Adopsi AI: Troli pintar dan wajah baru industri ritel

By :  Widodo
Update: 2025-08-30 12:10 GMT

Troli pintar untuk berbelanja dari FairPrice Group dan Google Cloud di Punggol Digital District, Singapura, Rabu (27/8/2025). ANTARA/Indra Arief Pribadi)

Kecerdasan buatan (AI) yang dulu sering menjadi jargon di panggung politik atau di konferensi teknologi, kini benar-benar hadir dalam keseharian. Ia menjelma menawarkan kemudahan yang harus diimbangi dengan peran manusia.

AI, khususnya di Asia Tenggara, bukan lagi "lipstik digital" yang keren tapi membingungkan. Teknologi ini berkembang begitu cepat, menyusup ke hampir semua aspek hidup, termasuk aktivitas sederhana seperti belanja harian.

AI yang diadopsi kian cepat kini melahirkan banyak inovasi baru: troli pintar, mesin pencarian dengan personalisasi pelanggan, hingga asisten digital penata fesyen. Industri ritel adalah satu dari sekian banyak industri yang banyak mengadopsi AI.

Bayangkan, jika konsumen mengetik "pakaian motif untuk ke kantor" di aplikasi belanja, dulu hasilnya bisa nihil karena sistem hanya mencocokkan kata per kata. Terkadang, calon pembeli frustrasi dan transaksi pun gagal. Sistem lama hanya mengandalkan kecocokan kata kunci sehingga gagal memahami maksud sebenarnya.

Namun kini, seperti disampaikan dalam demo kepada beberapa media dari Asia Tenggara, di Singapura, Kamis (28/8), ritel fesyen terkemuka H&M (Gill Capital Group) yang bermitra dengan perusahaan teknologi Google Cloud menyiapkan mesin pencari yang lebih pintar dan memudahkan pelanggan. Agen AI dalam mesin pencari itu dapat memahami maksud pengguna, bahkan ketika kita mengetik dengan bahasa sehari-hari seperti "pakaian motif untuk ke kantor", bukan lagi kata kunci spesifik.

Mesin pencari itu menyerupai asisten yang dapat memberikan rekomendasi baju sesuai kalimat yang dituliskan pelanggan, toko terdekat, dan produk yang sesuai personalisasi pelanggan. Asisten ini bahkan bisa memahami percakapan berlanjut, mengingat konteks, dan menyesuaikan jawabannya sehingga pengalaman belanja terasa makin personal.

Group Chief Data and Analytics Officer Gill Capital Group Victor Siow mengungkapkan bahwa ini menjadi contoh nyata bagaimana AI menjembatani cara bicara manusia dengan logika mesin.

Pada saat ini yang masih dalam tahap uji coba, keterlibatan pengguna terlihat meningkat, dan itu berdampak langsung pada penjualan, kata Victor. Fitur ini rencananya diluncurkan secara resmi di Indonesia dan Thailand pada akhir 2025.

Inovasi AI juga kini sudah menyentuh kegiatan berbelanja di pasar swalayan. Jika saat ini dalam berbelanja, pengunjung harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari informasi di gawai mengenai bumbu masak yang akan dibeli, atau produk yang menawarkan promo, AI dapat mempermudah itu semua dengan troli pintar (smart cart).

Troli belanja di toko futuristik "Store of Tomorrow" dari FairPrice Group di Punggol Digital District, Singapura, menyediakan tablet interaktif di troli yang bisa memindai barcode, menampilkan promosi di lorong yang sedang dilewati, hingga memberi rekomendasi resep lengkap dengan bahan-bahan yang tersedia di toko.

Teknologi AI dari Google Cloud ini juga bekerja diam-diam di balik layar. Di pasar swalayan tersebut, kamera bertenaga AI mampu mendeteksi rak yang kosong dan langsung mengirim peringatan ke staf. Sistem notifikasi seperti ini membuat karyawan lebih sigap, dan mencegah pelanggan kecewa karena barang habis.

Bahkan ada juga layanan berbasis AI yang terasa inovatif seperti konsultan kesehatan digital yang menganalisis komposisi tubuh, yang semua diarahkan untuk membuat belanja lebih mudah, dan efisien.

Tren adopsi AI saat ini sudah sangat berbeda. Jika biasanya perusahaan besar cenderung lambat mengadopsi teknologi baru, kali ini mereka justru bergerak cepat, secepat perusahaan digital. AI juga dinilai sebagai teknologi tercepat yang berpindah dari tahap uji coba ke produksi sehingga AI diyakini akan menyentuh setiap bagian di perusahaan.

Dari data Google Cloud, ditemukan bahwa tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI) perusahaan pelanggan AI terus berkembang. Pelanggan Google Cloud AI mendapatkan rata-rata pengembalian investasi sebesar 727 persen di Google Cloud AI dalam tiga tahun. Bisnis yang menggunakan Google Cloud AI juga memperoleh rata-rata 205 ribu dolar AS dalam hal produktivitas dan nilai output per 1.000 karyawan.


Hidup lebih baik

CEO FairPrice Group Vipul Chawla menegaskan bahwa tujuan dari inovasi ini sederhana yakni membuat hidup pelanggan lebih baik setiap hari. AI dianggap sebagai sarana untuk mewujudkan pengalaman belanja yang lancar, efisien, dan terjangkau.

Pernyataan itu sejalan dengan pandangan CEO Google Cloud Thomas Kurian, yang menilai AI kini sudah berkembang menjadi infrastruktur baru, setara dengan listrik dan internet. Ia menekankan salah satu hal yang ingin dicapai perusahaannya adalah membuat penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) memberikan kemudahan bagi semua orang di semua jenjang kegiatan.

Sektor ritel dapat menjadi contoh konkret bagaimana AI benar-benar hadir dalam keseharian masyarakat, dari troli pintar hingga asisten virtual yang memudahkan konsumen.

Bagi konsumen, manfaatnya terasa jelas yakni belanja menjadi lebih mudah, lebih murah, dan bahkan lebih ramah lingkungan. Sistem prediksi stok mencegah kehabisan barang, otomatisasi rantai pasok membuat harga lebih efisien, sementara asisten cerdas membantu memilih produk sesuai kebutuhan.

Bagi perusahaan, dampak penggunaan AI dapat mendorong operasional yang menjadi lebih efisien, proyeksi bisnis yang lebih cepat, dan pengambilan keputusan bisa berbasis data yang akurat. Ini menjadi wajah baru industri ritel yang memadukan efisiensi mesin dengan kebutuhan manusia.

Namun, dalam perspektif yang lebih luas, ada tantangan besar yang tidak boleh diabaikan: privasi dan keamanan data. AI bekerja dengan mengumpulkan data dalam jumlah besar, mulai dari pencarian konsumen, preferensi produk, hingga pola belanja. Dengan begitu, perlu ada aturan yang menetapkan soal pengendalian data dan menjaga data tidak disalahgunakan.

Thomas Kurian dalam konferensi AI Asia: Building Beyond Borders menegaskan bahwa kendali data dalam teknologi AI di Google Cloud AI tetap berada di tangan pengguna, dengan mekanisme enkripsi pribadi, kontrol berbasis peran, hingga pengawasan ketat dari pusat komando keamanan.

Google Cloud menaruh perhatian besar pada isu ini. Mereka berinvestasi besar pada teknologi untuk memastikan data tetap berada dalam batas wilayah yang ditentukan, sekaligus terlindungi dari ancaman siber.

Di Indonesia sendiri, Google Cloud telah menjadi mitra bagi tujuh bank dari 10 bank terbesar, tiga operator telekomunikasi, sejumlah perusahaan ritel, hingga sejumlah unicorn.

Sejalan dengan perkembangan AI yang begitu cepat, tantangan dan ancaman juga akan berubah wajah. Teknologi sepatutnya tetap membuat kehidupan sehari-hari bertumpu pada sentuhan manusia. Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan: memastikan kehadiran AI sebagai pelengkap dan memperkuat peran manusia, bukan sebagai ancaman apalagi pengganti.

Tags:    

Similar News