Saat bencana bukan sekadar breaking news, Tim Elshinta Peduli
Di usia 26 tahun, Elshinta News and Talk terus memaknai jurnalisme bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi juga menggerakkan kepedulian dan aksi kemanusiaan.
Foto: Tim Elshinta Peduli
Ruang redaksi Radio Elshinta siang itu mendadak riuh. Grup WhatsApp bergerak cepat, notifikasi berdenting tanpa henti.
Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022) siang, tepat pukul 13.21 WIB. Getarannya terasa hingga Jakarta.
Dalam hitungan menit, laporan awal masuk silih berganti. Gempa bermagnitudo 5,6 itu kemudian tercatat sebagai salah satu bencana dengan dampak terberat di Jawa Barat.
Di tengah hiruk-pikuk redaksi, satu pertanyaan utama muncul, seberapa parah dampaknya?
Kontributor terdekat langsung ditugaskan. Siaran langsung disiapkan. Tim redaksi memburu narasumber untuk memastikan informasi. Laporan diverifikasi silang.
Bagi Radio Elshinta, ini adalah momen breaking news. Namun bagi satu tim lain, ini adalah panggilan untuk bergerak.
Di sanalah Tim Elshinta Peduli Kemanusiaan mengambil peran.
Gempa Cianjur belakangan tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan dalam satu dekade terakhir. Pemerintah mengonfirmasi jumlah korban jiwa mencapai sekitar 600 orang. Lebih dari 56 ribu rumah rusak, sebagian rata dengan tanah. Infrastruktur publik ikut lumpuh.
Langit Cianjur sudah gelap ketika sebuah mobil berpelat Jakarta dengan stiker bertuliskan Elshinta Peduli Kemanusiaan memasuki kawasan terdampak. Jalanan padat. Listrik di sejumlah titik padam. Warga masih berkerumun di luar rumah.
Di tengah suasana itu, Remon turun dari kendaraan, menenteng tas berisi logistik bantuan.
“Listrik padam total. Ambulans hilir mudik. Suara sirine tidak berhenti,” ujar Remon, beberapa waktu lalu.
“Di depan RSUD Cianjur, korban membutuhkan bantuan karena bangunan rumah sakit terdampak dan tidak aman digunakan,” kisah remon.
Di kantor Elshinta, Jalan Joglo Raya, Jakarta Barat, saat gempa terjadi, Remon tidak terlibat dalam liputan awal. Ia bersiaga sebagai bagian dari Tim Elshinta Peduli.
Keputusan untuk bergerak baru diambil setelah redaksi memastikan bahwa gempa tersebut berpotensi membutuhkan respons kemanusiaan luas. Keputusan redaksi berdasarkan laporan kontributor juga keterangan warga di lokasi yang memberikan kesaksiannya yang disiarkan on air.
“Informasi awal selalu dari redaksi. Saya tidak berangkat sebelum ada kepastian bahwa ini memang bencana besar dan butuh bantuan banyak pihak,” kata Remon, yang menjabat Ketua Harian Elshinta Peduli Kemanusiaan.
Dua Jalur yang Jelas
Di usia ke-26 Program Elshinta News and Talk, pola kerja semacam ini bukan hal baru.
Dalam konteks bencana, Elshinta menerapkan dua jalur yang berjalan beriringan, peliputan jurnalistik dan respons kemanusiaan. Masing-masing memiliki fungsi dan tanggung jawab yang jelas.
Tim redaksi bertugas memastikan akurasi informasi. Reporter dan kontributor terdekat dikerahkan ke lokasi untuk memverifikasi kejadian dan menyampaikan laporan langsung kepada pendengar.
Sementara itu, Tim Elshinta Peduli bergerak setelah redaksi memetakan situasi dan memberikan rekomendasi.
“Kami juga terus memantau laporan dari relawan, aparat, BNPB, Basarnas, dan sumber resmi lainnya,” kata Remon.
Sekitar pukul 15.00 WIB, satu setengah jam setelah gempa pertama, Remon berangkat dari Kantor Elshinta bersama seorang reporter. Logistik bantuan disiapkan.
Ia berkoordinasi dengan kontributor Elshinta di Cianjur untuk memastikan kebutuhan paling mendesak bagi para korban. Saat tiba di lokasi, malam telah turun.
Di lapangan, Remon bertugas sebagai petugas kemanusiaan, mengantarkan bantuan dan memetakan kebutuhan warga, sembari tetap menyampaikan laporan ke udara berkat latar belakang jurnalistiknya.
Remon melaporkan langsung dari lokasi melalui Radio Elshinta 90 FM. Laporan itu bukan sekadar breaking news, melainkan pembaruan kerja kemanusiaan, bantuan apa yang dibawa, kepada siapa disalurkan, dan kondisi warga di pengungsian.
Ia menjadi kepanjangan tangan pendengar yang menyumbang dana dan ingin mengetahui dampaknya.
“Saya melaporkan apa yang kami lakukan sebagai Tim Elshinta Peduli,” ujarnya.
“Tapi peristiwa di lapangan juga tetap saya ceritakan sesuai kaidah jurnalistik,” tambah dia.
“Kadang saat on air, saya harus menahan tangis, melihat korban dan kehilangan, tapi di sisi lain kami harus tetap profesional. Jangan sampai tangis pecah dan justru membuat pendengar semakin panik,” lanjutnya.
Kerja Tim di Tengah Krisis
Di lapangan, satu tim biasanya terdiri dari dua orang, satu petugas kemanusiaan dan satu reporter. Dalam kondisi tertentu, mereka dibantu kontributor Elshinta yang ada paling dekat dengan lokasi bencana.
Jika tenaga masih kurang, relawan lokal, aparat pemerintah, bahkan warga sekitar sering ikut membantu tanpa diminta, terutama saat distribusi bantuan.
“Di lapangan, tidak ada ego institusi,” ujar Remon.
“Posisi dan asal organisasi tidak penting. Semua fokus menyelamatkan nyawa manusia,” tandasnya.
Bantuan di Cianjur berasal dari sumbangan pendengar melalui radio dan media sosial. Dana dialokasikan untuk kebutuhan paling mendesak, logistik, perlengkapan bayi, selimut, dan kebutuhan darurat lainnya.
Menurut Remon, tantangan terbesar bukan hanya medan dan akses, tetapi memastikan bantuan tepat sasaran di tengah situasi yang terus berubah.
“Kami harus cepat, tapi tidak boleh sembarangan,” katanya.
Lebih dari Sekadar Melaporkan
Bagi Elshinta, bencana tidak berhenti sebagai peristiwa yang dilaporkan. Sejak Program Elshinta News and Talk pertama kali mengudara pada 14 Februari 2000, laporan langsung menjadi tulang punggung siaran.
Namun dalam banyak peristiwa besar, laporan itu kerap berlanjut menjadi aksi kemanusiaan.
Pola ini juga diterapkan dalam berbagai bencana sebelumnya, dari gempa Yogyakarta 2010, gempa Palu 2018, hingga banjir dan longsor di Sumatra pada akhir 2025. Tim Elshinta Peduli turun mengambil peran.
Respons tersebut tidak selalu muncul di hari pertama, tetapi lahir dari pembacaan redaksi terhadap kebutuhan publik dan pendengar.
Dalam kasus Cianjur, skala kerusakan dan jumlah korban membuat keputusan bergerak tak terelakkan. Puluhan ribu rumah runtuh. Ratusan nyawa melayang. Luka yang ditinggalkan jauh melampaui durasi siaran berita.
Di lapangan, Remon menyaksikan dampaknya secara langsung. Warga tidur di tenda darurat. Anak-anak kehilangan ruang bermain. Banyak keluarga belum tahu kapan bisa kembali ke rumah.
“Begitu kami tiba membawa logistik, makanan siap saji, selimut, tenda, warga langsung menangis,” ujar Remon.
“Mereka lapar, kedinginan, dan saat itu belum ada bantuan lain yang masuk,” kisahnya.
Selain logistik, Elshinta Peduli juga rutin melakukan trauma healing bagi anak-anak korban bencana.
Seperti saat bencana erupsi Gunung Merapi 2010, saat itu tim bekerja sama dengan mahasiswa Fakultas Psikologi di Yogyakarta dan Solo. Berbagai aktivitas dilakukan, mulai dari bermain bersama, membaca buku, hingga menghadirkan badut untuk mengembalikan keceriaan anak-anak.
Di Cianjur, pendekatan serupa dilakukan. Anak-anak menjadi kelompok yang paling menggetarkan hati.
Remon juga kerap mengajak mereka berbincang untuk mengalihkan trauma.
“Saya tanya cita-citanya mau jadi apa,” katanya sambil tersenyum.
“Ada yang mau jadi polisi, tentara, atau wartawan seperti saya.”
Ia bercerita tentang profesi jurnalis, tentang bertemu banyak orang dan berkeliling Indonesia.
“Itu momen yang tidak akan saya lupa,” kenang Remon.
Radio, Pendengar, dan Amanat Kemanusiaan
Dana yang disalurkan Elshinta Peduli adalah amanat pendengar. Mereka tidak hanya menyumbang, tetapi juga memantau penyalurannya.
Karena itu, setiap langkah dipertanggungjawabkan. Tim berkoordinasi dengan Kementerian Sosial (Kemensos) terkait jumlah dana, penggunaan, dan penyalurannya.
Laporan juga disampaikan secara terbuka kepada pendengar melalui siaran on air. Transparansi menjadi bagian dari kerja kemanusiaan tim.
Di sinilah peran laporan Remon menjadi penting, bukan sebagai jurnalis yang mengejar kutipan, melainkan sebagai saksi dari kerja kemanusiaan.
26 Tahun Elshinta News and Talk
Di usia 26 tahun, Elshinta News and Talk terus menjaga karakter itu. Radio hadir bukan hanya saat peristiwa terjadi, tetapi juga ketika publik membutuhkan jembatan antara empati dan aksi nyata.
Bagi redaksi, bencana hadir sebagai breaking news. Bagi tim di lapangan, berita berakhir saat aksi kemanusiaan dimulai.
Rama/Nandang


