DKI siapkan respon cepat tanggulangi pencemaran udara saat kemarau

Update: 2026-03-05 05:20 GMT

Arsip foto - Suasana Monas yang tertutup polusi di Jakarta, Jumat (21/6/2024). Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 15.53 WIB, Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) di Jakarta berada pada angka 155 yang menempatkannya sebagai kota besar dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia di bawah Kinshasa, Kongo. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.)

Indomie

 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan respon cepat untuk menanggulangi pencemaran udara di Ibu Kota saat musim kemarau yang diprediksi terjadi pada awal Mei hingga Agustus mendatang.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa di Jakarta, Kamis, mengatakan, langkah ini pernah dikeluarkan pada beberapa tahun lalu namun belum memiliki payung hukum.

"Kami pernah buat 10 langkah respon cepat penanggulangan pencemaran udara. Tetapi karena kondisi kualitas udara membaik pada 2024, 2025 dan mudah-mudahan sekarang, belum sempat kami olah menjadi satu regulasi," kata dia.

Erni mengatakan, DLH DKI akan kembali melakukan langkah cepat penanganan pencemaran udara saat kemarau, meliputi peningkatan kualitas sistem pemantau kualitas udara dan uji emisi kendaraan bermotor. Di antara langkah penanganan pencemaran udara, penyemprotan "water mist" termasuk yang pernah diterapkan di Jakarta. Saat ini tercatat 100 gedung di Jakarta sudah menerapkan upaya untuk menekan polusi udara.

"Kami pasang 'water mist' di beberapa gedung, sekarang sudah terpasang 100," kata dia.

Di sisi lain, Pemprov DKI memiliki Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang saat ini sedang dievaluasi dari berbagai aspek, mulai dari tren PM2.5, beban emisi per sektor hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

"SPPU sedang dievaluasi. SPPU kami bagi lagi, kami cari di kegiatan mana yang paling efektif dalam menanggulangi pencemaran udara Jakarta," kata Erni.

Elshinta Peduli

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau di Indonesia pada tahun ini akan lebih panjang dan relatif lebih kering jika dibandingkan dengan 2025. Awal musim kemarau diprediksi akan dimulai pada April 2026 di sejumlah wilayah daerah Indonesia, yaitu 114 zona musim dan secara bertahap akan mulai dirasakan di wilayah lain pada Mei dan Juni.

Kondisi tersebut memperlihatkan awal musim kemarau di Indonesia datang lebih cepat pada tahun ini dibandingkan kondisi normal.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News