Industri padat karya disebut masih butuh perhatian khusus
Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai bahwa meski industri pengolahan Indonesia mencatat pertumbuhan impresif pada 2025, sektor padat karya masih menghadapi tekanan besar dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah.
Ilustrasi - Salah satu industri pengolahan biji besi di Pulau Sebuku yang merupakan pelanggan Industri PLN UID Kalselteng, di Kotabaru, beberapa waktu lalu. (ANTARA/HO-PLN UID Kalselteng).
Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai bahwa meski industri pengolahan Indonesia mencatat pertumbuhan impresif pada 2025, sektor padat karya masih menghadapi tekanan besar dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, dalam siaran pers di Jakarta, Minggu, menyoroti ketimpangan antar subsektor.
Ia menyebut, adanya sunrise industry yang tumbuh pesat, seperti logam dasar dan mesin, namun sunset industry seperti tekstil, pakaian jadi, kayu, serta karet dan plastik justru tertinggal. Industri karet dan plastik bahkan mengalami kontraksi sebesar 4,07 persen pada 2025.
Menurutnya, kondisi ini patut diwaspadai karena sektor padat karya merupakan penyerap tenaga kerja signifikan.
“Sektor-sektor sunset ini membutuhkan perhatian khusus karena mereka adalah penyerap tenaga kerja besar. Perannya mulai tergerus oleh perubahan rantai pasok global dan persaingan biaya produksi,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total pekerja di sektor industri pengolahan mencapai 20,3 juta orang pada Agustus 2025, atau berkontribusi 13,86 persen terhadap total tenaga kerja nasional. Jumlah tersebut tumbuh 1,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi investasi, realisasi di sektor industri pengolahan mencapai Rp780,9 triliun pada 2025, naik dari Rp721,3 triliun pada 2024.
Namun, kontribusi terhadap total investasi nasional justru turun dari 42,08 persen pada 2024 menjadi 40,44 persen pada 2025.
Menurut Christiantoko, penurunan ini dipicu oleh stagnasi penanaman modal asing (PMA) di tengah penguatan investasi domestik (PMDN).
Christiantoko menekankan perlunya kebijakan reindustrialisasi yang menyasar revitalisasi sektor padat karya, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta pemerataan distribusi investasi agar pertumbuhan industri benar-benar inklusif dan berkelanjutan.
BPS mencatat industri pengolahan tumbuh 5,30 persen secara tahunan pada 2025. Industri logam dasar menjadi primadona dengan pertumbuhan mencapai 15,71 persen, sementara industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan 13,98 persen.
Subsektor lain yang menunjukkan performa stabil adalah industri kimia, farmasi, obat tradisional, serta industri barang logam, elektronik, dan peralatan listrik.


