Kisah nenek Mas Amah: Berjuang di usia senja demi masa depan cucu
Di usia 78 tahun, Mas Amah masih setia menjaga warung kecil di sudut rumahnya. Dengan tangan yang mulai renta, ia menata jajanan yang digantung rapi di dinding, melayani pembeli, sekaligus memastikan dapur tetap mengepul. Bagi nenek Mas Amah, aktivitas itu bukan sekadar rutinitas melainkan cara bertahan hidup demi cucunya, Rendi Pratama.
Sejak Rendi berusia lima tahun, hidup mereka berubah. Kedua orang tua Rendi meninggal dunia, meninggalkan dia dalam asuhan sang nenek. Sejak saat itu, Mas Amah menjadi satu-satunya tempat bersandar menggantikan peran orang tua, sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.
Kini, Rendi telah duduk di bangku kelas 3 SMP. Setiap hari ia berangkat sekolah dengan satu harapan yang sama, masa depan yang lebih baik. Di balik itu, ada sosok Nenek Mas Amah yang tak pernah berhenti berjuang. Di warung kecilnya, ia tak hanya menjual jajanan, tetapi juga kebutuhan pokok seperti beras dan telur yang ditata sederhana di rak kayu, menjadi sumber penghidupan mereka sehari-hari.
Upaya tersebut kini mendapat dukungan melalui layanan rehabilitasi sosial bagi lansia dari Sentra Wyata Guna Bandung, UPT Kementerian Sosial. Melalui bantuan kewirausahaan, Nenek Mas Amah memperoleh penguatan usaha agar tetap produktif dan mandiri di usia senja.
Rehabilitasi sosial bagi lansia tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pada penguatan keberfungsian sosial agar lansia tetap berdaya, memiliki peran dalam keluarga, serta tidak terpinggirkan. Dalam keseharian Nenek Mas Amah, hal itu tercermin dari kemampuannya menjaga usaha kecil sekaligus merawat cucunya.
“Alhamdulillah, dengan bantuan ini saya bisa usaha lagi. Mudah-mudahan cukup untuk kebutuhan saya dan cucu,” ujarnya.
Di balik langkah yang mulai melambat, Nenek Mas Amah terus membuktikan bahwa usia bukanlah batas untuk tetap berarti. Dari warung kecilnya, ia menjaga harapan tetap hidup bagi dirinya, dan bagi masa depan sang cucu.
Hutomo Budi/Ter

