Dubes RI Dian Wirengjurit: Serangan ke Iran adalah Cara Trump alihkan isu Epstein Files

By :  Widodo
Update: 2026-03-18 17:50 GMT
Indomie

Jakarta - Serangan Amerika Serikat ke Iran disebut-sebut sebagai upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengalihkan isu asusila yang melibatkan dirinya. Skandal yang ada dalam Epstein Files itu mengungkap sejumlah nama tersohor, di antaranya Trump, eks Presiden AS Bill Clinton, dan istrinya yang mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Para tokoh itu dikaitkan dengan Jeffrey Epstein, pengusaha yang terbukti menjadi pelaku perdagangan manusia dan kejahatan seksual pada anak.

Diplomat RI Dian Wirengjurit sepakat serangan AS itu adalah muslihat Trump untuk menutup-nutupi kasusnya yang sudah menjadi pembahasan di Kongres. Sangat betul. Persis sekali bahwa jelas ini (serangan AS ke Iran) adalah pengalihan isu. Isu dalam negerinya Trump itu banyak, ya. Paedofil macam dia -namanya juga orang sakit jiwa. Belum lagi masalah imigrannya, jelasnya saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 18 Maret 2026. 

Dalam sebuah kesempatan, anggota DPR AS dari Partai Demokrat Ted Lieu mengatakan nama Trump disebut berkali-kali di Epstein Files. Trump disebut memperkosa anak-anak dan mengancam membunuh mereka. Lieu menilai, pernah ikutnya Trump dalam pesta yang digelar Epstein bukanlah ketidaksengajaan. Sebab jika Epstein dinyatakan terbukti melakukan perdagangan manusia, kehadiran Trump tentu sebuah kesalahan. Pernyataan Lieu sekaligus mengkonfrontasi Jaksa Agung Pam Bondi yang dia anggap melindungi Trump.

Elshinta Peduli

Dian yang menjabat Duta Besar RI untuk Iran pada 2012-2016 ini menjelaskan, Trump juga tengah menghadapi badai politik dalam negeri. Lembaga Human Rights Watch menyebut Trump telah melakukan sejumlah tindakan yang merusak HAM yang menargetkan kebebasan berekspresi, hak imigran dan pencari suaka, juga perlindungan lingkungan. Misalnya memindahkan Kilmar Abrego Garcia ke El Salvador, dan memulangkan pencari suaka lainnya ke Panama dan Kosta Rika.

Belum lagi, kata Dian, konsumsi anggaran AS yang makin boncos setelah Trump menyerang Iran. Per pekan ini, perang AS-Iran memasuki minggu ketiga. Anggarannya AS lagi porak-poranda. Seperti perang ini, satu hari bisa menghabiskan setidaknya satu miliar dollar per hari. Drone Iran yang murah, dilawan AS dengan rudal mahal. Biarin aja, nanti habis sendiri (anggarannya), ujarnya.


Kongres AS sampai saat ini belum secara terbuka membahas serangan militer AS ke Iran. Partai Republik cenderung menghindari pembahasan, sementara Partai Demokrat terus berupaya menggelar pemungutan suara untuk memutuskan kelanjutan perang, seiring dengan peluang memakzulkan Trump dalam Pemilu Sela. Apalagi dalam serangan ini, 13 anggota militer AS tewas dan Trump belum meminta persetujuan Kongres untuk menyerang Iran.

Itulah yang akan menjatuhkan dia, antara lain karena pelanggaran hukum di negerinya sendiri. Perang belum disetujui tapi dia udah mulai main. Berarti apa? Ini bukan perangnya Amerika, tapi perangnya Trump. Yang kalau perangnya diteruskan, yang akan susah ya rakyat Amerika, ujar Dian. Kendati demikian, susah untuk memastikan Trump akan terpengaruh tekanan dalam negeri dan Kongres. Susah untuk memprediksi otak orang sakit jiwa dan tidak punya hati nurani.

Dian Wirengjurit: Omong Kosong Kalau Prabowo Bisa Menengahi Konflik AS-Iran

Duta Besar RI untuk Iran pada 2012-2016 Dian Wirengjurit sangsi Presiden Prabowo berhasil menjadi mediator konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Untuk menjadi penengah harus netral. Kita menyelesaikan konflik Iran dengan Saudi Arabia yang sama-sama negara muslim aja nggak sanggup. Kok mau gagah-gagahan menyelesaikan konflik Iran-Israel. Omong kosong, itu, jelasnya kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 18 Maret 2026.

Dian mengatakan, tidak ada negara yang meminta agar Indonesia menjadi penengah AS/Israel dengan Iran. Sementara negara di Timur Tengah lain seperti Turki atau Mesir sudah berperan mendamaikan karena punya hubungan baik dengan Israel, AS, maupun Iran. Percaya deh, nggak usah memaksakan diri. Lebih baik benahi masalah di dalam negeri saja. Bayarkan gaji guru honorer. Karena kalau sekadar niat baik, nenek-nenek juga bisa.

Sikap netral Indonesia dalam kasus ini sendiri dipertanyakan banyak pihak. Di antaranya terkait bergabungnya Indonesia ke Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza yang diprakarsai Trump, pada Januari 2026. Tak hanya itu, ketika pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal karena serangan Israel-AS, Prabowo tidak langsung mengirimkan ucapan bela sungkawa. Prabowo baru mengirim ucapan duka lewat Menlu RI Sugiono, setelah dikritik bersikap dingin pada negara sahabat.

Menurut Dian, Indonesia harus menunjukkan diri dulu sebagai negara yang beres urusan dalam negerinya untuk bisa dipercaya mengurus perdamaian negara lain. Harus tahu diri apa kita mampu. Kalau dalam negeri kita beres, negara lain akan meminta tolong kita untuk menyelesaikan masalah, bukan kitanya yang menawarkan diri, ujarnya. Jika pun dulu Indonesia lewat Presiden Soeharto bisa ikut meredakan konflik dunia, itu karena ia dianggap berhasil dengan swasembada pangannya. Dulu kita salah satu macan Asia. Tapi sekarang kucing ompong kali kita.

Pun keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BoP dan rencana mengirim pasukan perdamaian ke Gaza, Palestina, dianggap Dian tidak perlu. Pengiriman ke Gaza segala macam butuh (anggaran) berapa puluh triliun lagi, tuh? Untuk mengirim tentara, melatihnya, siap di sana, bawa tank, segala macam, emangnya gampang? kata Dian. Belakangan, ide Presiden Prabowo ini ditunda. Badan Komunikasi Pemerintah menyatakan penundaan itu terkait eskalasi konflik di Timur Tengah. ( Dd)

Elshinta Peduli

Similar News