Kementerian Ekonomi Kreatif dukung penguatan ekosistem seni rupa

Update: 2026-03-12 06:00 GMT

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menerima audiensi perwakilan komunitas seni ARTPORA di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif di Jakarta, Rabu (11/3/2026) (ANTARA/HO Kementerian Ekonomi Kreatif)

Indomie

Kementerian Ekonomi Kreatif mendukung penguatan ekosistem seni rupa nasional, termasuk upaya untuk membuka ruang yang lebih luas bagi para perempuan perupa.

Menurut siaran pers kementerian yang dikonfirmasi pada Kamis, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar dan perwakilan komunitas seni ARTPORA membahas rencana penyelenggaraan pameran seni rupa yang berfokus pada karya perupa perempuan dalam pertemuan yang dilaksanakan di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif di Jakarta pada Rabu (11/3).

ARTPORA, wadah kolektif bagi seniman Jakarta yang berupaya memperkuat identitas kota melalui praktik seni rupa, berinisiatif mengadakan Biennale MARWAH untuk menghadirkan ruang dialog kreatif bagi para perempuan perupa.

"Saya senang dengan spiritual aspect yang terdapat dalam konsep Biennale MARWAH. Arti 'Marwah' dalam Bahasa Indonesia seperti ada sentuhan spiritualisme-nya, ada sentuhan Indonesia-nya, ada sentuhan authenticity-nya dan expression-nya dari para wanita ini," kata Irene.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "marwah" merupakan bentuk tidak baku dari "muruah", nomina yang berarti kehormatan diri, harga diri, nama baik. Biennale MARWAH akan menghadirkan karya-karya seniman perempuan Indonesia yang menyoroti isu identitas, kesetaraan, dan keberanian dalam menyuarakan pengalaman hidup melalui medium seni.

Pameran bertema "Reposisi" yang rencananya dilaksanakan dari 21 Agustus sampai 4 September 2026 di Pos Bloc Jakarta​​​​​ itu akan menampilkan karya sekitar 50 seniman perempuan. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif menyebut pameran tersebut memadukan nilai spiritual, identitas kebudayaan, serta ekspresi personal para seniman.​​​​​​​

Elshinta Peduli

Seniman Dolorosa Sinaga selaku kurator pameran menjelaskan bahwa MARWAH tidak hanya berbicara mengenai perempuan, tetapi juga nilai kemanusiaan secara lebih luas.

"Pameran ini semacam pernyataan untuk tidak lagi menjadi pameran tahunan, tetapi berkembang menjadi Biennale MARWAH, yakni biennale karya perempuan yang mungkin menjadi salah satu yang pertama di dunia," kata pematung ternama itu.

"Tema Reposisi berarti repositioning ourselves, bagaimana perempuan di Indonesia tidak hanya melihat ke dalam pengalaman pribadi, tetapi juga membuka horizon terhadap isu sosial dan politik," ia menjelaskan.​​​​​​​

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News