Dari yu sheng hingga mi panjang umur untuk Imlek

Imlek menjadi tradisi tahunan yang dirayakan oleh seluruh warga Tionghoa, termasuk keturunannya yang tinggal di Indonesia. Perayaan ini tidak hanya melibatkan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang berkumpulnya keluarga dan masyarakat dalam suasana penuh kehangatan.

By :  Widodo
Update: 2026-02-07 12:30 GMT

Yu sheng atau yi shang adalah salah satu hidangan wajib yang ada saat perayaan Imlek. Yi shang biasanya terdiri dari ragam sayuran, buah, dan ikan dengan varian warna sebagai elemen penting dalam kepercayaan Tionghoa. (ANTARA/ Nabila Charisty).

Elshinta Peduli

Imlek menjadi tradisi tahunan yang dirayakan oleh seluruh warga Tionghoa, termasuk keturunannya yang tinggal di Indonesia. Perayaan ini tidak hanya melibatkan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang berkumpulnya keluarga dan masyarakat dalam suasana penuh kehangatan.

Terdapat beragam aktifitas seni dan budaya untuk menyemarakkan perayaan Imlek. Pertunjukan tarian barongsai hingga festival makanan menjadi daya tarik utama yang menarik perhatian masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga melestarikan budaya Tionghoa yang kaya akan nilai dan makna.

Salah satu yang menjadi potret menarik dari perayaan Imlek adalah hidangan khas yang disajikan saat berkumpul bersama keluarga. Makanan seperti yu sheng, mie panjang umur, hingga aneka boga bahari tidak hanya menyenangkan untuk disantap, tetapi juga memiliki makna penting dalam kepercayaan yang dianut.


Ragam hidangan yang biasa disajikan saat perayaan Imlek (ANTARA/ Nabila Charisty)

Pakar Kuliner keturunan Tionghoa, William Wongso, kepada ANTARA yang terhubung secara virtual melalui layanan panggilan konferensi Zoom mengungkapkan, bahan-bahan pangan yang digunakan dalam memasak hidangan khas Imlek bukanlah merefleksikan kemewahan, akan tetapi terdapat simbol yang dapat menggambarkan keselamatan, kekayaan, kelanggengan, hingga kebahagiaan.

“Kalau di China, setiap bahan itu mengandung makna penting dan itu dijelaskan dari tulisan kaligrafi dari bahan tersebut, contoh Apel. Bahasa Mandarin Apel itu ping guo. Ping artinya kedamaian,”kata William, pakar yang aktif di industri kuliner sejak 1977 itu.

Tradisi menikmati hidangan khusus Imlek tersebut telah dibudayakan oleh warga etnis Tionghoa di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, sejak ratusan tahun lalu. Meskipun berada jauh dari tanah asal, warga keturunan di Indonesia tetap merayakan Imlek dengan semangat dan budaya yang sama.

Elshinta Peduli

Semangat menjaga tradisi itu pula yang tercermin pada ragam hidangan yang dapat dijumpai di House of Tugu, sebuah bangunan bersejarah di Kawasan Kota Tua Jakarta yang kini difungsikan sebagai hotel dan restoran.


Naga yang pernah menjadi ornamen pada perayaan Cap Go Meh tahun 1961. Benda ini kembali ditampilkan usai mengalami restorasi setelah dilarang muncul saat gejolak politik kala itu. (ANTARA/ Nabila Charisty)

 Bangunan yang merupakan bagian dari jejak panjang pencampuran budaya Nusantara, Tionghoa, dan Belanda itu kini dirawat sebagai ruang bersejarah yang dibuka untuk umum. Di momen Imlek, House of Tugu menghadirkan hidangan khas yang dirangkai dari berbagai tradisi peranakan Jawa pesisir.

Makanan tradisional khas Imlek

1. Yu Sheng Kemakmuran – Gaya Tuan Besar Semarang

Yu sheng merupakan hidangan tradisional Imlek yang sarat simbol dan harapan. Sajian ini biasanya menjadi hidangan pembuka yang disantap bersama-sama dalam tradisi Lo Hei, yakni mengangkat salad setinggi-tingginya menggunakan sumpit sebagai simbol harapan agar rezeki, keberuntungan, dan kesuksesan terus meningkat di tahun yang baru.

Setiap elemen dalam yu sheng memiliki makna tersendiri. Dalam tradisi Tionghoa, ikan mentah merupakan simbol kelimpahan sepanjang tahun. Kepercayaan ini berangkat dari makna kata yu yang berarti ikan sekaligus surplus. Karena itu, menyantap ikan mentah dalam sajian Yu sheng saat imlek diyakini membawa limpahan rezeki di tahun yang akan datang.

Selain ikan, pomelo kerap menjadi bagian penting dalam yu sheng. Buah ini dipercaya sebagai simbol hoki dan keberuntungan. Saat pomelo dicampurkan ke hidangan, biasanya disertai doa untuk kesuksesan dan kelancaran dalam setiap urusan.

Selanjutnya, yu sheng juga dilengkapi sayuran hijau dan minyak zaitun. Dalam tradisi, warna hijau menjadi elemen yang tidak boleh hilang karena melambangkan harapan akan kesehatan, yang diwujudkan melalui sayuran seperti mentimun dan bahan hijau lainnya.

Kacang tumbuk juga kerap menjadi pelengkap dalam hidangan yu sheng. Bahan ini melambangkan kemakmuran rumah tangga, yang biasanya disertai doa agar kehidupan keluarga dipenuhi emas dan perak. Terakhir, taburan biji wijen menjadi simbol harapan agar usaha dan bisnis terus berkembang.


Aneka pugasan boga bahari menjadi pelengkap rasa gurih dari Mie Panjang Umur yang menjadi salah satu hidangan wajib saat perayaan Imlek. Hidangan laut dipercaya membawa harapan akan kehidupan yang makmur dan rezeki yang terus mengalir sepanjang tahun. (ANTARA/ Nabila Charisty)

“Spesial di Tahun Kuda Api, kami hadirkan menu Peranakan Jawa Pesisir, sebagai akulturasi budaya Jawa dengan China agar semakin lebih meriah,” kata Putri, event manager.

2. Garoupa kukus Kapitan Cirebon – fillet kerapu putih

Kerapu putih yang disajikan utuh, dikukus dengan jahe dan daun bawang, lalu disiram saus kecap berpadu minyak wijen panas. Itulah hidangan khas pesisir Cirebon yang menonjolkan cita rasa alami dan manis lembut daging ikan.

Dalam kepercayaan Tionghoa, ikan tidak boleh disajikan dalam keadaan terpotong-potong karena melambangkan keutuhan, keberlanjutan rezeki, dan kelancaran hidup. Ikan biasanya diletakkan di tengah meja untuk dibagi bersama, bukan disajikan per porsi. Menyajikan ikan yang sudah dipotong-potong dipercaya dapat memutus simbol keberuntungan dan rezeki.

“Hal wajib yang perlu ada dalam perayaan makan bersama saat Imlek yang pasti ikan nggak boleh dipotong-potong, karena berkaitan dengan rezeki yang terputus-putus,” kata William Wongso, ahli kuliner yang menguasai seni masakan Eropa dan Asia itu.

Laut dipandang sebagai sumber rezeki yang luas dan tak terbatas, sehingga hidangan laut dalam tradisi Imlek bukan sekadar lambang rezeki. Ikan dikenal sebagai makhluk yang mampu menerabas arus sungai, terus bergerak maju meski menghadapi tekanan dari depan. Filosofi ini dimaknai sebagai ketangguhan, keberanian menghadapi tantangan, dan semangat pantang mundur dalam menjalani kehidupan.

3. Mie Panjang Umur Keluarga Bhe

Mi panjang umur (siu mie) yang ditumis dengan sayuran segar, udang, daging kepiting manis, dan aneka boga bahari lainnya menghasilkan cita rasa yang gurih dan sedap. Hidangan ini disajikan utuh dengan panjang mencapai dua meter tanpa terputus, melambangkan harapan akan umur panjang, kemakmuran, dan kelancaran rezeki di tahun yang akan datang.


Menu ikan garupa kukus dengan kuah bening disajikan secara utuh sebagai simbol kejernihan dan harapan rezeki yang mengalir lancar dan berkesinambungan sepanjang tahun. (ANTARA/ Nabila Charisty)

Makanan ini umumnya disantap di penghujung jamuan, setelah rangkaian hidangan pembuka kaya serat dan menu utama tinggi protein dinikmati.

Biasanya, saat mengudap hidangan ini, masyarakat Tionghoa tidak boleh memotong atau menggigit mi hingga putus saat memakannya. Mi harus diseruput utuh dari ujung ke pangkal agar tidak membawa nasib buruk.

4. Ny. Kwee Coconut Klappertaart

Mengakhiri budaya makan bersama saat Imlek dapat dilakukan dengan menikmati hidangan penutup khas Manado–Belanda, seperti klappertaart yang lembut berbahan kelapa muda, diperkaya kismis yang direndam rum, taburan almond panggang, dan telur putih kayu manis. Disajikan dengan es puter gula aren sebagai pelengkap manis perayaan Imlek 2577 Kongzili.

Dalam tradisi jamuan Imlek, jumlah hidangan yang tersaji di meja makan pun umumnya tidak sedikit, bahkan bisa lebih dari sepuluh menu. Menurut William Wongso, hal ini karena masyarakat Tionghoa percaya bahwa keberagaman hidangan mencerminkan kelimpahan dan keberuntungan, sehingga sajian harus mencakup berbagai jenis rasa dan bahan.


Klappertaart bisa menjadi pilihan sajian akhir dalam tradisi makan saat Imlek. Menu ini sebagai penutup manis perayaan Imlek 2577 Kongzili. (ANTARA/ Nabila Charisty)

“Biasanya varian menu Imlek yang biasa tersaji di atas meja itu ada sepuluh. Orang Chinese saat makan biasanya cenderung ingin menikmati banyak jenis hidangan,” kata pria bershio Babi kelahiran 1947 itu.

Tak hanya menikmati hidangan, pengunjung juga diajak menelusuri sejarah yang melekat di setiap sudut bangunan. Salah satunya ornamen naga di langit-langit, yang dibuat pada tahun 1961 untuk perayaan Cap Go Meh.

Selain itu, terdapat dokumentasi keluarga Raden Ajeng Kasinem seorang pribumi keponakan dari pelukis legendaris Raden Saleh, yang juga istri dari Oei Tiong Ham, sang “Raja Gula” asal Semarang dalam potret-potret lama yang merekam kisah kehidupan dan jejak sejarah pada masanya.

“Indonesia itu memiliki kekayaan sejarah. Salah satunya yang terdapat pada bangunan ini. Banyak sekali peninggalan sejarah yang berharga dan jarang diketahui,” kata Putri.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News