Saat Code Red diaktifkan: Menit-menit paling tegang di Radio Elshinta

Menyimak momen Code Red di HUT ke-26 Elshinta News and Talk

Update: 2026-02-13 00:00 GMT

Suwiryo

Elshinta Peduli

Suara penyiar tetap tenang. Padahal di balik mikrofon, jantung berdebar.

Suwiryo, penyiar senior Radio Elshinta, masih ingat jelas sensasi itu. Informasi datang berkejaran dari menit ke menit, telepon redaksi terus berdering, tim bergerak cepat mengejar narasumber, reporter memburu TKP.

"Kadang saya cuma punya beberapa detik untuk memutuskan, mana info yang aman disiarkan, mana yang harus ditahan dulu," kata Suwiryo. "Rasanya seperti menyeimbangkan gelas di atas tali, satu kesalahan bisa membuat semuanya tumpah," ujarnya.

Di studio, memang tidak ada lampu merah. Code Red hanyalah sandi yang membuat seluruh tim bergerak dalam ritme berbeda. Saat breaking news terjadi, yang pertama muncul di benak Suwiryo selalu sama, bagaimana kondisi korban?

Bagi pendengar yang setiap pagi menemani sarapan dengan suara Elshinta, atau mendengarkan diskusi interaktif di mobil, mungkin tak terbayangkan apa yang terjadi di balik kalimat tenang itu, keputusan detik-detik, tekanan mental berbeda tiap jenis siaran, dan bagaimana penyiar menjaga rasa tanpa kehilangan akurasi.

Dua dunia yang berbeda

Siaran reguler dan breaking news ibarat dua dunia berbeda. Dalam siaran biasa, semua terencana, rapat redaksi pagi menentukan tema dan narasumber, program Info dari Anda memberi ruang partisipasi pendengar. Protokol jelas dijalankan.

Saat breaking news datang, semua itu runtuh. Tinggal insting, pelatihan bertahun-tahun, pengalaman panjang, dan prinsip yang selalu dipegang, jangan sembrono dengan informasi yang menyangkut nyawa manusia.

Elshinta Peduli

"Saat itu, adrenalin meningkat, tapi saya harus terdengar tenang. Pendengar tidak boleh panik karena kata-kata saya," kata Suwiryo.

Anatomi Code Red

Ketika Code Red diaktifkan, Elshinta berubah menjadi mesin berita presisi tinggi. Produser berburu narasumber untuk konfirmasi. Penyiar menyiapkan mental untuk menyampaikan informasi hati-hati, memilih kata dengan cermat, reporter mencari di garis depan mencari saksi kunci. Di ujung sana, ada keluarga korban yang cemas.

Tim Listener Service memastikan semua jalur komunikasi terbuka, telepon, WhatsApp, media sosial. Semua tahu perannya, tidak ada yang menganggur.

Menariknya, Elshinta membuka pintu partisipasi pendengar. Program Info Pendengar, biasanya untuk melaporkan kemacetan, berubah menjadi jaringan citizen journalism. Mereka di lokasi adalah narasumber A1, kadang lebih cepat dan akurat daripada pejabat yang memberi keterangan dari kantor.

"Kadang info dari pendengar lebih cepat sampai ke kami. Tapi tugas saya menilai mana yang bisa dipercaya, mana perlu diverifikasi dulu," ujar Suwiryo.

Menit-Menit Paling Tegang

Bayangkan siaran langsung, telepon redaksi berdering tanpa henti, produser memberi kode dari balik kaca, narasumber dari BNPB standby di line telepon, WhatsApp masuk bertubi-tubi. Beberapa pendengar panik mencari kabar keluarga.

Di tengah kekacauan itu, penyiar harus terdengar tenang, memilah info mana sudah diverifikasi, mana rumor. Menjaga empati tanpa membuat siaran emosional. Netral tapi tetap berpihak pada kepentingan publik.

"Suatu kali ada telepon dari ibu-ibu yang cemas soal anaknya. Saya harus bicara lembut, tapi tetap memastikan info yang saya sampaikan benar," kenang Suwiryo.

Keputusan dalam hitungan detik

Penyiar sering harus mengambil keputusan sendiri, tanpa konsultasi produser, terutama saat interaksi langsung dengan pendengar.

Pendengar kadang terlalu bersemangat, melebar ke mana-mana. Ada juga yang punya afiliasi politik, mencoba mempengaruhi narasi diskusi. Dalam situasi itu, Suwiryo harus bertindak cepat, meluruskan, bahkan memutus sambungan telepon bila perlu.

Risikonya? Pendengar bisa marah, kecewa, merasa penyiar tidak adil. Tapi bagi Suwiryo, menjaga radio agar tidak menjadi alat propaganda jauh lebih penting.

"Elshinta dari dulu selalu berdiri di tengah. Kami hanya berpihak pada kepentingan masyarakat, bukan kelompok politik mana pun," tegasnya.

26 tahun: Dari radio ke multiplatform

Tahun ini, Elshinta News and Talk merayakan 26 tahun. Dua setengah dekade bukan waktu singkat untuk radio berita di tengah gempuran media digital.

Bagi Suwiryo, angka 26 bukan sekadar tonggak. Itu saksi evolusi cara orang mengonsumsi berita, dari era radio sebagai satu-satunya sumber real-time, hingga kini saat informasi bertebaran di genggaman tangan.

"Ini tantangan baru. Penyiar sekarang harus adaptif, tidak hanya di radio, tapi juga live di TikTok, YouTube, Instagram. Tatapan, artikulasi, sikap, semua menunjukkan empati yang dulu hanya terdengar lewat suara," ujar Suwiryo.

Theater of Mind -teater imajinasi- itulah kekuatan radio paling fundamental. Di era visual ini, suara yang jernih dan terpercaya menjadi semakin langka. Di tengah banjir informasi dan hoax, penyiar seperti Elshinta makin krusial, sebagai filter, verifikator, dan kompas.

"Kepercayaan dibangun hari demi hari, siaran demi siaran, keputusan demi keputusan. Tidak ada shortcut," kata Suwiryo.

Epilog: Suara yang bisa dipercaya

Setiap kali mendengar suara penyiar Elshinta, ingatlah di balik suara tenang itu ada proses kompleks, keputusan detik-detik, tekanan mental berbeda tiap siaran, Code Red bisa menyala kapan saja.

"Kita tidak ingin pendengar panik, tapi tetap menyajikan info akurat," tutup Suwiryo.

Bagi Suwiryo, mikrofon bukan sekadar alat menyiarkan suara, tapi tanggung jawab. Antara informasi dan masyarakat, kebenaran dan ketenangan, kecepatan dan akurasi.

Meski teknologi berubah, live streaming hadir di TikTok, YouTube, Instagram, esensi Radio Elshinta tetap sama, suara yang bisa dipercaya, terutama di momen paling kritis.

Rama/Nandang

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News