Mengenal sejarah lahirnya tradisi takjil saat Ramadan

Mengenal sejarah lahirnya tradisi takjil di Indonesia yang dipopulerkan oleh Muhammadiyah sebagai simbol kepedulian sosial dan ibadah ketika Ramadan.

Update: 2026-02-10 08:11 GMT

Berikut ini sejarah lahirnya tradisi takjil saat Ramadan.

Indomie

Fenomena berburu kudapan manis atau membagikan hidangan berbuka di pinggir jalan telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam masyarakat Indonesia saat Ramadan. Hal yang sudah menjadi budaya ini dikenal sebagai, takjil. Ia punya akar tradisi yang kuat dari sejarah lokal, yang jika ditelisik lebih dalam, selain memberikan wawasan, mampu memperkuat makna ibadah kita melalui nilai kepedulian terhadap sesama. Takjil kini identik dengan makanan pembuka, dan memiliki transformasi makna yang panjang serta berkaitan erat dengan gerakan dakwah Islam di tanah air.

Pengertian takjil

Secara etimologis, kata takjil berasal dari bahasa Arab ‘ajjala–yu‘ajjilu–ta‘jīlan yang berarti menyegerakan. Makna ini merujuk pada anjuran Nabi Muhammad SAW untuk segera berbuka puasa ketika waktu magrib telah tiba. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.

Seiring waktu, pemaknaan takjil di Indonesia mengalami pergeseran. Jika semula bermakna tindakan menyegerakan berbuka, kini takjil lebih dikenal sebagai makanan atau minuman ringan yang dikonsumsi saat berbuka puasa. Pergeseran ini tidak menghilangkan nilai ibadahnya, melainkan memperkaya tradisi Ramadan dengan unsur sosial, kebersamaan, dan kepedulian.

Jejak awal tradisi takjil

Catatan sejarah menunjukkan bahwa kebiasaan berbuka bersama dengan hidangan ringan sudah dikenal masyarakat Nusantara sejak akhir abad ke-19. Dalam laporan De Atjehers karya Snouck Hurgronje, disebutkan bahwa masyarakat Aceh pada 1891–1892 telah menyiapkan hidangan berbuka di masjid berupa ie bu peudah atau bubur pedas untuk dinikmati bersama.

Praktik ini menandai bahwa tradisi takjil telah hidup di tengah masyarakat jauh sebelum istilah tersebut populer. Namun, pada masa itu, tradisi berbuka bersama masih bersifat lokal dan belum menjadi budaya massal seperti sekarang.

Elshinta Peduli

Peran Muhammadiyah mempopulerkan takjil

Perkembangan signifikan tradisi takjil di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran Muhammadiyah. Berdasarkan catatan Prof. Abdul Munir Mulkhan dalam buku Kiai Ahmad Dahlan: Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan, Muhammadiyah memelopori praktik mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka dengan menyediakan takjil secara terbuka di masjid serta ruang publik. Inisiatif ini menjadi bagian dari gerakan pembaruan sosial dan dakwah yang lebih inklusif.

Muhammadiyah memandang bahwa ibadah Ramadan tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga sosial. Penyediaan takjil di masjid, tepi jalan, dan ruang publik menjadi sarana memperkuat ukhuwah, membantu musafir, serta menumbuhkan semangat berbagi di kalangan umat.

Langkah Muhammadiyah tersebut secara perlahan membentuk kebiasaan baru. Tradisi takjil yang semula bersifat lokal berkembang menjadi budaya populer nasional. Hingga kini, berburu takjil menjelang waktu berbuka telah menjadi pemandangan khas Ramadan di berbagai daerah. Hal ini juga ditegaskan dalam berbagai kajian yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah berperan besar dalam memasyarakatkan tradisi takjilan secara luas.

Takjil sebagai bagian kehidupan sosial saat Ramadan

Sekarang, tradisi takjil membuka ruang interaksi sosial dan ekonomi. Pasar takjil dadakan, bazar sore Ramadan, hingga pembagian takjil gratis menjadi kegiatan umum di banyak kota.

Fenomena ini mendorong ekosistem ekonomi lebi hidup selama Ramadan. Pelaku usaha kecil, pedagang musiman, hingga komunitas sosial terlibat aktif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan hidangan berbuka yang praktis dan terjangkau.

Takjill saat Ramadan

Jelang Ramadan 2026, tradisi takjil diperkirakan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah Ramadan. Mobilitas masyarakat yang tinggi, rutinitas kerja, serta aktivitas sosial yang padat membuat kebutuhan akan takjil semakin relevan. Dalam situasi ini, takjil bukan sekadar konsumsi, tetapi solusi praktis untuk menjaga kenyamanan ibadah, ketepatan waktu berbuka, serta kebersamaan keluarga.

Takjil sebagai warisan budaya

Mengenal sejarah lahirnya tradisi takjil membantu kita memahami bahwa praktik sederhana ini memiliki akar panjang dalam dakwah, budaya, dan kehidupan sosial. Dari anjuran Nabi untuk menyegerakan berbuka, hingga peran Muhammadiyah dalam mempopulerkannya, takjil berkembang menjadi simbol kebersamaan Ramadan di Indonesia.

Menjelang Ramadan 2026, tradisi takjil tetap relevan sebagai jembatan antara ibadah dan kehidupan sosial. Lebih dari sekadar makanan pembuka, takjil merepresentasikan semangat berbagi, kepedulian, dan kebersamaan yang menjadi inti ibadah Ramadan.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News