DKI targetkan 5 persen kebutuhan pangan lewat urban farming pada 2030

Update: 2026-03-30 09:00 GMT

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok (kiri) dan Wali Kota Jakarta Timur Munjirin (kanan) memberikan keterangan kepada awak media setelah menghadiri kegiatan panen raya serentak DKI Jakarta di lahan pertanian di Jalan Raya Pulo Gebang, RT 12/RW 06, Cakung, Jakarta Timur, Senin (30/3/2026). (ANTARA/Siti Nurhaliza).

Indomie

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan peningkatan kemandirian pangan melalui pengembangan pertanian perkotaan (urban farming) hingga mencapai lima persen dari total kebutuhan pada 2030.

"Target kami pada 2030, Jakarta mampu memenuhi hingga lima persen kebutuhan pangannya sendiri, salah satunya lewat pertanian perkotaan (urban farming)," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok setelah mengikuti kegiatan panen raya serentak DKI Jakarta di lahan pertanian di Jalan Raya Pulo Gebang, RT 12/RW 06, Cakung, Jakarta Timur, Senin.

Saat ini, menurut dia, kontribusi produksi pangan dari dalam Jakarta masih sangat kecil, yakni sekitar dua persen. Sementara itu, sekitar 98 persen kebutuhan pangan warga masih dipasok dari luar daerah.

"Kondisi ini menjadi tantangan bagi kami. Namun, melalui desain besar pertanian perkotaan, kami optimistis ketergantungan terhadap pasokan luar daerah bisa terus ditekan," ujar Hasudungan.

Dia menjelaskan pencapaian target tersebut difokuskan pada komoditas strategis yang berpengaruh langsung terhadap inflasi daerah, di antaranya cabai merah dan bawang merah yang menjadi prioritas utama karena kerap memicu fluktuasi harga di pasaran.

"Fokus kami pada komoditas yang memengaruhi inflasi, seperti cabai merah dan bawang merah. Jika produksinya meningkat di dalam kota, diharapkan dapat membantu menstabilkan harga,” jelas Hasudungan.

Untuk mencapai target tersebut, Dinas KPKP DKI mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan melalui berbagai inovasi, mulai dari urban farming, pemanfaatan lahan kosong, hingga pengembangan kawasan pertanian berbasis komunitas. Akan tetapi, Hasudungan mengakui sejumlah tantangan yang harus dihadapi, di antaranya keterbatasan lahan, kondisi iklim perkotaan, serta perlunya peningkatan partisipasi masyarakat.

Elshinta Peduli

"Keterbatasan lahan memang menjadi tantangan utama. Tapi selama masih ada sinar matahari, lahan sekecil apa pun bisa dimanfaatkan untuk bertani," ujar Hasudungan.

Selain itu, pihaknya juga menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar semakin banyak warga yang terlibat dalam kegiatan pertanian perkotaan. Hasudungan pun menilai perubahan pola pikir merupakan kunci keberhasilan program tersebut.

"Yang tidak kalah penting adalah membangun mentalitas masyarakat. Kami terus mengedukasi bahwa pertanian perkotaan itu bisa dan memiliki manfaat besar," ucap Hasudungan.

Lebih lanjut, dia menegaskan keberhasilan sejumlah wilayah, seperti Jakarta Timur, dalam mengembangkan ratusan titik panen membuktikan pertanian perkotaan berpotensi besar untuk dikembangkan secara luas di Jakarta.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, sambung dia, Pemprov DKI optimistis target lima persen kemandirian pangan pada 2030 dapat tercapai, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tengah dinamika kota metropolitan.

Seperti diketahui, Pemprov DKI menggencarkan penguatan ketahanan pangan dan pertanian perkotaan (urban farming) melalui kegiatan panen raya di 807 titik se-Jakarta pada Senin. Kegiatan ini tersebar di 807 titik lokasi di seluruh wilayah DKI Jakarta, dengan rincian Jakarta Timur menjadi wilayah dengan titik panen terbanyak, yakni 414 lokasi.

Lalu, disusul Jakarta Selatan 177 lokasi, Jakarta Utara 94 lokasi, Jakarta Barat 60 lokasi, Jakarta Pusat 58 lokasi, dan Kepulauan Seribu 4 lokasi. Salah satu lokasi utama kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan Greenhouse Lahan Pertanian Pulo Gebang, Jakarta Timur.

Selain di Jakarta Timur, kegiatan panen juga dilaksanakan di sejumlah titik percontohan di wilayah lain, di antaranya urban farming balkon Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, GSG 07 Kembangan Utara di Jakarta Barat, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Cilandak KKO di Jakarta Selatan, RPTRA Sunter Jaya Berseri di Jakarta Utara, serta kawasan Pulau Tidung Kecil di Kepulauan Seribu.

Hasudungan mengungkapkan total luas lahan pertanian yang dipanen dalam kegiatan panen raya itu mencapai sekitar 12.567 meter persegi. Lahan-lahan tersebut dikembangkan sebagai kawasan pertanian terpadu yang menjadi etalase pertanian perkotaan di Jakarta.

Sejumlah komoditas yang dipanen meliputi cabai, berbagai jenis sayuran, buah-buahan, tanaman pangan, tanaman obat keluarga (TOGA), serta ikan konsumsi. Secara keseluruhan, potensi hasil panen dalam kegiatan ini diperkirakan mencapai 15 ton. 

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News