin lambat waktu terasa berjalan. Itulah kenapa ngabuburit dengan aktivitas ringan seperti jalan sore, baca buku, atau beresin rumah bisa bantu “mempercepat” waktu secara psikologis.

Bonusnya, aktivitas ini juga bikin kamu nggak terlalu kepikiran lapar.

Efek emosional Ramadan

Ramadan bukan cuma soal fisik, tapi juga emosional. Ada rasa harap, sabar, dan antisipasi yang kuat menjelang Magrib. Emosi yang intens ini bikin otak lebih “aware” terhadap setiap detik yang lewat.

Menariknya, justru di situlah nilai puasa diuji. Saat waktu terasa lambat, di situlah latihan kesabaran terjadi. Banyak orang akhirnya sadar, puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tapi juga mengelola pikiran dan emosi.

Cara menyiasati waktu yang terasa lambat

Kalau kamu sering merasa sore Ramadan itu “tersiksa”, coba beberapa cara ini:

  • Hindari terlalu sering melihat jam
  • Lakukan aktivitas ringan yang menyenangkan
  • Siapkan menu buka puasa lebih awal
  • Pastikan asupan sahur cukup serat dan protein agar energi lebih stabil

Mengatur pola makan sahur dengan makanan tinggi serat, vitamin, dan suplemen ringan juga terbukti membantu tubuh bertahan lebih lama tanpa rasa lemas berlebihan.

Waktu yang terasa melambat menjelang Magrib Ramadan bukan ilusi semata. Itu hasil dari kombinasi fokus pikiran, kondisi tubuh, kebiasaan menunggu, dan emosi yang bercampur jadi satu. Kabar baiknya, semua itu normal dan justru jadi bagian dari pengalaman puasa yang bermakna.

Karena pada akhirnya, ketika azan Magrib berkumandang, semua rasa “lama” itu langsung terbayar lunas.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News

Cek ban mobil sebelum Mudik