Dokter: Kesehatan awak penerbangan kunci keselamatan evakuasi medis
Prajurit KRI dr Soeharso-990 Satgas TNI AL menurunkan warga yang sakit saat evakuasi medis lewat udara bagi korban bencana alam di Desa Marlempang, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (11/12/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym.
Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan RS Sari Asih Ciputat di Tangerang Selatan, Banten, Arwin Okwandi mengatakan kesehatan awak penerbang adalah kunci keselamatan seluruh penumpang dalam proses medical evacuation atau evakuasi medis.
"Pengawasan oleh dokter spesialis penerbangan juga sangat krusial di sini, karena kondisi fisiologis manusia akan berubah drastis saat berada di ketinggian," kata Arwin Okwandi di Tangerang, Kamis.
Ia mengatakan pemeriksaan utama yang perlu dilakukan sebelum medical evacuation dilakukan yakni pemeriksaan fisik dan mental dalam memastikan awak penerbang bebas dari kondisi medis yang dapat menyebabkan incapacitation atau hilang kemampuan mendadak saat bertugas.
Lalu kesehatan sensorik berupa pemeriksaan ketajaman mata dan pendengaran yang sangat vital untuk komunikasi di kokpit.
"Psikologi penerbangan juga perlu diperiksa dalam menghadapi situasi darurat selama penerbangan," ujarnya.
Arwin menjelaskan medical evacuation adalah proses pemindahan pasien yang membutuhkan perawatan intensif dari satu lokasi ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai menggunakan transportasi khusus. Dalam dunia medis yang bergerak cepat, lanjutnya, perpindahan pasien antar-kota atau negara memerlukan ketepatan waktu dan keamanan ekstra.
Maka itu setiap proses evakuasi dan pemeriksaan kesehatan penerbangan dilakukan dengan standar keselamatan tinggi, baik bagi pasien maupun awak penerbangan.
"Layanan medical evacuation harus dirancang khusus untuk menjaga stabilitas kondisi pasien selama perjalanan udara maupun darat, sehingga berbagai kendala bisa ditangani," katanya.
Ia menambahkan bukan hanya bagi pasien kritis, penumpang umum juga sering mengalami kendala kesehatan saat terbang. Ada dua keluhan yang paling sering muncul yakni barotrauma atau nyeri telinga akibat ketidakseimbangan tekanan udara di dalam telinga tengah dengan tekanan di kabin pesawat.
"Jika tidak ditangani atau dipaksakan terbang saat sedang flu berat, hal ini bisa menyebabkan peradangan hingga pecahnya gendang telinga," ujarnya.
Lalu kendala kedua adalah jet lag. Melintasi zona waktu yang berbeda dalam waktu singkat dapat mengganggu jam biologis tubuh atau ritme sirkadian. "Jet lag bukan sekadar rasa kantuk, tapi bisa menyebabkan gangguan pencernaan, sakit kepala, hingga penurunan konsentrasi yang signifikan," katanya.


