Piala Dunia 2026, turnamen paling heboh?
Ilustrasi - Piala Dunia 2026. (ANTARA/pri)
Piala Dunia 2026 bisa menjadi pembuktian untuk Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang masing-masing akan berusia 39 tahun dan 42 tahun saat turnamen itu kickoff pada 11 Juni tahun ini.
Bagi kedua pemain, Piala Dunia 2026 adalah Piala Dunia keenamnya.
Messi akan berusaha menjadi orang Argentina kedua setelah Daniel Passarella yang dua kali menjuarai Piala Dunia, dan orang ke-21 yang dua kali mengangkat trofi Piala Dunia.
Pele menjadi satu-satunya pesepak bola yang tiga kali merasakan juara Piala Dunia.
Sudah memainkan 26 pertandingan Piala Dunia, Messi adalah pemain yang paling banyak memainkan pertandingan Piala Dunia. Hampir mustahil catatan itu terpecahkan oleh pemain lain.
Messi juga tinggal empat gol lagi untuk melewati rekor gol terbanyak Piala Dunia yang dipegang Miroslav Klose; 16 gol.
Argentina sendiri berusaha menjadi tim pertama dalam 64 tahun terakhir yang dua kali berturut-turut menjuarai Piala Dunia. Brasil adalah tim yang terakhir kali back to back menjuarai Piala Dunia pada 1958 dan 1962.
Sementara itu, Cristiano Ronaldo masih penasaran untuk merasakan predikat juara Piala Dunia, setelah gagal pada lima edisi sebelumnya.
Ronaldo akan berusaha keras disandingkan dengan Messi dan pemain-pemain hebat lainnya yang menjuarai dunia. Atau mungkin dia akan senasib dengan Eusebio, Johan Cruyff, dan lainnya yang berstatus megabintang sepak bola tapi tak pernah menjuarai Piala Dunia.
Jika Portugal menjuarai Piala Dunia 2026, maka Ronaldo akan menjadi pemain tertua yang mengangkat trofi Piala Dunia.
Tentu saja tidak cuma soal rivalitas Ronaldo dan Messi yang akan mengemuka dalam Piala Dunia berformat baru dan dimainkan di tiga negara Amerika Utara itu.
Piala Dunia 2026 juga menjadi pembuktian untuk bakat-bakat muda seperti Lamine Yamal, Erling Haaland, dan banyak lagi.
Bisa panas secara politik
Namun, Piala Dunia 2026 juga berpotensi panas di luar arena olah raga, termasuk secara politik, terlebih di Amerika Serikat, yang dipimpin presiden yang menyukai sensasi, kontroversi, dan anti-kemapanan.
Belakangan ini Presiden Donald Trump agresif mengusik siapa pun, entah itu sekutu atau musuh AS, termasuk Iran, Kanada, dan Denmark.
Dua dari tiga negara itu sudah memastikan diri menjadi peserta Piala Dunia 2026.
Iran menjadi salah satu wakil Asia, sedangkan Kanada berstatus tuan rumah, seperti halnya AS dan Meksiko.
Nasib Denmark ditentukan pada 26 dan 31 Maret ketika mereka menghadapi Makedonia Utara dalam semifinal playoff zona Eropa, dan final melawan Ceko atau Republik India.
Jika Denmark lolos, mereka akan mengawali laga di Meksiko, dan jika lolos ke fase gugur bakal melanjutkan berlaga di AS.
Iran bahkan sudah sejak fase grup bertanding di AS.
Baik Denmark, Iran maupun Kanada, tengah ribut dengan Trump dalam isu berbeda-beda.
Denmark ribut dengan AS dalam isu Greenland, Kanada ribut karena perang tarif. Sedangkan Iran di ambang perang terbuka dengan AS gara-gara tenggat perjanjian nuklir.
Mungkin kekhawatiran panas secara politik itu tak akan terwujud, tapi mungkin juga terjadi di lapangan bola, apalagi Trump dan barisan pendukung ultra-kanannya, kerap memanfaatkan ajang olahraga untuk show of force dan citra kuasa.
Lain dari itu, manakala Piala Dunia 2026 digelar dari Juni sampai Juli, maka itu adalah masa-masa kritis dalam dinamika politik di AS karena sudah masuk masa Pemilu Sela pada November 2026. Dan Pemilu ini menentukan nasib pemerintahan Trump kemudian.
Semoga saja semua skenario buruk itu tak terjadi, apalagi FIFA jauh-jauh hari sudah memasang garis merah berkaitan dengan profesionalitas penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Khawatir tak ramah tamu
Ada satu lagi kekhawatiran yang mengganggu sejumlah kalangan, bahwa Piala Dunia 2026 bisa menjadi Piala Dunia yang tidak ramah kepada penonton non tuan rumah.
Kekhawatiran ini mengemuka setelah dunia menyaksikan langkah pemerintah AS dalam memburu imigran gelap dengan cara yang justru memicu kontroversi dan penolakan publik di dalam negerinya sendiri.
Selaras dengan janji politiknya selama kampanye Pemilu 2024, Trump berusaha menerapkan kebijakan imigrasi yang super-keras.
Ujung tombak untuk menerapkan kebijakan imigrasi super-keras ini adalah Immigration and Customs Enforcement (ICE). Tugas ICE sebenarnya mulia, yakni mengadakan penyelidikan kriminal, menegakkan aturan imigrasi, menjaga keamanan nasional, dan melindungi keselamatan publik.
Namun belakangan tindakan ICE dalam menjalankan kebijakan imigrasi Trump dianggap berlebihan dan melanggar hukum, sampai menembak mati dua warga sipil AS yang tak memiliki catatan kriminal.
Para petugas ICE bisa menggeledah dan menangkap siapa pun, tanpa surat perintah dari pengadilan.
Banyak warga AS yang mengeluhkan ICE, termasuk warga AS penyandang disabilitas keturunan Bangladesh bernama Aliya Rahman.
Baru-baru ini Rahman bersaksi dalam dengar pendapat di DPR Amerika Serikat bahwa tindakan ICE sudah melampaui batas, sampai warga negara difabel seperti Rahman pun diperlakukan bak tersangka penjahat.
Video kesaksian Rahman itu viral dalam platform-platform berbagi video, ditanggapi serius oleh netizen mancanagara.
Mereka semakin beranggapan bahwa saat ini adalah masa yang tidak tepat untuk bepergian ke AS karena bisa-bisa menjadi sasaran kebijakan imigrasi Trump.
Di antara yang khawatir adalah calon penonton Piala Dunia 2026, yang akan menyaksikan pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2026 yang diadakan di AS.
Padahal 78 dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026, akan digelar di AS, termasuk semua laga perempat final, semifinal dan final.
Kekhawatiran sejumlah warga global itu berkorespondensi dengan pandangan sebagian pegiat HAM di AS, apalagi setelah muncul kabar pemerintah AS mengerahkan para petugas penegakan hukum imigrasi ke venue-venue Piala Dunia 2026 di AS.
Para aktivis HAM mengkhawatirkan sepak terjang badan-badan penegakan hukum seperti ICE akan membuat kota-kota di AS penyelenggara Piala Dunia 2026, tidak ramah kepada pendatang, atau lebih parah dari sekadar tak ramah kepada tamu.
Ini persoalan yang mesti diatasi FIFA dan Trump, karena jika dianggap sepele bisa membahayakan penyelenggaraan turnamen akbar sepak bola itu.
Apalagi Piala Dunia berformat baru yang untuk pertama kali diikuti oleh 48 tim itu justru ingin memberi pesan mengenai atmosfer baru kompetisi olahraga yang lebih inklusif dan lebih merangkul banyak kawasan.


