MPR: Cap Go Meh di Singkawang adalah budaya lokal perkaya nasional

Update: 2026-03-03 06:20 GMT

Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto bersama Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono dan Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie jajaran pejabat menghadiri Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Selasa (3/3/2026). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Indomie

Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto mengatakan bahwa Festival Cap Go Meh 2026 yang digelar di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, adalah budaya lokal yang mampu memperkaya identitas nasional, yang menjadi wujud dari narasi toleransi. Dia mengatakan narasi kebangsaan bukanlah keseragaman, tetapi keberagaman. Dari Singkawang, menurut dia, seluruh pihak perlu belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan harus menjadi energi untuk bersatu.

"Mari kita kirimkan pesan kepada dunia, bahwa Indonesia berdiri teguh sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, toleransi dan persaudaraan," kata Bambang saat menyampaikan pidato Ketua MPR RI dalam acara Festival Cap Go Meh 2026 di depan Kantor Wali Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Selasa.

Sebagai lembaga negara yang bertugas membumikan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945, dia menyampaikan bahwa MPR RI akan terus berkomitmen untuk menjaga harmoni kebangsaan.

MPR RI, kata dia, hadir dalam dinamika kebangsaan sebagai rumah besar dialog umat dalam merawat persatuan, menguatkan toleransi, dan memastikan setiap anak bangsa memiliki kedudukan setara di hadapan konstitusi, tanpa memandang suku, agama, dan ras.

Pria yang akrab disapa Bambang Pacul itu mengatakan, sejarah mencatat bahwa masyarakat Tionghoa memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia dalam bidang perdagangan, pendidikan kesehatan, hingga perjuangan kemerdekaan. Di sisi lain, dia mengatakan bahwa bangsa juga tidak boleh melupakan dinamika sejarah yang menghadirkan luka dan tantangan. Namun, menurut dia, bangsa Indonesia sudah belajar bahwa kebhinekaan pada akhirnya adalah sumber kekuatan.

Elshinta Peduli

"Kontribusi masyarakat Tionghoa tidak terpisahkan dari narasi kebangsaan kita," katanya.

Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa Kota Singkawang dikenal sebagai kota seribu kelenteng karena menjadi salah satu tujuan merantau masyarakat Tionghoa, yang hidup dinamis sejak abad ke-18.

"Bersama masyarakat Melayu, dan Dayak, melahirkan harmoni multi kultural yang kita saksikan hingga hari ini," kata dia.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News