Outlook Politik 2026: BRIN sebut Perang Dunia III masih sebatas kekhawatiran psikologis
Ilustrasi Tim Radio Elshinta
Elshinta.com - Peneliti Politik BRIN, Wasisto Raharjo Jati mengatakan isu Perang Dunia Ketiga belum mencerminkan kondisi perang dunia yang sebenarnya. Menurutnya, kekhawatiran itu lebih dipicu rasa cemas masyarakat terhadap banyaknya konflik internasional.
"Konteks Perang Dunia Ketiga itu lebih pada refleksi psikologis, karena pada dasarnya konflik-konflik yang ada sekarang ini itu terlokalisir di kawasan regional masing-masing,” kata Wasisto, dalam wawancara Radio Elshinta Edisi Pagi, Kamis (8/1/2026).
Wasisto menjelaskan konflik yang terjadi saat ini masih terbatas di wilayah tertentu. Konflik tersebut belum menyebar dan saling terhubung menjadi perang global.
Ia menyebut sejumlah konflik besar masih berlangsung terpisah di kawasan masing-masing. Konflik itu antara lain terjadi di Eropa Timur, Amerika Latin, dan Afrika.
“Misalnya tadi disebutkan di konflik Rusia Ukraina kemudian konflik Venezuela Amerika Serikat maupun juga yang terbaru ada konflik di Afrika,” kata Wasisto.
Wasisto menilai perubahan arah kebijakan Amerika Serikat ikut memengaruhi situasi dunia. Kebijakan itu dinilai membuat keseimbangan global menjadi terganggu.
Ia mengatakan dunia kini tidak lagi dikuasai satu kekuatan besar saja. Banyak negara dan kelompok negara mulai berani bersikap menantang.
“Ini memicu adanya reaksi dari blok-blok lain misalnya BRICS atau mungkin negara-negara global south,” kata Wasisto.
Menurutnya, ancaman konflik dunia baru akan muncul jika perang di satu kawasan meluas ke kawasan lain. Selama belum terjadi perluasan itu, konflik masih bersifat terbatas.
“Kalau misalnya konflik ini sudah merambah atau mungkin meluas ekspansinya ke region lain ya itu bisa membutuhkan tanda-tanda,” ujarnya.
Ia menegaskan kondisi saat ini belum menunjukkan arah menuju perang dunia. Situasi global masih merupakan gambaran dari konflik kawasan yang berdiri sendiri.
Sementara itu, Pakar Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman Agus Haryanto menilai kondisi global membuat kepercayaan pada aturan dunia melemah. Banyak pihak mempertanyakan apakah negara-negara masih mau mematuhi aturan bersama.
Agus menyebut pelanggaran aturan oleh negara kuat menimbulkan kekhawatiran baru. Situasi ini memicu rasa takut akan konflik yang lebih besar.
“Aturan yang dibuat ternyata dilanggar nah itu yang terjadi nah ini menimbulkan kekhawatiran,” ujarnya.
Agus juga mengingatkan tindakan sepihak bisa ditiru negara kuat lain. Hal itu berpotensi memperbesar konflik antarnegara.
“Saya mengkhawatirkan itu nanti akan mengarah ke tindakan-tindakan ini ditiru oleh negara-negara kuat yang lain,” katanya.
Agus menilai kondisi tersebut membuat dunia berada dalam situasi rawan. Namun, kawasan Asia Tenggara dinilai masih relatif aman dari konflik terbuka.
Penulis: Steffi Anastasia/Mgg/Rama


