Anak kecanduan gadget? Psikolog minta orang tua waspada
Psikolog Muhammad Iqbal menilai pembatasan media sosial bagi anak penting untuk mencegah kecanduan gadget dan melindungi anak dari risiko dunia digital.
Dokumen Pribadi
Kebijakan pembatasan akun media sosial bagi anak dinilai penting untuk melindungi mereka dari berbagai risiko di dunia digital.
Psikolog sekaligus CEO Rumah Konseling, Muhammad Iqbal, menyampaikan hal itu dalam wawancara edisi siang Radio Elshinta, Selasa (17/3/2026).
Menurut Iqbal, penggunaan gadget pada anak perlu mendapat perhatian serius. Anak dinilai rentan mengalami kecanduan, menjadi korban kejahatan digital, serta terpengaruh perilaku negatif dari internet.
Ia menilai aturan dari pemerintah perlu didukung pengawasan dari orang tua dan lingkungan sekitar.
"Kebijakan ini bukan sekadar pembatasan, melainkan bentuk perlindungan bagi anak-anak yang selama ini terpapar penggunaan gadget tanpa kontrol. Anak-anak kerap menjadi korban di ruang digital, baik dari kejahatan seperti pedofilia maupun dampak psikologis akibat kecanduan game dan media sosial yang memengaruhi perilaku sehari-hari," ujar Iqbal.
Ia mengatakan penggunaan gadget yang berlebihan bisa berdampak pada menurunnya disiplin, prestasi belajar, hingga kemampuan anak bersosialisasi.
Dalam beberapa kasus, paparan konten kekerasan dari game atau media sosial juga dapat memicu perilaku agresif di dunia nyata.
“Selama ini anak-anak seperti diberi ‘gula’ terus-menerus dari gadget. Ketika dibatasi tentu akan ada reaksi, tapi ini bagian dari proses detoksifikasi yang penting,” ujarnya.
Iqbal menilai tanpa aturan yang jelas, anak-anak akan terus mencari cara untuk menggunakan gadget. Misalnya dengan memakai akun orang lain atau memalsukan usia.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pengawasan dari orang tua. Salah satu caranya adalah menggunakan akun orang tua untuk mengontrol akses anak.
Dengan cara itu, orang tua dapat membatasi waktu penggunaan gadget serta menyaring konten yang bisa diakses anak.
Iqbal juga mengingatkan anak perlu memiliki kegiatan lain di luar gadget. Misalnya bermain dengan teman, berolahraga, atau mengikuti kegiatan sekolah.
“Anak-anak harus kembali ke dunia nyata, bermain dengan teman, berinteraksi. Dari situ mereka belajar menghadapi konflik dan membangun mental yang kuat,” kata Iqbal.
Ia menambahkan penggunaan gadget yang berlebihan juga bisa berdampak pada kesehatan. Di antaranya gangguan penglihatan, kurang bergerak, hingga sulit menghadapi tekanan.
Menurutnya, momen seperti Ramadan dan mudik bisa dimanfaatkan orang tua untuk mengurangi penggunaan gadget. Anak dapat diajak lebih banyak berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
Di akhir wawancara, Iqbal menegaskan keberhasilan kebijakan ini tidak hanya bergantung pada pemerintah.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Semua pihak harus terlibat agar anak-anak benar-benar terlindungi dan tumbuh dengan sehat,” pungkasnya.
Ayesha Julia Putri/Rama


