Ingat HUT ke-18 Gerindra, Megawati utus Hasto kirim karangan bunga ucapan selamat
JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Prof. Dr. (H.C.) Megawati Soekarnoputri mengirimkan karangan bunga ucapan selamat atas Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra yang jatuh pada Jumat (6/2/2026). Ucapan tersebut dikirim atas nama Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan dirinya dihubungi langsung oleh Megawati pada Jumat siang untuk menyampaikan pesan agar partai mengirimkan ucapan selamat kepada Gerindra.
“Tadi saya ditelepon oleh Ibu Megawati Soekarnoputri yang menyampaikan pesan beliau, karena hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Partai Gerindra yang ke-18. Maka, kami mengucapkan selamat ulang tahun kepada Gerindra. Beliau mengirimkan bunga ke Partai Gerindra atas nama DPP PDIP,” kata Hasto saat ditemui usai acara peluncuran jersey Soekarno Run di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Jumat sore.
Hasto menjelaskan, karangan bunga tersebut dikirimkan saat dirinya tengah menjalani agenda partai lainnya.
“Papan bunga tadi dikirim sekitar jam 15.00 WIB, saat kami sedang mengadakan diskusi tentang Sistem Kaderisasi Nasional PDIP di Sekolah Partai, Lenteng Agung,” ujarnya.
Menurut Hasto, pengiriman bunga ucapan tersebut merupakan bagian dari tradisi kepartaian sekaligus mencerminkan hubungan persahabatan antara Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto yang juga Ketua Umum Partai Gerindra.
“Ketika Ibu Megawati ulang tahun, beliau juga menerima ucapan dari Bapak Presiden Prabowo. Ini merupakan suatu tradisi dan persahabatan antara Presiden Prabowo dan Ibu Megawati Soekarnoputri,” tambah alumnus Universitas Pertahanan (Unhan) tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Hasto juga menanggapi pertanyaan wartawan terkait isu bergabungnya Indonesia dalam inisiatif Board of Peace (BOP) yang menuai kritik dari sejumlah kalangan, termasuk aktivis HAM. Ia menegaskan pentingnya konsistensi Indonesia pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.
“Kita harus mempertanyakan kredibilitas dari Presiden Trump. Karena kita melihat aksi terhadap Irak, Suriah, dan intervensi di Venezuela tidak terlepas dari posisi superpower Amerika Serikat,” tegas Hasto.
Ia menilai, jika Presiden pertama RI Soekarno masih hidup, Indonesia akan menempuh pendekatan berbeda dengan menggalang kekuatan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
“Konflik Palestina-Israel itu, melalui kepemimpinan kita, harus didorong untuk duduk bersama dengan menggalang bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Itu jika menggunakan teori dari pemikiran geopolitik Soekarno,” ujarnya.
Terkait desakan agar Indonesia keluar dari BOP, Hasto menyatakan PDIP masih melakukan kajian mendalam terhadap substansi perjanjian tersebut.
“Kami melakukan kajian secara mendalam. Resolusi konflik tanpa melibatkan Palestina juga akan sia-sia,” pungkas Hasto. (Rizky Rian Saputra)


